Keripik Pedas untuk Film Ayat-ayat Cinta 2 (ODOP Day 93 of 99)

“Untung kamu nggak ikut sedikit pun dalam proyek film ini,” komen saya sambil ngasih tautan artikel di Tirto berjudul Ayat-Ayat Cinta 2: Representasi Pembaharuan Islam Setengah Matang. Padahal Pakne Krucils pernah cerita, sempat ditawari jadi pemain figuran sebagai salah satu saksi pernikahan Fahri di Edinburgh. Sayangnya biaya tiket Colchester-Edinburgh tidak ditanggung pihak pembuat film. Emak ngirit yo gak kasih dukungan.. Ihihihihi…

Balik lagi ke soal pilem. Sejak awal pemutaran film ini di bioskop, AAC 2 mendapat banyak keripik pedas alias kritik tajam terutama dari pegiat kesetaraan gender. AAC 2 dianggap sarat dengan propaganda bias jender. Karena tokoh-tokoh perempuannya pada termehek-mehek kepada laki-laki yang sudah beristri, dan semuanya pengen jadi istrinya Fahri.

Sejujurnya, saya juga bukan penggemar novel cinta-cintaan. Termasuk Ayat-ayat Cinta. Kalau Laskar Pelangi jadi best seller, saya bisa memaklumi. Tapi sumpah demi Allah saya nggak paham kenapa novel AAC 1 bisa jadi best seller. Menikah dengan penulis prolog novel tersebut tidak serta merta mengubah saya jadi bisa menikmati novel yang tema utamanya adalah kisah cinta dua anak manusia.

Ketika adik laki-laki saya mengabarkan, “Mama nangis baca Ayat-ayat Cinta,” respon saya adalah, ‘What? How come? Sebelah mananya yang bikin nangis? Lha wong aku baca novel itu khatam cepet banget kok gak pake mikir…’

So, pliisss, kode keras, nih… karier nulis novel tjintah cukup di prolog AAC 1, ya… Berikutnya nulis buku matematika atau fisika populer aja, lah…

Betewe, meski saya alergi sama novel cinta, tapi khan kita tetep kudu berlaku adil. Yekan? Bagi saya kalau mau adil, ya harus baca dulu novel AAC2 dan nonton filmnya sendiri. Bukannya kenapa-napa, seringkali film jauh lebih jelek daripada novelnya. Soalnya, film paling cuma dikasih jatah 2 jam sehingga sering banyak banget isi novel yang musti dibabat supaya cukup dengan durasinya. Faktanya, novel AAC 2 juga best seller. Resensi di beberapa blog juga positif.

Terlepas dari film AAC2 dan saya yang ga ada bakat nyastra, sebetulnya kalo boleh memilih sastrawan Indonesia yang karyanya difilmkan, saya akan memilih Mbak Helvy Tiana Rosa (HTR). Sayang seribu sayang, karya Mbak HTR yang difilmkan justru Ketika Mas Gagah Pergi. Harusnya yang difilmkan Jaring-jaring Merah. Pembukaannya saja sudah begini:

Apakah kehidupan itu? Cut Di­ni, temanku, selalu saja marah bila mendengar jawabanku: Hidup ada­lah cabikan luka. Serpihan tan­pa mak­na. Hari-hari yang me­rang­gas lara.

Ya, sebab aku hanya bisa me­men­­­dam amarah. Bukan, bukan pa­­da rembulan yang mengikutiku sa­­at ini atau pada gugusan bintang yang mengintai pedih dalam liang-liang diri. Tetapi karena aku tinggal se­batas luka. Seperti juga hidup itu.

Dan kini hari telah semakin gelap. Aku tersaruk-saruk berjalan se­­panjang tiga kilometer dari Seu­rue­­ke, menuju Buket Tangkurak, be­­­bukitan penuh belukar dan pepo­hon­an ini. Dadaku telah amat se­sak, tetapi langkahku makin ku­per­cepat. Lolong anjing malam ber­sa­hut-sahutan, seiring darah yang te­rus menetes dari kedua kakiku. Perih. Airmataku berderai-derai.

Cadas, khan? Hanya saja untuk menjadikan karya ini sebagai film bisa jadi ada 2 kendala. Pertama, karya ini steril dari urusan cinta-cintaan. Ga ada tokoh ikhwan sempurna ala Fahri atau Mas Gagah. Ga ada tokoh akhwat sempurna seperti Aisha atau Anna Althafunnisa. Sebaliknya, lakon utamanya adalah perempuan gila, korban perkosaan. Lhaaa gimana-gimana yang bikin film khan pengen filmnya laris. Kalau filmnya ‘agamis’ dan ga ada cinta-cintaannya, apa bisa jadi best seller?

Kedua, faktor politik. Jaring-jaring Merah sejatinya adalah kritik tajam terhadap praktik Daerah Operasi Militer untuk memberantas Gerakan Aceh Merdeka di era Orde Baru. Apa bisa film seperti ini diizinkan tayang di bioskop?

Tapi kalau Jaring-jaring Merah dinaikkan ke layar lebar, insyaAllah saya akan nonton, deh, Mbak Helvy…. Hehehe…

Colchester, 26 Desember 2017

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s