Transportasi Konvensional VS Transportasi Online di Barat (ODOP Day 84 of 99)

Foto ilustrasi bus tingkat, salah satu alat transportasi publik di London. Sumber gambar independent

Ini coret-coretan sharing One Week One Juz (OWOJ) edisi Kamis, 23 Maret 2017 yang disampaikan Mbak Arie (PhD Student bidang Computer Science di Univ of Birmingham UK).

Bahasan ini dipilih karena beberapa hari sebelumnya ramai diberitakan demonstrasi anarkis dari para sopir taksi menentang aplikasi ride. Mbak Arie mengajak peserta merenungkan dan membandingkan sistem transportasi publik (yang dikelola pemerintah) di negara maju dan di Indonesia. Karena semua peserta OWOJ tinggal di Eropa Barat, yang notabene negara maju, semua sudah bisa mengindera dan membandingkan bagaimana pemerintah di negara maju VS di Indonesia dalam mengelola transportasi publik.

Semua peserta sepakat bahwa transportasi yang dikelola pemerintah di negaranya masing-masing kualitasnya sangat baik. Mulai dari keamanan, kebersihan, perlindungan fisik dan psikologis terhadap penumpang (ada larangan terhadap rasisme), trayek yang sampai ke daerah atau kota-kota kecil meski jarang tapi biasanya tetap disediakan bus yang melewati daerah tersebut, ketepatan waktu, hingga biaya yang relatif bisa dijangkau oleh mayoritas masyarakat sehingga transportasi publik yang dikelola pemerintah bisa diandalkan. Dengan demikian, transportasi yang dikelola negara biasanya menjadi prioritas pertama atau kedua setelah kendaraan pribadi, sementara transportasi yang dikelola swasta seperti taksi biasanya menjadi pilihan darurat.

Mbak Arie kemudian mengungkapkan banyaknya persoalan transportasi di Indonesia, misal soal infrastruktur. Ruas jalan di Indonesia biasanya tidak bisa menampung bus besar (coach) sehingga kendaraan menjadi sangat banyak yang berdampak pada kemacetan lalu lintas. Selain itu juga ada masalah keamanan, kenyamanan, harga, dan sebagainya sehingga masyarakat pun terdorong jadi ‘kreatif’ untuk mencari solusi sendiri karena pemerintah tidak mampu menyelesaikan persoalan yang ada.

Pada dasarnya semua bermuara dari kegagalan pemerintah menyelesaikan persoalan rakyat. Di Inggris misalnya, kita dilarang ‘mengurus’/memotong pohon di tepi jalan, membersihkan selokan yang buntu, mengaspal jalan, dan seterusnya, karena pemerintah bertanggungjawab dan menyelesaikan semua persoalan tersebut. Tetapi di Indonesia, rakyat jadi harus ‘berinisiatif’ dan ‘kreatif’ untuk menciptakan solusi-solusi secara mandiri terhadap apa-apa yang seharusnya jadi tanggungjawab negara.

Keberadaan transportasi online di negara maju juga ada, tapi dampaknya tidak sedahsyat di Indonesia. Karena seperti ibu-ibu OWOJ misalnya, masih tetap akan memilih transportasi pemerintah. Di Indonesia, transportasi online jadi pertemuan dari ‘inisiatif’, ‘kreativitas’, ‘kebutuhan rakyat’ sebagai ‘solusi dari problem warga’ yang tidak diselesaikan oleh negara.

Menurut Mbak Arie untuk menyelesaikan bentrokan sopir transportasi konvensional dengan transportasi online ada 4 hal. Pertama di level individu para sopir harus ada yang melakukan pembinaan, para sopir harus diingatkan bahwa rezeki datang dari Allah Swt (ar rizqu minallah). Harus dibangun ketakwaan di kalangan sopir angkot dan taksi agar jika saat rezeki dirasakan menyempit, setidaknya mereka memiliki keimanan sebagai benteng terakhir.

Kedua, kita juga harus memahami bahwa demonstrasi sopir taksi dan sopir angkot bisa jadi sebetulnya digerakkan oleh pemangku kepentingan tertentu. Misalnya perusahaan taksi yang merasa kalah bersaing dengan perusahaan transportasi online. Sehingga diharapkan kita bisa lebih memahami bahwa ketika di jalanan yang dibenturkan adalah sopir konvensional vs sopir online, sebetulnya ini adalah perseteruan para pengusaha pemilik modal. Diharapkan, peserta OWOJ tidak memihak atau membenci kepada sopir konvensional, atau sopir online, karena akar masalahnya bukan di situ.

Ketiga, Mbak Arie mengingatkan bahwa menyediakan transportasi publik yang aman, nyaman, harga terjangkau, adalah tugas pemerintah. Sehingga pemerintah harus selalu didorong, dikritik, diberi usulan, dipantau untuk melaksanakan tugas-tugasnya. MInimal seperti di negara Barat yang maju. Termasuk mengatur transportasi online.

Dan yang terakhir, Mba Arie memaparkan bahwa sistem online sebetulnya hanya alat atau sarana untuk memudahkan yang sifat asalnya netral. Tetapi, di dalam sistem ekonomi kapitalisme yang berpihak kepada kaum kapitalis, aplikasi online menjadi alat untuk memperkaya pemilik modal raksasa, sekaligus menjadi senjata untuk menghancurkan ekonomi rakyat jelata. Tanpa intervensi pemerintah, rakyat miskin akan selalu tertinggal dalam modal dan teknologi dan akan selalu kalah bersaing dengan pemilik-pemilik modal raksasa.

Mbak Arie memberikan contoh toko-toko kecil yang dikelola individu di Birmingham yang tutup karena kalah dengan supermarket raksasa. Di Colchester sebetulnya juga sama. Januari 2016, John Humphreys menutup toko sayur dan buah segar miliknya yang sudah beroperasi 58 tahun. John Whitnell juga menutup toko sayur dan buah miliknya yang dikelolahnya sejak 50 tahun lalu. Padahal kedua toko tersebut terletak di town centre, tapi tetep wae kalah dengan supermarket seperti Tesco dan ASDA.

Jadi yang harus ditata memang banyak. Untuk jangka pendek, mungkin reformasi sistem transportasi bisa menjadi solusi di Indonesia. Tetapi dalam jangka panjang, diperlukan perombakan sistem ekonomi dari ekonomi yang kapitalis ke sistem ekonomi yang rahmatan lil ‘alamin.

Akhirnya forum sharing OWOJ ditutup dengan kesimpulan umat Islam perlu belajar sistem ekonomi Islam.

Colchester, 26 April 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s