International Week

“He was doing a very good dance today…” kata Mrs. Hand pas saya menjemput Si Anak PAUD. Sambil pasang senyum termanis, emak cuma bilang, “Thank you,” and, “Bye…”, menggandeng D4 sambil mikir kenapa dance-nya so special?

Oh ternyata sebagaimana tradisi setiap Summer Term (biasanya Juni atau Juli) PAUD dan TK-nya Krucils menyelenggarakan International Week.

Hari ini, di kelasnya D4 gurunya mengundang salah satu wali murid berkebangsaan Polandia untuk story telling secara bilingual. Bapak wali siswa membaca buku Farmer’s Duck dalam bahasa Polish, sementara Mrs Hand membacanya in English.

Setelahnya, seluruh siswa dari PAUD kecil (kelas Nursery, 3-4 tahun), PAUD besar (Reception, 4-5 tahun), TK Kecil (Year 1, 5-6 tahun) hingga TK Besar (6-7 tahun) berkumpul di aula sekolah menonton pertunjukan Break Dance dari North America.

Dulu, ketika D3 masih duduk di bangku Nursery, kegiatan International Week lebih beragam di antaranya:
– Melukis dengan motif Aboriginal Painting (Australia)
– Membuat dan makan Australian Fairy Bread
– African Drumming
– Menghadirkan salah satu wali murid untuk sharing tentang Ghana, misal pakaian tradisionalnya
– Belajar tentang Lithuania karena ada siswa yang berkebangsaan negara tersebut.
– Membuat dan makan pizza Italia
– Pertunjukan music Steel Band asal negara Trinidad & Tobago di aula sekolah
– Menghadirkan ortu siswa yang berkebangsaan India untuk bercerita tentang busana India, dan membuat lukisan motif India.
– Mengundang komunitas Cina di Colchester untuk mempertontonkan barongsai di aula sekolah…

– PR mengumpulkan foto tentang negara asal masing-masing anak.

Tahun lalu, ketika D3 duduk di bangku Reception, wali kelasnya meminta emak bercerita tentang Indonesia di depan kelas…

Bingung, mau cerita apa dan bagaimana… Ngga bisa mikir karena sudah di penghujung bulan Ramadan menjelang Idul Fitri. Tapi mau menolak juga segan. Dipikir-pikir, inilah kesempatan untuk memperkenalkan Indonesia kepada sekolah.

Pas Idul Fitri, diundang Halal bihalal komunitas Malaysia. Setelahnya, saya tanya apa boleh dekorasi ketupatnya diminta. Karena biasanya setelah acara, dekorasinya dibuang… Saya ambil 30 buah ketupat plastik utk dijadikan souvenir di sekolah.

Maka jadilah International Week dengan agenda bercerita tentang Indonesia diisi dengan:
1) Saya pakai baju batik, bawa kain2 batik, mengedarkan ke anak2 untuk dipegang untuk Memperkenalkan kain batik. Cerita sedikit tentang filosofi batik, motif2nya, dan nobar youtube proses singkat pembuatan batik.
2) Mencoba pakaian batik. Saya bawa semua baju batik anak 4 ke sekolah supaya 30 siswa semua kebagian ‘try the Indonesian costume” 😀
3) Cerita tentang ketupat sbg salah satu makanan tradisional Indonesia. Terus nobar youtube tentang proses pembuatan ketupat.
4) Makan lontong ditaburi serundeng…

Kok lontong? Hiya… soalnya ga sanggup bikin ketupat beneran… Hihihi…

5) Siswa sekelas pulang ke rumah dengan souvenir ketupat plastik sisa dekorasi lebaran 😀

Alhamdulillah dengan bahasa Inggris yang jumpalitan, agenda berjalan lancar… Pas semua lagi bergiliran nyoba baju batik, Mrs Nicholson sebagai wali kelas memfoto saya dan D3…

Trus ternyata Bu Guru sudah mengeprint kertas bergambar bendera kebangsaan Indonesia… Jadilah D3 difoto sambil pegang ketupat pink sisa dekorasi lebaran komunitas Malaysia, sambil pegang kertas berwarna merah-putih, berjejer dengan emak yang bawa nampan berisi lontong yang sudah dipotong kecil2 dan ditaburi serundeng trus ditusuk pake tusuk gigi biar ngga repot anak2 PAUD yang mau nyoba makannya…

Beberapa hari kemudian, D3 pulang bawa kartu raksasa ukuran A4… Ternyata kelasnya bikin kartu ini untuk emaknya D3…

Ah, jadi terharu…

Ya, memperkenalkan Nusantara ngga berarti saya harus pake (sari)konde dan kebaya ketat dari kain tembus pandang, berkidung, atau menari dengan gemulai. Sebagai Ibu (Muslimah) Indonesia, saya memilih untuk ‘menjadi cantik, sehat, berbudi, dan kreatif’ dan memperkenalkan ‘kecantikan asli bangsaku’ dalam balutan khimar dan jilbab.

Di era industri 4.0, rasanya sudah ngga zamannya membenturkan antara Islam dan Nusantara. yang terpenting sebetulnya adalah apa kontribusi Islam, muslim, dan Nusantara bagi peradaban manusia zaman now.

Colchester, 2 Juli 2018

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s