[Buku] Rahasia Masa Kanak-kanak (ODOP Day 87 of 99)

Judul buku : Rahasia Masa Kanak-kanak
Penulis : Maria Montessori
Penerbit : Pustaka Pelajar
Edisi : I (pertama)
Tahun : 2016
Jumlah halaman : xxix + 316 halaman

Buku ini adalah terjemahan dari The Secret of Childhood yang ditulis Maria Montessori. Versi originalnya diterbitkan pertama kali di tahun 1936 dan sudah mengalami cetak ulang berkali-kali serta diterjemakan ke berbagai bahasa.

Pada bagian pengantar dijelaskan kondisi sekolah Montessori yang pertama, Cassa de Bambini (Rumah Anak-anak) yang berdiri di Roma Italia di awal tahu 1907. Montessori membuka sekolah tersebut bagi anak-anak keluaga miskin yang berasal dari orang tua tak terdidik di kawasan setempat. Karena kemiskinan, biasanya kedua orangtua harus bekerja, dan anak-anak ini tidak ada yang mengurusi.

Montessori tidak pernah bertujuan membuat ‘metode pendidikan’. Ia hanya ingin membantu anak untuk hidup, bepikir tentang kehidupan bukan sekadar tentang sekolah atau kelas. Di kelas Montessri, anak tidak dipaksa mengejar pencapaian intelektual, tetapi dikenalkan dengan beragam aktivitas untuk diketahui potensinya.

Sebagai dokter, Montessori menggabungkan tulisan ini dengan ilmu-ilmu kedokteran seperti anatomi, fisiologi, pediatri, psikiatri, serta psikologi yang disampaikan secara populer. Ia percaya tidak ada anak yang bodoh, semua anak memiliki bakatnya masing-masing. Karenanya dalam cara belajar yang dikemukakannya, tidak ada pemikiran anak yang dibungkus dengan item-item pengetahuan, tidak aa aak yang dibatasi kegiatannya yang ada karena bakatnya (hlm xxv).

Bab-bab pertama buku ini menceritaka kondisi pendidikan yang memprihatinkan di akhir abad 18 di mana pendidikan banyak identik dengan sanksi, hukuman, juga target dan sistem pembelajaran yang tidak cocok untuk anak. Montessori percaya, bahwa janin dan anak, sebagaimana biji tumbuhan, meski belum sempurna menjadi manusia, tetapi sudah memiliki potensinya. Begitu pun manusia, sejak berupa morula dan gastrula, embrio ini sudah memiliki potensi dan daya hidup. Tetapi perbedaannya dengan binatang, embrio manusia lebih sukar untuk diprediksi. Setelah dilahirkan, sebetunya bayi juga memiliki potensi untuk hidup dan belajar. Tetapi ia memerlukan naluri keibuan, bukan saja untuk memenuhi kebutuhan fisik melainkan juga kebutuhan-kebutuhan psikisnya. Montessori menyebut potensi dan bakat anak sebagai embrio spiritual yang juga memerlukan asupan dan perlu dirawat.

Untuk mendobrak sistem pendidikan yang ada pada saat itu, Montessori memperkenalkan’metode’nya sendiri yang menurutnya lebih sesuai dengan pekembangan anak. Perbedaan terbesar adalah, Montessori mempelakukan anak-anak secara bermartabat sekaligus mempekenalkan disiplin. Semua mainan di kelasnya dibuat sesuai versi aslinya, hanya dalam bentuk mini.

Selain prihatin dengan sistem pendidikan untuk anak-anak miskin, Montessori juga mengkritik pendidikan untuk anak-anak kaya yang dimanja. Menurutnya, memberikan semua hal secara cuma-cuma kepada anak, justru menghilangkan kemauan dan potensi belajar anak.

Peran pendidik tak luput disinggung di buku ini dalam bab Persiapan Spiritual Pengajar. Selebihnya ia menulis tentang permasalahan-permasalahan kejiwaan dari anak misalnya kesulitan anak untuk berbagi dan bekerja sama dengan orang lain, anak yang ingin mendominasi, anak yang suka minder atau tidak percaya dii (inferiority complex), peakut, gemar berbohong, serta penyimpangan lainnya.

Bagian terakhir buku diawali dengan penjelasan bahwa anak pun sebetulnya sudah memiliki naluri dan kemampuan untuk bekerja, yang sayangnya jadi sering menimbulkan konflik dengan orang dewasa yang tidak memahaminya.

Secara umum, membaca buku ini mengingatkan saya kepada pendapat-pendapat Bukik Setiawan dan Harry Hasan Santosa. Bukik Setiawan dengan Anak Bukan Ketas Kosong-nya, dan Harry Santosa dengan Fitrah Based Education-nya. Menurut saya, ketiganya memiliki pendapat yang sama tidak ada anak bodoh, semua anak memiliki bakat, fitrah, potensi, embrio spiritual atau apa pun istilah penyebutannya.

Barangkali satu-satunya perbedaa mencolok adalah fokusnya. Harry Santosa lebih menekankan pada pendidikan dalam keluarga, terutama orangtua. Bukik Setiawan menyasar keluarga dan komunitas nonformal di luar sekolah. Sementara Maria Montessori, di awal tahun 1900-an, sudah memiliki keberanian mendobak sistem pendidikan dan persekolahan di zaman itu sehingga kritik dan solusi yang ditawarkan terasa lebih menyeluruh.

Buku ini bukan buku semacam tips-tips parenting atau pengajaran praktis sebagaimana buku-buku lain. Jika membaca buku-buku praktis kita ibaratkan menyantap hidangan instan siap saji, membaca buku ini mungkin lebih mirip memasak dan memakan makanan sehat bernutrisi tinggi. Layaklah jika nama metode Montessori masih bertahan hingga 100 tahun meski barangkali tidak 100% sempurna.

Di sisi lain, jika menginginkan buku yang ringan, mudah dipahami, dan praktis alias bisa langsung dipraktekkan, tanpa memerlukan perenungan mendalam, nampaknya buku ini bukan pilihan yang baik. Buku ini jelas bukan buku semacam ‘101 cara mendidik anak usia dini’ atau ‘101 kesalahan orang tua dan guru dalam mendidik anak’. Buku ini lebih banyak berbicara aspe filosofis pendidikan bagi anak-anak muda. Bagi saya pribadi, kekurangan buku ini ada dua. Pertama aspek agama Kristen di dalamnya. Tetapi hal ini saya maklumi karena penulisnya mungkin beragama Kristen.

Yang kedua adalah tidak jelasnya batasan usia kanak-kanak yang dimaksud Montessori. Memang, kalau banyak membaca praktek di sekolah Montessori, idealnya kalau sesuai Montessori, kelasnya tidak disekat sesuai batasan usia. Sehingga memungkinkan anak berinteraksi dengan anak lain yang berbeda-beda usianya.

Selebihnya, saya setuju buku ini versi (yang The Secret of Childhood) pantas dapat rating 5 bintang di goodreads. Yang kecewa dan kasih rating rendah, biasanya karena ‘kecele’ mengharapkan buku ini berupa buku ‘how-to’ alias panduan praktis…. Hehehe…

Colchester, 4 Mei 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s