Pembunuhan Breck Bednar (ODOP Day 94 of 99)

Brecks Bednar dan Lorin LaFave

Breck Bednar sebetulnya remaja berusia 14 tahun yang biasa saja andai ia tidak ditemukan tewas mengenaskan di sebuah flat di Rosebey Lane, Grays, Essex; 17 Februari 2014. Breck sekeluarga tinggal di Surrey. Ia remaja biasa dengan cukup banyak kawan dekat dan cukup aktif dalam organisasi semacam Air Training Corps dan sering hadir di gereja. Hidup bersama ibunya yang seorang teaching assistant dengan 3 adik kembar. Ayahnya seorang raja minyak. Kedua orang tua bercerai sekitar 6 tahun sebelum Breck meninggal.

Breck kecanduan game online. Ehm, saya pribadi nggak paham bentuk game online. Yang saya tangkap, Breck punya ‘partner maya’ dalam main game. Teman virtual ini mula-mula baik-baik saja. Setelah berbulan-bulan, lama kelamaan teman virtual ini jauh lebih berpengaruh daripada ibunya sendiri.

Lorin LaFave sebagai ibu tentu saja cemas. Ia melapor ke polisi. Pihak kepolisian tidak mendapatkan bukti apa pun yang membuat mereka bisa melakukan suatu tindakan pencegahan, dan hanya menyatakan kepada Lorin bahwa remaja kecanduan main game itu biasa.

Di hari kematiannya, Breck minta izin untuk nginep di rumah temannya. Ia tak pernah muncul. Breck ditemukan tewas di flat Lewis Daynes (19 tahun) di Essex, 120 km dari Surrey.

Di hari kematian Breck, sebuah dering telepon masuk ke kantor polisi. Penelepon menyatakan, “I need police and a forensic team. Saya dan teman saya bertengkar dan saya yang hidup.” Penelepon itu adalah Lewis Daynes. Breck ditemukan dalam keadaan terikat tangan dan kakinya, dengan luka tikaman pada tenggorokan dan leher bagian belakang.

Di pagi yang sama, ketiga adik kembar Breck (saat itu 12 tahun) dan keenam kawan akrab Breck, menerima foto lewat email. Foto tubuh Breck yang sudah tewas, dikirimkan oleh Lewis Dayne.

Lorin mengatakan, “Seandainya Breck perempuan, pihak kepolisian pasti akan lebih serius menangani pengaduan saya.”

Essex geger. Semua sekolah di Essex termasuk yang di Colchester, kirim surat peringatan ke seluruh orang tua dan wali murid soal bahaya online. Mulai dari yang kelas PAUD sampai teenagers, tanpa terkecuali. Gak merasa cukup dengan itu, sekolah krucils bekerja sama dengan secondary school menyelenggarakan semacam pertemuan seluruh orang tua dengan pihak kepolisian dan organisasi semacam Childline.

Acara berlangsung 2 jam. Satu jam pertama berlalu, saya sudah ngantuk dan berkali-kali menguap. Saran-saran PREVENTIF dari penyelenggara sudah berkali-kali pernah saya dapatkan dari berbagai forum parenting. Gak ada yang baru.

Kasus-kasusnya pun ya begitu-begitu. Kenalan lewat online. Lantas diminta foto bugil. Atau kenalan, lantas diperkosa. Pencegahannya? Diserahkan kembali kepada ortunya. Ortu harus mengawasi anak. Ortu harus bisa memasang filter di komputer anak. Kalo ortunya gaptek seperti saya? Ya mbuh wis…

Sebetulnya tindak kriminalitas di negara maju seharusnya bisa rendah. Kenapa? Ya karena mereka pasang CCTV di mana-mana. Di mana-mana. Mulai dari warung, supermarket, jalan raya. Yang ngga bisa dipasangi CCTV adalah area privat. Semacam toilet umum. Dan rumah. Atau flat di mana Breck terbunuh.

Kekerasan seksual lewat media maya tidak akan berkurang hanya dengan memasang CCTV di sepanjang jalan setiap satu meter. Menurut saya, solusi yang tidak akan dilirik oleh negara maju seperti Inggris adalah tindakan preventif berikut ini.

Pertama, memahamkan keimanan dan ketakwaan pada diri anak. Bahwa biarpun tidak ada ortu, guru, atau CCTV; ada malaikat Rokib dan Atid yang pasti tahu semua amal kita. Jangan lupa, bahwa ada Hari Kiamat, setelahnya ada hari di mana mulut dikunci dan semua anggota tubuh kita bersaksi atas apa yang kita kerjakan. Termasuk jari-jari kita akan bersaksi, kita online ngapain aja. Dan yang pasti ada Allah yang Maha Mengetahui.

Kedua, memahamkan anak konsep mahram dan aurat. Jadi, biarpun cuma lewat skype atau whatsapp, kalo pake video, ya haram hukumnya kelihatan auratnya apalagi sampe telanjang apalagi sampe kirim foto telanjang. Ini haram bukan karena aturan dari pemerintah, tapi dari Allah. Pemerintah UK mah asal suka sama suka, kaga bakalan melarang…

Ketiga, mempebanyak aktivitas dakwah di tengah masyarakat. Orang beriman dan bertakwa adalah cahaya. Penjahat kelamin adalah bagian dari kegelapan. Kegelapan ada karena ketiadaan cahaya.

Dan akhirnya, yang ini kuratif, yaitu sanksi hukuman mati bagi pejahat kelamin yang melakukan pembunuhan sadis. Oh ya, Lewis Daynes dijatuhi hukuman penjara 25 tahun… Halo emak-emak, serem gak sih hidup di negara yang para penjahat seperti ini dipiara oleh negara dan satu saat nanti akan bebas berkeliaran?

Iya, saya tau penjahat kelamin di Indonesia juga bebas berkeliaran. Malah belakangan muncul di TV-TV, dan bebas posting di media sosial… Iya, bagi saya mereka pelaku kriminal. Menurut Islam, mereka ini pelaku kriminal. Ya beda emang kalo standarnya demokrasi dan HAM. Mereka tetep dikasih hak untuk hidup. Kalau di negara maju, malah bisa bikin pawai rame di jalanan bawa bendera pelangi.

Saat ini, kita bisa saja menyelamatkan anak-anak kita. Tapi satu saat, para penjahat kelamin yang berlindung di balik demokrasi dan HAM ini, akan memangsa korban. Entah anak teman kita, anaknya temennya temen kita, anaknya temennya temennya temennya temennya temen kita. Atau justru anak dari anak kita.

Colchester, 26 Desember 2017

Advertisements

4 thoughts on “Pembunuhan Breck Bednar (ODOP Day 94 of 99)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s