Rumah Rapi VS Jejak Cinta (ODOP Day 77 of 99)

Repost tulisan zaman 3 tahun lalu yg ditampilkan ulang oleh facebook. Alhamdulillah sudah pernah melewati beberapa tahun hidup dengan 3 balita tanpa asisten rumah tangga dan jauh dari keluarga besar…

***

Gimana rasanya punya anak 4 (usia 4 bulan s/d 6 thn) tanpa asisten rumahtangga? Dan jauh dari keluarga besar yg bisa diminta bantuannya?

Berikut ini tulisan indah Al-Ustadz Umar Baha’ al-Umairi yang membuat syair ketika 8 anak-anaknya beranjak dewasa. Ditulis oleh Abdullah Nasih Ulwan di bukunya yg legendaris, Tarbiyatul Aulad fil Islam.

Di mana kegaduhan dan kebisingan syahdu
di mana belajar yang selalu diselingi senda gurau
di mana masa kanak-kanak yang semarak
di mana boneka dan buah-buahan yang berserakan di lantai

Di mana rengekan tanpa tujuan
di mana pengaduan tanpa sebab
di mana tangis dan tawa, duka dan ceria
yang timbul secara bersamaan

Di mana perebutan untuk duduk disampingku
ketika mereka akan makan dan minum
Mereka saling berdesakan untuk duduk di sisiku
dan dekat denganku di mana saja mereka bergerak

Dengan dorongan fithrah
mereka menghadap denganku
pada saat mereka takut dan senang

Ketika mereka senang senandung mereka adalah, “bapak”,
ketika mereka marah ancaman mereka adalah, “ bapak”,
ketika mereka jauh bisikan mereka adalah, “bapak”,
ketika mereka dekat, ratapan mereka adalah, “bapak”.

Kemarin mereka memenuhi rumah kita
sayang, mereka telah pergi
seakan-akan kesunyian menimpakan beban yang berat ke dalam rumah ini

ketika mereka pergi
sunyi rumah ibarat tenangnya orang sakit
seisi rumah diselimuti kesedihan
mereka telah pergi
ya, mereka telah pergi

namun tempat tinggal mereka adalah hatiku
mereka tidak jauh, tidak pula mereka dekat
ke mana saja jiwaku yang berpaling
aku selalu melihat mereka
kadang mereka diam
kadang mereka lompat di dalam benakku

di dalam rumah yang tak pernah mengenal lelah ini
masih kurasakan sendau gurau mereka
masih kulihat pancaran sinar mata mereka ketika mereka berhasil
masih kulihat linangan air mata mereka ketika mereka gagal

di setiap sudut rumah mereka tinggalkan suatu kesan
di setiap pojok rumah mereka tinggalkan kegaduhan

aku melihat mereka
pada kaca-kaca jendela yang mereka pecahkan
pada dinding-dinding yang mereka lubangi
pada pegangan pintu yang mereka patahkan
pada daun pintu yang mereka gambari
pada piring-piring sisa makan mereka
pada bungkus permen yang mereka lemparkan
pada belahan apel yang mereka sisakan
pada lebihan air yang mereka tumpahkan

ke mana saja mataku memandang
aku selalu melihat mereka
bagaikan sekumpulan burung dara yang terbang melayang
kemarin mereka singgah di Kornail
sekarang mereka berada di Halab

Air mataku yang aku tahan dengan tabah
ketika mereka bertangisan saat pergi
hingga ketika mereka bertolak

mereka telah merenggut jantung dari rongga dadaku
kudapatkan diriku bagaikan seorang bocah
yang penuh dengan perasaan
air mataku jatuh tertumpah bagaikan air bah

kaum wanita akan merasa heran
bila melihat seorang lelaki menangis
namun lebih heran lagi jika aku tidak menangis
tak selamanya tangis itu cengeng
aku seorang bapak
aku punya keteguhan sebagai kaum lelaki

5 April 2014

Colchester, 5 April 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s