Orangutan Kalimantan di National Geographic

Kemarin pagi nganter D2 ke dentist. Di ruang tunggu, disediakan beragam bacaan bagi pasien dan kerabat yang mengantarnya. Iseng baca salah satu majalah, National Geographic [NG] edisi Desember 2016.

Tema utama NG bulan itu adalah orangutan di Taman Nasional Gunung Palung, Kalimantan Barat. Artikel dibuka tentang kisah suka duka ilmuwan Cheryl Knott yang meneliti kehidupan orangutan di pedalaman Borneo. Dikisahkan pula orangutan yang kian langka, bayi-bayi orangutan yang sering diperjualbelikan di pasar gelap, hingga pengalihan hutan hujan tropis menjadi perkebunan kelapa sawit yang berperan besar menjadi penyebab utama punahnya orangutan. Selain itu, NG edisi tersebut juga mengangkat upaya pelestarian orangutan di Indonesia

Ternyata NG sangat sering menyorot orangutan Indonesia. Kenapa? Karena orangutan sudah sangat langka dan terancam punah.

Foto ini adalah foto juara the grand prize in National Geographic’s Nature Photographer of the Year contest di tahun 2017. Foto ini dipandang unik karena ekspresi objek mewakili kecemasan orangutan terhadap masa depan mereka. Orangutan yang habitatnya bergelantungan di atas pohon dan ‘membenci’ air, akhirnya sampai masuk ke air yang penuh dengan buaya untuk mempertahankan dirinya setelah hutan yang menjadi habitatnya rusak akibat perusakan hutan.

Sebetulnya, hewan Indonesia yang menuju punah bukan cuma orangutan. Selain orangutan, ada komodo, badak cula satu alias badak Jawa, gajah Sumatera, harimau Sumatera, anoa, bekantan, tarsius/singapuar, elang Jawa, burung cenderawasih, jalak Bali, kakaktua Raja, merak, babirusa, dan trenggiling. Total ada 15 satwa Indonesia yang terkategori dilindungi karena terancam punah.

National Geographic bahkan menawarkan perjalanan wisata ke Indonesia. Promosi terdepan adalah kekayaan laut Indonesia. Dimulai dari mendarat di bandara di Singapura, destinasi wisata menjelajah Indonesia yang ditawarkan di antaranya menyelam di Kepulauan Anambas, barbeque di Pulau Lintang, snorkeling, diving, menyusuri pantai di Kepulauan Badas, Riau; berlayar ke Kalimantan, ke Taman Nasional Tanjung Puting yang menjadi rumah 200 spesies burung, orangutan, beragam spesies monyet dan buaya, serta mengunjungi Camp Leakey, pusat riset primata yang didirikan oleh Dr. Birute Galdikas, salah satu founder Orangutan Foundation International (OFI).

Lanjut ke Taman Nasional Komodo di Nusa Tenggara Timur untuk nonton Komodo dan berenang di Pink Beach. Lantas ke Kepulauan Banda, Maluku Tengah, mengunjungi Bandanaira, melihat rempah-rempah incaran Belanda di era jadul, mengunjungi Benteng Belgica dan Gunung Api. Perjalanan berakhir di Raja Ampat. Bablas ke Brisbane, Aussie.

Membaca liputan National Geographic yang basisnya di Washington DC, United States, di ruang tunggu dokter gigi saya cuma bisa geleng-geleng kepala. Kagum dengan kreatifitas orang-orang di negara maju dalam memanfaatkan geografis dan keanekaragaman hayati Indonesia sebagai salah satu tambang dollarnya.

Sambil mikir, terus yang di Indonesia dapet apanya dan seberapa banyak, ya?

Colchester, 5 Juli 2018

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s