FPI, HTI, GP Ansor/Banser, dan ‘Islam Radikal’ Pendukung Anies Baswedan (ODOP Day 86 of 99)

Untuk memahami tulisan ini, mesti membaca lengkap dulu tulisan 2 JAM BERSAMA ANSOR-nya Setiawan Budi (klik di sini). Saya menggarisbawahi kalimat ini, “Satu yang bikin kaget, dari keterangan Pak Masruri (Ketua Ansor Batam), Pemerintah itu kesusahan saat ingin membubarkan HTI (sampai disini saya belum dapat, apa bentuk kesusahan pemerintah itu) . HTI akan dibubarkan apabila ada KEHEBOHAN dimasyarakat tentang mereka, dan ansorlah yang akan selalu hadang mereka sehingga terciptalah kehebohan itu..watdepak..!!!”

“Ketika saya meminta pada pak masruri, “apakah ansor tidak meminta pada pemerintah dulu untuk bubarkan HTI? tekanlah pemerintah agar keluarkan putusannya. Doronglah MUI agar lakukan kajian pada HTI, dan keluarkan fatwany. Nanti setelah pemerintah keluarkan putusan, maka kita bisa bersama-sama menjaganya. Tidak harus ansor yang bergerak dan merasa cinta NKRI sendiri. Karena kamipun mencintai negeri ini. Hanya saja kami tidak mau gegabah bertindak dengan main hakim sendiri. Sebelum ada putusan dan fatwa MUI..maka mereka adalah warga yang dilindungi UU kita. Namun apabila ada fatwa dan putusan penguasa..kita bisa bersama-sama menindaknya seperti ajaran ahmadyah dan gafatar. Ada dasar kita dalam bertindak..bukan dasar dr fatwa sendiri.”

“Pak masruri hanya tersenyum, secara tersirat beliau mengatakan ini sudah perintah. Saya maklum..mkn doktrin dr atas sudah begitu.”

***

Berikut ini sebagian komentar di status Setiawan Budi di atas:

Wirna Safitri : Emang HTI salah apa sih? Mereka bikin makar? Mereka cuma punya pemahaman negara khilafah, tp setau sy mrk tdk akan bikin makar. Mrk mau negara khilafah secara konstitusional. Pertanyaan sy mungkinkah MUI berfatwa sesat hanya krn seseorang “bercita2” punya negara khilafah? Makanya kudu wajib harus bikin ribut dulu.
But whateverlah pak… Good job sdh bisa tabbayun luar biasa.

Ho Lee Juz : Salahnya HTI adalah dianggap punya “Ideologi” yang mengancam “Ideologi Negara” yaitu “Bhinneka Tunggal Ika”, dan HTI dianggap “Memaksakan” ideologinya untuk dipakai oleh negara. Dalam pandangan polhukam yang sempit, hal ini sdh dianggap mengancam, dan harus ditidiakan. Akan tetapi, negara mengalami kesulitan untuk memberangus HTI, krn HTI berjuang melalui proses yg Mbak sebut konstitusional. Karena itu, ada pihak2 yg menginginkan HTI bentrok dgn ormas lain, sehingga negara punya dalih bahwa HTI menggunakan kekerasan, dan dalih inilah yg nantinya dipakai sbg dasar memberangus HTI.

Setiawan Budi : Dari obrolan tadi…banyak kesimpulan yang bisa saya ambil..
Tapi banyak cermin untuk mereka..saat mereka katakan bahwa mereka sudah lapor kepolisian dan tidak ada tindakan..maka mereka melakukan tindakan sendiri.
Ini persis sama yang dilakukan FPI saat melaporkan adanya peredaran miras, maksiat di sebuah lokasi…tapi karena aparat tidak bertindak..maka FPI bertindak dengan caranya sendiri..
Lalu cara FPI disebut radikal…dan cara ansor pun demikian juga..karena bertindak sendiri atas pemahaman mereka sendiri..
Itu cerminya..

Setiawan Budi : Menurut keterangan pak masruri..ansor ada protap dalam bertindak. Selama ini mereka selalu melakukan sesuai aturan, namun saat dilapangan apabila ada yang keluar dr ptotap..mereka menganggap itu adalah oknum..mkn juga sempalan dr luar yang ingin melihat banser buruk ataa kelakuan oknum..
Persis lah sama dengan FPI banget..

Amex Alfatih Syarif : BEDA KAN FPI SAMA BANSER…!
FPI BUBARKAN PESTA GAY, KALAU BANSER BUBARKAN PENGAJIAN.

Setiawan Budi : Saya cuma bertanya pada beliau..dan beliau menjawab..gak ada keharusan untuk saya mendebat beliau sanak…karena niat awal saya ingin diskusi bagaimana pemahaman ansor tsb.
Untuk persamaan FPI dan ansor..saya titik beratkan pada penilaian. Tuduhan FPI radikal..karena mereka melakukan sweping yang keras. Padahal sweping mereka dilakukan karena aparat tidak bertindak…sama yang dilakukan ansor ketika melakukam sweping pada HTI..mereka pun beralasan polisi lamban merespon laporan mereka atas kegiatan HTI.

Masalah kegiatannya..tentu beda..FPI bubarkan maksiat…ansor bubarkan HTI dan pengajian.
Kalau pengajian..saya ambil contoh basalamah di sidoarjo, pak masruri mengatakan sebelumnya sudah konfirmasi pada kepolisian..namun pengajian dilakukan. Ada kekerasan itu adalah oknum..dan saya hanya bisa mendengar penjelasan tanpa mau mbantah..karena dalam pikiran kita sudah ada penilaian sendiri…tinggalbkita cocokkan aja kejadian dan keterangannya. Dan silahkan nilai sendiri..

Setiawan Budi : Saat ini, di batam ada acara peletakann batu pertama untuk pembangunan masjid raya di batu aji. Ustad yang hadir adalah arifin ilham…dan ansor kirimkan 3 pleton ke sana..untuk amankan acara, mereka kesana karena diminta oleh pemda setempat.
Saya bertanya..”apakah pengamanannya untuk mengusir arifin ilham atau mengamankan situasinya”
Pak masruri menjawab..bahwa pengamanan itu bersifat mengawasi isi ceramah ustad arifin ilham..sama ketika tengku zulkarnaen datang..ansor juga hadir untuk mengamankan acara dr isi ceramah yang provokatif..

Sampai di sini..saya cuma bengong…😂😂

Setiawan Budi : Kapasitas saya tidak mendebat apa keterangan dari pak masruri..apa yang beliau ucapkan saya gak mendebatnya..tapi memberikan gambaran yang lain..
Kalau saya mendebat…maka akan jadi pepesan kosong. Apa yang saya tanya..telah dijawab beliau..selanjutnya, silahkan menilai dari logika kita masing2.

Lilis Kurnia : Dimana2 spanduk bubarkan HTI bertaburan.. dari Pondok Gede.. smp Purbalingga di pager Terminal.. dari Anshor..

Setiawan Budi : Soal spanduk yang ada logo HTI…ansor mengatakan akan sikat abis mbak..

Setiawan Budi : Sebenarnya…point utamanya bukan ansor yang salah, namun PEMERINTAH LAH YANG HARUS DISALAHKAN..
karena pemerintah mendiamkan keributan di masayaratm seperti sengaja diam..bahkan kalau ribut itu jadi besar..mkn akan lgs ada putusan ttg HTI..

Harusnya pemerintah menjadi penengah agar umat islam dalam hal ini ansor dan HTI tidak selalu bentrok. Masih untung kalau sekedar hadangan dan surut salah satu pihak..tapi kalau gak ada yang mengalah…keluar golok…pedang dan teriakan Allahu Akbar..?
Bisa ada korban jiwa dan darah yang mengalir…
Apakah itu yang pemerintah mau?

Setiawan Budi : Saya tadi juga nanya… “Sadar gak kalau kita di adu domba saat ini?umat islam di adu domba melalui banser”
Beliau bilang sadar…tapi bukan banser yang terlibat. Banser hanya mempertahankan apa yang mereka yakini bahwa HTI salah..
Saya lgs diem…gak ngerti lagi mo ngomong apa…😂
Kita melihat banser yang dijadikan alat..namun banser merasa sebaliknya..justru HTI lah yang di jadikan alat adu domba umat..makanya mereka harus di hentikan..
Piye dadine..?

Krisna Arie Murphy : Tumben lu netral bang..😄..sip..syng kok g ad videonya…antara pak masruri yg g mau dipublikasi,atau emng elu yg g mau up gmbr bang.krn trlalu keren gt..😁😁😂

Setiawan Budi : Kajian jurnalistik itu harus netral Krisna Arie Murphy…kalau gak netral, lu bisa liat contohnya media jokowi ahok..

btw, lu udah denger jokowi bagi2 sepeda di hongkong..?

😜😜😜😜

*****

Saya langsung inget tulisan FPI-nya Pandji Pragiwaksana edisi 1 Maret 2012 ketika marak beredar tagar #IndonesiaTanpaFPI berikut ini:

Awalnya, alasan mengangkat FPI ke PP radio adalah karena isu penolakan FPI di Kalimantan. Penolakan yg memicu penolakan-penolakan lain di sejumlah kota di Indonesia

Wacana pembubaran FPI muncul, banyak dukungan dalam bentuk tagar (tanda pagar) #IndonesiaTanpaFPI muncul di twitter. Ratusan orang aksi damai di jalananan menunjukkan penolakannya

Kalau anda bertanya kepada saya (Pandji), saya pribadi akan jawab tidak setuju terhadap pembubaran FPI.

Mengapa? 3 alasan:

1) Karena pembubaran FPI hanya akan membuat mereka muncul kembali dgn nama yg baru
2) Karena negara membebaskan siapapun untuk berkumpul dan berserikat. Menghalangi itu, hanya akan berdampak buruk kpd diri kita sendiri
3) Kalau FPI melakukan kegiatan2 yg melanggar hukum, ya pelakunya yg ditindak. Sama aja seperti misalnya POLRI ada yg melanggar hukum, ya pelakunya yg ditindak. Bukan POLRInya yg dibubarkan

Terkait desakan sebagian pihak untuk membubarkan HTI, berikut dari Mendagri Tjahjo Kumolo di Tempo 3 April 2017:
Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo mengatakan Hizbut Tahrir Indonesia tidak terdaftar di Kementerian Dalam Negeri. Namun, kata dia, pemerintah tak bisa melarang keberadaan ormas yang membawa misi khilafah tersebut.

“Di Kemendagri HTI tidak terdaftar, saya sudah cek. Di Kementerian Hukum dan HAM saya tidak tahu. Kebanyakan ormas itu cukup di notaris, enggak perlu mendaftar ke pemerintah,” kata Tjahjo, Selasa, 4 April 2017, di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta.

Tjahjo mengakui banyak ormas yang tidak terdaftar, baik di Kemendagri maupun di Kementerian Hukum. Contohnya adalah ikatan alumni perguruan tinggi maupun komunitas motor. “Itu kan kan tidak perlu akte, tidak perlu mendaftar. Itu jumlahnya yang lebih banyak,” kata dia.

Meski tidak terdaftar dan membawa misi khilafah, keberadaan HTI sulit dibubarkan pemerintah. Sebab, bisa saja pemerintah membubarkan suatu ormas, namun tak lama kemudian ada ormas dengan nama lain tapi dengan orang yang sama. Kesulitan membubarkan ormas juga karena ada jaminan konstitusi yang memberi hak warga negara untuk berserikat dan berkumpul.

Tjahjo mengatakan ormas bisa ditindak bila ada pelanggaran hukum atau merupakan aliran sesat. “Kalau ada masalah hukum ada kepolisian, kalau aliran sesat ada Kejaksaan,” kata Tjahjo.

Versi detik.com di tanggal yang sama:

Tjahjo mengatakan, banyak ormas yang sifat legalnya hanya cukup sebatas akta notaris. Selain itu, banyak juga yang hanya terdaftar di salah satu kementerian atau lembaga.

“Karena kebanyakan ormas itu yang sifatnya cukup di notaris tidak perlu mendaftar. Banyak ormas yang tidak terdaftar di Kemendagri maupun di Kemenkum HAM. Ada ormas yang hanya terdaftar di Kementerian Luar Negeri, yang asing, ada ormas yang kelompok-kelompok itu ya cukup ikatan, alumni, geng motor itu kan tidak perlu mendaftar. Itu jumlahnya yang lebih banyak,” jelasnya.

Dengan demikian, kata Tjahjo, ormas yang tidak terdaftar di kementerian sulit untuk dibubarkan.

“Susah. Yang terdaftar saja tidak begitu mudah dibubarkan kok. Sekarang ormas ormas A, B dibubarkan karena salah, ya bentuk sama ormasnya A, B, C, orangnya sama juga bisa, gitu saja. Saya kira ini kan hak berserikat, hak berkelompok oleh setiap warga negara yang dilindungi UU. Kalau ada masalah hukum ada kepolisian, kalau aliran sesat di kejaksaan, begitu saja,” jelas Tjahjo.

Balik lagi ke FPI yang sering dicitrakan anarkis. Kenapa pemerintah juga tidak membubarkan FPI? Menrut Pandji, karena pemerintah sebetulnya membutuhkan FPI untuk ‘menaklukkan’ para preman. Kenapa bukan polisi? Karena alasan HAM. Polisi dilarang melakukan kekerasan dalam ‘membasmi kejahatan yang tidak melibatkan kekerasan fisik, misalnya prostitusi.’ Karena itu FPI diperlukan. Menurut Pandji, “Karena aparat vs rakyat = kejahatan HAM. Sementara ormas vs rakyat = kerusuhan biasa. Indonesia sudah diawasi dunia urusan kejahatan HAM. Maka diciptakanlah FPI.”

HTI dengan metode dakwahya yang tanpa kekerasan, pasti bisa menemukan cara dakwah lain, tanpa harus terpancing untuk meladeni oknum-oknum yang tidak menginginkan melihat kelompok Islam bersatu.

Satu lagi, di tulisan Setiawan Budi dituliskan, “Saat bertanya maksud Ketua Ansor pusat ketika berkata “Anies di dukung oleh kelompok radikal” SIAPAKAH YANG DIMAKSUD RADIKAL INI? Pak Masruri memberikan jawaban bijak namun bagi saya seperti jawaban bersayap..harus terbang buat mencari kejelasannya..

“Ya sampeyan tanya pada Mas Yaqut..siapa yang katanya radikal tsb.”

Bener juga, wong Yaqut yang bilang ya Pak…#aseeeeem..😂

***

Nah, biar kita juga sama-sama bingung, berikut ini kutipan dari Kompas, 7 April 2017:

Terkait Pilkada DKI Jakarta 2017, GP Ansor mendukung pasangan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat.

“Oleh karena itu Pak Ahok dan Pak Djarot, saya pastikan politik kebangsaan Banser dan NU itu pasti tidak akan pernah memberi dukungan kepada kelompok yang berpotensi membesarkan Islam-Islam radikal,” ujar Yaqut.

Hal yang sama juga disampaikan Ketua GP Ansor DKI Jakarta Abdul Azis. Azis mengatakan dukungan untuk Ahok-Djarot merupakan momentum mencegah berkuasanya kelompok-kelompok radikal dan garis keras di Jakarta.

“Kami sangat menolak calon gubernur yang didukung Islam radikal dan Islam garis keras,” kata Azis. (Ketua GP Ansor: Kalau Ada Kader Mendukung Kelompok Radikal, Lapor ke Saya; Kompas, 7 Apr 2017)

JAKARTA, KOMPAS.com – Pengurus Gerakan Pemuda (GP) Ansor menyatakan siap mendukung pasangan calon gubernur dan calon wakil gubernur DKI Jakarta nomor pemilihan dua, Basuki ” Ahok” Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat, dalam upaya memenangiPemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta 2017 putaran kedua.

Ketua GP Ansor DKI Jakarta Abdul Azis menyatakan dukungan untukAhokDjarot merupakan momentum buat mencegah berkuasanya kelompok-kelompok radikal dan garis keras di Jakarta.

“Kami sangat menolak calon gubernur yang didukung Islam radikal dan Islam garis keras,” kata Azis saat menyambut kedatangan Ahok danDjarot ke Kantor GP Ansor di Jalan Kramat, Jakarta Pusat, Jumat (7/4/2017). (GP Ansor: Kami Tolak Cagub yang Didukung Kelompok Radikal)

Jadi sebetulnya siapa yang dimaksud Islam radikal dan Islam garis keras yang dimaksud dalam beita di atas? Yaa musti nanya ke Mas Ya’qut dan Mas Aziz… Wkwkwk…

Terlepas dari pertanyaan di atas, HTI muslim. FPI muslim. GP Ansor muslim. Banser muslim. Well, pendukung Anies Baswedan juga banyak yang muslim. Di antara para polisi dan militer, juga saya yakin banyak yang muslim.

Ada yang ingat foto ilustrasi yang saya pakai ini?
Siapa yang alumni 411? Siapa yang alumni 212? Siapa yang mendukung aksi-aksi tersebut?

Yuk, kita jaga semangat aksi damai 411 dan aksi super damai 212.

Colchester, 2 Mei 2017

Advertisements

One thought on “FPI, HTI, GP Ansor/Banser, dan ‘Islam Radikal’ Pendukung Anies Baswedan (ODOP Day 86 of 99)

  1. wahh clear..
    banser(ep) bisa jadi menang dng pendapatnya krn hti mengalah.
    drpd timbul perpecahan, maka utamakan ukhuwah.
    kalah dng elegan, jk itu kemungkinan trburuknya.
    tapi seiring brjalannya waktu kemenangan yg dipaksakan itu rapuh dan sebaliknya akan ada bnyk simpati dan opini umum tntang baiknya khilafah itu sndri.

    smg masalah ini hanya angin lalu saja, seiring dng hilangnya sayup2 hingar bingar pilkada DKI berlalu bgtupun Ansor vs HTI

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s