Interpretasi Hasil Survei Alvara (ODOP Day 90 of 99)

Hasil survei Alvara terbaru menunjukkan, dukungan terhadap syariah dan khilafah tumbuh kian subur di kalangan pelajar dan mahasiswa. Lembaga pendidikan dituding melakukan pembiaran dan keliru menerapkan metode pembelajaran sehingga pemikiran ini terbentuk dalam generasi muda bangsa.

Latar belakang Alvara melakukan riset/survei sebenarnya adalah untuk melihat potensi pada masyarakat menengah terutama generasi milenial saat ini yang proporsinya adalah sebanyak 34% populasi penduduk dengan rentang usia 17-34 tahun dan kalangan menengah yang berjumlah sekitar 66%. Potret generasi milenial ini menjadi penting karena di tangan merekalah masa depan Indonesia berada.

Hasil survei menunjukkan bahwa ulama terpopuler menurut mahasiswa adalah Ustadz Yusuf Mansyur (20,9%), Mamah Dedeh (20,7%) dan Aa Gym (16%). Di bawahnya adalah Prof Quraish Shihab,  Arifin Ilham, Felix Siauw, Oky Setiana Dewi, Gus Mus. Dari sini terungkap bahwa media massa memiliki pengaruh yang sangat kuat dan pendapat tokoh yang banyak muncul di media massa inilah menjadi referensi utama mahasiswa. Hal lain yang terungkap dari hasil survei ini adalah cara penyampaian secara populer ternyata lebih bisa diterima oleh mahasiswa dibandingkan cara penyampaian serius ala ‘pesantren’ oleh ulama yang memiliki pesantren dan pengasuh banyak santri.

Muhammadiyah adalah ormas yang paling dikenal mahasiswa (97%) disusul NU (95%). FPI dikenal oleh 82,4% mahasiswa dan HTI oleh 37,2%. Popularitas FPI sehingga mampu bersanding dengan Muhammadiyah dan NU adalah faktor eksposur di media. Pemberitaan yang sangat masif di media massa, baik berita baik maupun berita buruk tentang FPI menyebabkan FPI banyak dikenal oleh mahasiswa.

Tujuh isu sosial yang diangkat yakni pergaulan bebas (94,5% pelajar menyatakan salah), clubbing dinyatakan salah oleh 86,1% pelajar; prostitusi dinyatakan salah oleh 90,4% pelajar; nikah beda agama adalah salah menurut 75,4% pelajar dan poligami adalah salah menurut 56,3% pelajar. Sebanyak 82,3% pelajar menyatakan LGBT adalah salah secara moral.

Salah satu indikator terhadap ‘radikalisme’ adalah dukungan terhadap Perda Syariah. Sebanyak 32,% mahasiswa dan 31,3% pelajar menyatakan perda syariah membahayakan keutuhan RI, sementara 19,6% mahasiswa dan 21, 9% pelajar mendukung perda. Sisanya tidak menjawab/tidak tahu/ragu-ragu.

Hasanuddin Ali selaku CEO Alvara menyatakan hasil ini sebetulnya sudah lampu kuning, hampir lampu merah, karena semakin banyak perda syariah maka akan semakin banyak daerah yang menerima Islam.

Tentang negara Islam, 76,5% mahasiswa dan 83,6% pelajar menyatakan tidak setuju. Sebanyak 23,5% mahasiswa dan 16,3% pelajar mendukung wacana dan penegakan negara Islam.

Patut dicatat bawa survei ini diambil di 25 universitas terbaik di Indonesia. Survei tersebut melibatkan 1200 responden yang tersebar di enam kota besar di Indonesia: Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan, dan Makassar. Survei dilaksanakan dari 10 September sampai 5 Oktober 2017.

Menurut Hasanuddin Ali, hasil ini artinya sudah ‘lampu merah’ karena angka 23,5% artinya hampir 1 dari setiap 4 mahasiswa muslim, mendukung negara Islam.

Sebanyak 83,2% mahasiswa dan 81,3% pelajar lebih memilih Pancasila daripada Islam. Sebanyak 16,% mahasiswa dan 18,6% pelajar lebih memilih Islam daripada Pancasila. Interpretasinya, hampir 20% mahasiswa dan pelajar, yang artinya hapir setiap 1 dari 5 mahasiswa dan pelajar, menganggap Pancasila belum final.

Ada 82,1% mahasiswa dan 81,7% pelajar memilih bentuk NKRI sementara 17,% dan 18,3% memilih Khilafah. Terhadap statement “Saya siap berjihad untuk khilafah” ada 76,5% mahasiswa dan 76,7% pelajar tidak setuju serta 23,4% mahasiswa dan 23,3% pelajar yang setuju. Survei tidak menanyakan apa bentuk jihadnya, tetapi hasil ini menunjukkan bahwa jika ada kesempatan, maka sebanyak sekitar 23% mahasiswa dan pelajar bersedia berjihad.

Sebanyak 29,5% mahasiswa muslim dan 29,7% pelajar muslim menyatakan tidak setuju dengan pemimpin nn-muslim yang terpilih secara demokratis. Angka ini dinilai tinggi (baca: ‘mencemaskan versi Altara’). Angka-angka lain yang juga dinilai tinggi adalah dukungan terhadap perda syariah, dukungan terhadap negara Islam dan dukungan terhadap ideologi Islam.

Survei dilakukan di kelompok terdidik, kampus dan SMU unggulan yang notabene kalangan menengah ke atas.

Angka 18-23% ini dinilai Ali sebagai luar biasa karena meskipun masih minoritas, tetapi jika dibandingkan dengan hasil survei-hasil survei serupa sebelumnya, menunjukkan tren menaik. Data dari hasil survei di tahun 2016 ke 2017 menunjukkan adanya peningkatan sebesar 5-10%.

Sementara dari kalangan profesional, yang menjadi responden adalah kalangan PNS, profesional di kalangan swasta, dan juga di kalangan BUMN. Menurut survei ada 29,7% kalangan profesional yang tak mendukung pemimpin non muslim dan dari jumlah ini 31,3% adalah golongan PNS, kemudian 25,9% swasta dan 25,9% karyawan BUMN. Dalam isu perda syariah, sebanyak 27,6% profesional mendukung perda syariah.

PNS yang mendukung perda syariah sebanyak 35,3%, swaata 36,6%. Adapun yang menyatakan perda syariah tak tepat karena membahayakan NKRI adalah sebanyak 45,1%. Sebanyak 29,6% profesional setuju bahwa negara Islam perlu diperjuangkan untuk penerapan Islam secara kaffah dan 16% profesional setuju khilafah

Survei ini diambil September sampai awal Oktober. Mungkin kalau disurvei sekarang, setelah kasus persekusi Felix Siauw di Sidoarjo, persekusi Ustadz Abdul Somad di Bali, penampilan Abu Janda di ILC TV One, reuni 212, ditambah pertempuran ideologis Aliansi Cinta Keluarga (AILA) melawan LGBT yang kandas di meja Mahkamah Konstitusi, bisa-bisa angkanya sudah naik lagi…

Colchester, 23 Desember 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s