Perebut Bini Orang (ODOP Day 98 of 99)

Beberapa pekan lalu saya kebagian giliran sharing di forum online One Week One Juz (OWOJ). Karena mayoritas peserta adalah muslimah dengan status married, saya angkat tema Pelakor. Kebetulan lagi rame juga di facebook gegara Jennifer Dunn dilabrak Shafa. Untuk yang gak ngikuti gosip, ringkasnya, Shafa adalah putri sah dari perkawinan Faisal Haris dan Sarita Abdul Mukti. JennDunn adalah selingkuhan Faisal Haris.

Pelakor sebetulnya adalah bentuk lain dari selingkuh. Nah kalau bicara selingkuh, yang salah mestinya semua pihak yang berselingkuh. Baik yang perempuan maupun yang laki-laki.  Entah kenapa kok dalam perselingkuhan, selalu pihak perempuan yang dituduh merebut suami orang sementara suami seolah tidak bersalah melakukan perselingkuhan. Jadi di sini saya justru ingin cerita di posisi yang terbalik. Ketika yang selingkuh adalah istri.

Tersebutlah pasangan suami istri yang mestinya hidup bahagia. Suami adalah dosen muda yang ganteng gagah dan sedang menempuh pendidikan S3 di sebuah negara maju di Eropa. Bidang studinya menuntut suami harus banyak menghabiskan waktu di laboratorium, meninggalkan istrinya yang cantik, modis, dan gaul, dengan anak balitanya di rumah.

Sebetulnya semua normal saja bagi keluarga yang beriman dan bertakwa. Tapi perubahan terjadi sejak istri sering sakit. Ditambah tekanan akademik membuat suami sulit bersikap manis terhadap istri. Jarang di rumah, dan ketika di rumah memperlakukan istri seperti babu.

Karena tidak bisa meringankan beban istri, suami mempersilakan istri mencari bantuan sendiri. Yang terdekat, tentu saja, bantuan dari komunitas teman-teman Indonesia di kota kecil tersebut. Di awal-awal, beberapa masih menolong. Belakangan, kelihatannya si istri sebetulnya cuma perlu ditemani saja.

Hidup di Barat, semua harus serba mandiri. Ngurus urusan sendiri saja sudah repot, masa iya masih harus ngurus urusan orang lain? Nganggur banget. Begitulah akhirnya hanya seorang mas-mas student yang rutin membantu sang mamah muda.

Yang patut dicatat, meski pasangan suami-istri tersebut muslim tidak memiliki pemahaman memadai terhadap Islam, sebetulnya si mas yang bujangan tahu banyak soal agama. Bisa dikatakan, santri. Dengan latar belakang si mas yang demikian, maka warga Indonesia di kota kecil tersebut menyerahkan seluruh problem rumah tangga si mahmud ke tangan si mas bujangan. Asumsinya, yang bujangan khan yang lebih punya banyak waktu luang.

Pertolongan sang mas bujangan student S3 betul-betul total, luar dalam. Dari yang paling luar, sampai ke bagian dalam sang mahmud. Dari public space, sampai ke area paling privat yang sebetulnya hanya boleh jadi domain suami. Kejadian berikutnya terlalu mengerikan untuk saya kisahkan. Jadi mohon maaf saya skip saja.

Bersyukur sang suami berhasil menamatkan studinya. Ia memboyong istri dan anaknya kembali ke Indonesia tanpa pernah tahu bahwa istrinya pernah selingkuh. Si mas bujangan gimana? Lulus S3 juga, menikah dan sudah hidup bahagia bersama keluarganya di salah satu negara Barat.

Tapi entah bagaimana, kisah ketiganya justru terkuak pada saat para aktor sudah tidak lagi berada di kota kecil tersebut. Mungkin benar kata pepatah, serapat-rapatnya menyimpan bangkai, lama-kelamaan akan tercium juga.

“Kalau menurut Mbak, siapa yang salah?” tanya saya kepada Mbak-mbak teman saya yang menceritakan kisah tersebut.
“Ya tiga-tiganya mungkin, ya, Mbak?” jawabnya, “Suami salah karena membiarkan istri kesepian. Bagaimana pun istri juga punya hak yang harus dipenuhi suami. Tapi istri juga keliru kalau akhirnya jatuh ke dalam dekapan laki-laki lain. Nah, masnya juga kok bentuk pertolongannya akhirnya keluar jalur…”

Saya senyum simpul, “Namanya mas-mas bujangan, Mbak… Dan Si istri cantik banget, khan? Nggak berhijab, dan sexy… Saya pikir semua laki-laki normal pasti rontok ketika dihadapkan kepada mahmud sejenis itu…”
Teman saya menatap saya, mikir. Sebelum akhirnya dengan ragu-ragu berkata, “Jadi… Gimana tuh Mba?”

“Selingkuh itu khan sebetulnya zina… Cuma disebut selingkuh kalau salah satu pemainnya sudah menikah…” kata saya, “Coba kalau seperti Ariel Peter Pan dan Luna Maya, ga ada yang bilang selingkuh, meski keduanya jelas zina…”
Teman saya diam.
Saya lanjut bicara, “Dan zina itu itu bisa terjadi kalau ada laki-laki dan perempuan yang bukan mahrom berdua-duaan, tanpa ada mahrom lain dari pihak perempuan… Saya paham kita tinggal di Barat ini semuanya orang sibuk, semuanya berprinsip MYOB, Mind Your Own Business, tapi kalau saya boleh jujur, sebetulnya orang-orang Indonesia di kota Mbak juga punya andil kesalahan kenapa perselingkuhan bahkan perzinaan itu sampai terjadi…”

“Lho, kita khan ngga ngapa-ngapain, Mba?” protes teman saya.
Saya menganggukkan kepala, “Orang-orang pada tahu, khan, kalau si istri perlu teman? Dan orang-orang tahu kalau si mas yang masih lajang bukan ingin berduaan dengan si istri, tapi karena tidak ada lagi orang Indonesia lain yang bersedia meluangkan waktu untuk membantu si istri?”

Teman saya mulai berubah roman mukanya. Ia mulai mengerti jalan pikiran saya.
“Orang-orang Indonesia di situ pasti tahu kalau si mas dan si istri sering berduaan, dan mereka membiarkan itu… Ngga ada yang menegur… Kalau pakai bahasa agak keren, ngga ada kontrol sosial dari masyarakat terutama dari masyarakat muslim terdekatnya…”
“Soalnya… Soalnya masnya pinter agama…” teman saya menunduk.
Saya===> no more comment… Kalau kisah ini terjadi di zaman now, si mas bujangan bisa-bisa sudah dapet stempel pebinor alias perebut bini orang…

Sejak pertama kali menikah dan nyadar kalau salah satu kewajiban dosen adalah harus membimbing mahasiswa, dan mahasiswi, saya sudah mempertanyakan, “Kalau mahasiswi konsultasi di ruanganmu, kamu berdua-duaan dengan mahasiswimu, dong, Pak?”
Pertanyaan ini muncul karena setiap dosen punya ruangan sendiri-sendiri yang pintunya selalu tertutup rapat.

Beberapa kali saya pun mengalami rasa sungkan misalnya ketika mendapati ibu-ibu yang numpang mobil bapak-bapak untuk pergi ke kota lain dengan arah tujuan yang sama dengan alasan, “Khan tidak berduaan, karena khan bareng Mas A, dan sopirnya Pak B…”

Sistem pergaulan di dunia Islam, termasuk di Indonesia saat ini, sudah plek ketiplek dengan sistem pergaulan Barat. Kalau kita ngomong haramnya khalwat, haramnya ikhtilath, kewajiban menutup aurat, kewajiban menundukkan pandangan, maka kita akan dipandang sebagai orang ndeso yang antiglobalisasi. Belum lagi tuduhan opresif, atau ‘Islam bias gender’ yang sering diteriakkan oleh para muslimah yang tanpa sadar sudah menjadi bagian dari para penjajah dunia Islam.

Ketika aurat dibiarkan terbuka di mana-mana, khalwat dimaklumi, ikhtilath jadi tradisi, kenapa kita masih merasa aneh ketika perzinahan bahkan bisa menimpa orang yang ‘alim dalam agama?

Colchester, 31 Desember 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s