Periskop

Term (catur wulan alias cawu) ini, topik sains di kelas Year 5 (usia 9-10 tahun) adalah tentang cahaya (light). D1 dan teman-teman seangkatannya kira-kira mempelajari tentang cahaya, sifat-sifat cahaya bahwa cahaya berjalan mengikuti garis lurus, cerminan (reflection), hubungan cahaya-benda-kenapa bayangan bentuknya sama dg bendanya, cara kerja mata, cara kerja kamera, cara kerja periskop dan tokoh penemu bola lampu Sir Joseph Wilson Swan. Ehm, saya juga baru tahu kalo Swan kerja bareng Thomas Alfa Edison dan keduanya sempat bikin pabrik produsen lampu dengan merk Ediswan.

Maka gak heran jika satu kali D1 pulang bawa periskop dari karton.
“Apa ini Mas?” tanya emak.
“A periscope. But I took the mirror because they keep moving.”
Di rumah, saya melekatkan kedua bilah kaca tipis dengan selotip. Dan jadilah periskop D1.

Sejak saya belajar IPA di SD, sampai di bangku kuliah tingkat satu, baru kali ini saya membantu bikin periskop. Sebetulnya cara kerja periskop ‘sederhana’, yakni membentuk bayangan dengan melakukan pemantulan pada dua permukaan cermin datar yang dipasang atau disusun secara sejajar dan diposisikan miring agar mengarah ke pengamat, lalu pemantulan tersebut diteruskan kepada pengamat. Gitu kata blog UNS 😀

Sejak SD (atau SMP?) pun saya juga sudah tahu bahwa ‘secara teori’, cahaya yang jatuh di atas permukaan cermin datar yang miring 45* akan dipantulkan dengan sudut sebesar tegak lurus 90*. Artinya, bayangan benda yang ditangkap oleh cermin datar yang di atas, dipantulkan 90* ke cermin datar di bagian bawah. Mata kita, yang melongok ke cermin datar di bagian bawah, sebetulnya menerima bayangan benda yang dipantulkan cahaya sebesar 45* dari cermin datar yang bawah kepada mata. Aih, rumit sekali.

Pokoknya saya sudah tahu sejak dulu kalau teorinya itu begitu. Tetapi, terus terang saja, kalau hanya melihat bagan/gambar, saya sebetulnya nggak yakin bener bahwa teori itu betul. Soalnya, kedua cermin terpasang miring. Tapi, ulangan dan ujian fisika khan selalu dalam bentuk TEORI. Jadi ya tinggal dihafalkan, mana jawaban ‘yang menurut pendapat umum diterima sebagai kebenaran’. Yang penting lulus. 😀

Memegang dan melihat sendiri cara kerja periskop yang dibawa pulang D1, membuat saya SEKARANG jadi yakin bahwa teori fisika tentang cara kerja cahaya dan cermin, adalah benar. Karena itu praktik dan praktikum sebetulnya menjadi hal yang wajib dalam pelajaran sains.

Sayangnya, sepanjang saya belajar IPA dan fisika; guru fisika saya sangat jarang, bahkan hampir tidak pernah mengadakan praktikum. Saya baru betul-betul praktikum fisika, ketika sudah kuliah di kedokteran tingkat pertama. Praktikumnya langsung di lab fisika.

Memang, keyakinan jauh lebih kuat ketika kita mengindera sendiri sebuah fakta secara langsung; baik dengan melihat, mendengar, membaui, mengecap, dan/atau meraba. Jadi, kalau sekarang kaum muslimin itu teramat sangat sulit untuk yakin bahwa peradaban Islam itu pernah menjadi mercusuar dunia, bahwa daulah khilafah itu pernah eksis, bahwa Khilafah pernah menjadi negara superpower yang disegani di planet bumi, ya itu wajar saja. Lha wong kita itu sekarang sudah nggak mengindera secara langsung semua fakta tersebut. Kaum muslimin zaman now ya cuma mengetahui fakta sejarah kegemilangan peradaban Islam itu dari ‘mendengarkan yang disampaikan oleh seseorang’, atau hasil dari ‘membaca tulisan karya seseorang’, bukan mengindera langsung, bukan mengalami sendiri. Tentu saja keyakinan tidak akan sekokoh generasi Islam yang menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana hidup di bawah naungan sistem pemerintahan Islam.

Seorang kawan pernah bilang, “Umat Islam itu aneh… Sangat yakin terhadap eksistensi dinosaurus, tapi ngga percaya terhadap eksistensi daulah Khilafah sebagai pusat peradaban dunia di masanya. Padahal yang ditemukan itu cuma fosil-fosil nggak jelas, tapi sudah yakin bisa merekonstruksi ujud dinosaurus, jenis-jenisnya, cara berjalannya, jenis makanannya, sampai penyebab kepunahannya. Padahal kalaupun eksis, ya dinosaurus itu hidupnya jutaan tahun yang lalu…”

“Sementara era emas kegemilangan Khilafah, itu masih sangat jelas bukti-bukti keberadaannya. Mulai dari jejak bangunan, sampai sejarahnya, itu masih bisa dilacak dengan jelas. Dan runtuhnya Khilafah itu baru sekitar 100 tahun lalu, ngga sampai ribuan atau jutaan tahun seperti punahnya dinosaurus. Gitu aja, banyak yang sangsi bahwa Islam dan Khilafah pernah berjaya. Sangat sedikit yang yakin, lebih sedikit lagi yang memperjuangkannya…”

Merekonstruksi periskop dari karton itu gampang. Merekonstruksi dinosaurus itu sulit. Kalau merekonstruksi sebuah peradaban Islam yang gemilang dan faktanya pernah eksis, menurut kamu gimana?

Colchester, 3 Juli 2018

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s