Menyampaikan Kebenaran (ODOP Day 99 of 99)

Ini kisah 7 tahun silam. Petang itu saya sekeluarga menghadiri acara buka bersama yang diselenggarakan di kediaman seorang sahabat keluarga. Acara direncanakan berlangsung istimewa karena dua sebab. Pertama karena sohibul bayt alias tuan rumah menyelenggarakan syukuran atas rumah barunya, dan kedua karena akan hadir ustadz dari Indonesia.

Secara rutin, Kedutaan Besar RI (KBRI) mengundang ulama yang akan memberikan siraman rohani kepada jamaah Indonesia di kota-kota di UK. Biasanya ustadz akan tinggal di UK selama Ramadan, berkeliling menyampaikan nasihat dari satu kota ke kota lain, sampai tiba hari Raya Idul Fitri ketika ustadz menjadi khatibnya.

Karena acara intinya adalah syukuran rumah baru, maka materi pengajian pun seputar bagaimana menjadikan rumah sebagai kediaman yang penuh barokah. Di sesi diskusi salah satu bapak-bapak menanyakan hukum membeli rumah secara kredit (mortgage) yang melibatkan riba.

Sebagai catatan, selama sepuluh tahun lebih tinggal di UK, saya belum pernah mendapati ada keluarga Indonesia yang membeli rumah dengan aqad syar’i yakni cash, atau mencicil tanpa bunga. Pilihan pembelian property di UK biasanya hanya disediakan 2 opsi yakni cash atau kredit dengan riba (mortgage). Karena cash sangat mahal, biasanya keluarga Indonesia membeli rumah secara mortgage. Sebetulnya penjelasan sang ustadz ngga ada yang istimewa. Beliau menyampaikan bahwa ada perbedaan pendapat di kalangan ulama terkait mortgage.

“Memang situasi dan kondisinya sekarang seperti ini,” demikian kata beliau kira-kira seinget saya, “Ada yang membolehkan mortgage, karena seperti di UK ini, kalau tidak mortgage ya selamanya tidak akan punya rumah…”
Hadirin menyimak. Ustadz melanjutkan, “Tetapi kalau di Indonesia memang ada kelompok yang ekstrem, mengharamkan kredit kepemilikan rumah… Misalnya kelompok HTI…”

Saya yang sedang menyusui Dinara, menunggu, barangkali ustadz akan menambahkan kelompok lain yang juga mengharamkan kredit kepemilikan rumah. Ternyata tidak.

Di rumah, saya tulis di facebookpendapat saya mengenai kredit kepemilikan rumah. Saya menuliskan setidaknya ada 4 poin:

Pertama, tentang keharaman riba, apa pun bentuknya. Pendapat HTI yang mengharamkan riba menurut saya bukan pendapat yang keluar dari Islam. Sehingga nggak perlu deh dikatakan ekstrem. (Btw, emang ada ulama di Indonesia yang menghalalkan riba pada kredit kepemilikan rumah (mortgage)?)

Kedua, skema riba bukan berasal dari sistem Islam, melainkan dari sistem perekonomian kapitalisme. Dalam pandangan syariah Islam, riba hukumnya berdosa. Dosa terkecil adalah ibarat menzinahi ibu kandung sendiri. Dalam prakteknya, mortgage adalah penyebab krisis ekonomi terbesar dalam 10 tahun terakhir. Saat itu saya tulis sekilas krisis ekonomi akibat macetnya kredit subprime mortgage yang dialami oleh Amerika Serikat. Bursa-bursa utama dunia mengalami goncangan dan kejatuhan harga saham setelah Bank Lehman Brothers pada hari Rabu 14 September 2008 resmi mengumumkan kebangkrutannya akibat krisis di pasar perumahan (subprime mortgage) Amerika Serikat pada Agustus 2007.

Ketiga, dalam kapasitas individu, saya pribadi memahami sulitnya punya rumah dengan cara syar’i di UK. Kalau pun dengan penuh keterpaksaan akhirnya harus melibatkan diri dengan riba, hendaknya mengakui bahwa riba tetap hal yang diharamkan dan kita melaksanakan keharaman tersebut karena keterpaksaan, bukan dengan kesukarelaan apalagi lantas mencari-cari dalih untuk membenarkan pilihan kita.

Keempat, sistem ekonomi ribawi yang diterapkan di seluruh dunia saat ini bertentangan dengan Islam. Karena itu jika kaum muslimin ingin terhindar 100 persen dari riba dan segala bentuknya (mortgage, insurance, etc) maka wajib untuk menerapkan sistem ekonomi Islam. Dan yang bisa menerapkan sistem ekonomi Islam bebas riba hanya negara Khilafah Islamiyah.

Selama memiliki utang mortgage, pengusaha antiriba Saptuari Sugiarto menyarankan 8 langkah berikut ini:
1. Bertaubat kepada Allah
2. Berazzam, yakni bertekad baja akan secepatnya melunasi utang termasuk kredit mortgage
3. Perbaikan ibadah total
4. Memilih solusi praktis:
– Amputasi, menjual aset yang dibeli dengan kredit dan langsung berusaha melunasi sisa utang,
– Rawat inap, yaitu menyelesaikan utang dengan perhatian khusus dan sungguh-sungguh diselesaikan walau tanpa menjual aset. Visi hidup bebas dari utang ditancapkan di rumah, fokus melunasi utang, dan tidak membuka utang atau kredit riba baru.
– Rawat jalan, yaitu merawat utang dengan penuh kasih sayang. Maksudnya mau menjual aset sayang, tapi dari segi kemampuan penghasilan, diperkirakan utangnya akan lunas dalam hitungan sesuai jadwal cicilan.
5. Menaikkan pendapatan
6. Tunda semua kesenangan
7. Banyak berdoa agar dilindungi dari dosa dan jeratan utang
8. Bersedekah dalam kondisi lapang dan sempit

Bulan berikutnya, pengajian dilaksanakan di mushola University of Nottingham di daerah Sutton Bonington. Berbarengan dengan perayaan Hari Idul Fitri, maka yang hadir banyak dan ramai. Acara berlangsung meriah diawali sholat dhuhur berjamaah, pengajian, makan siang, dan ditutup dengan sholat ashar berjamaah. Karena jatuh menjelang musim gugur, kami punya waktu siang agak panjang. Meski tak sepanjang kalau musim panas.

Pakne Krucils sudah memasukkan kedua balita ke mobil dan menunggu saya di mobil. Saya masih tinggal di musholla, membereskan perlengkapan masak, dan berjalan ke luar dari musholla.

Di pintu musholla, seorang mas-mas mencegat saya, “Mbak Fira, saya mau bicara sebentar…”
Saya langsung gugup. Saya melihat masnya sekilas. Lantas nunduk ngeliatin rerumputan di halaman mushola kampus. Beliau juga gugup. Kami berdua salting alias salah tingkah karena sebelumnya sama sekali tidak pernah berbicara hanya berduaan.

“Eh, saya sudah baca tulisan Mbak di facebook…” kata si Mas, “Semua yang Mbak tulis itu benar…”
Saya nggak inget apa yang saya ucapkan. Kayaknya waktu itu saya cuma bilang, “Iya, iya…” sambil mikir kayaknya saya yakin 100% nggak friend dengan si mas di facebook tapi kenapa dia bisa baca posting saya? Hihihi… Trus saya langsung kabur ke mobil bergabung dengan krucils dan bapaknya.

Beberapa bulan setelahnya, saya baru tahu, ternyata si mas tersebut beli rumah, dengan cara mortgage. Mungkin dia (sedikit/agak) tersinggung dengan tulisan saya di facebook. Tapi beneran demi Allah, saya nulisnya bukan untuk menyinggung individu. Saya nulis sekadar sharing tentang mortgage dalam perspektif Islam yang saya pahami.

Sepuluh atau dua puluh tahun lalu, ketika HTI dan para pengemban dakwah mengharamkan kredit kepemilikan rumah, mungkin masyarakat menganggap orang-orang ini sudah gila. Karena di masa itu, semua kredit kepemilikan rumah aqadnya pasti melibatkan riba. Sekarang, developer property syariah di Indonesia, bermunculan bak cendawan di musim gugur, terlepas dari beragam kualitas dan profesionalitasnya.

Di UK, beberapa bank sudah mulai membuka diri memberikan fasilitas halal mortgage. Saya pribadi belum punya pengalaman berurusan dengan halal mortgage. Sejauh ini (11 tahun) kami masih hidup dari satu rumah sewa ke rumah sewa lainnya… 😀

Maka, tetaplah menyampaikan kebenaran, meskipun harus menerima beragam tudingan yang tak menyenangkan. InsyaAllah akan tiba waktunya semua yang kita sampaikan itu terwujud dan bisa diindera secara nyata. Hingga saat itu tiba, yang dibutuhkan sebetulnya hanya satu. Yakni bersabar.

Colchester, 1 Januari 2018

Advertisements

One thought on “Menyampaikan Kebenaran (ODOP Day 99 of 99)

  1. Saya sering mendengar alasan, ““Memang situasi dan kondisinya sekarang seperti ini,” untuk alasan menyetujui sesuatu walau sebenarnya dalam hati kecil tahu kalau yang bertentangan dengan syariat itu salah walau kondisinya begini dan begitu. Semangat untuk menyampaikan kebenaran.

    DindaLC

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s