[Buku] Six Little Miracles (ODOP Day 74 of 99)

Sumber foto : Dailymail

Apa yang terlintas di benak ibu-ibu kalau mendengar kata kembar enam perempuan, dan hidup? Pada tanggal 18 November 1983, Janet Leadbetter (yang kemudian lebih dikenal dengan Janet Walton setelah menikah dengan Graham Walton) melahirkan satu-satunya bayi kembar enam yang hidup, tumbuh, dan dewasa.

Buku setebal 352 ini adalah memoar sang bunda dalam mengusahakan dan menjalani masa kehamilan, melahirkan, mengasuh, mendidik, hingga melihat satu per satu putri-putrinya tumbuh menjadi perempuan dewasa dan mandiri dan lantas satu per satu pula meninggalkan ‘sarangnya’. Buku ini meringkas pengalaman reproduksi sekaligus parenting Janet Walton sejak usia remaja hingga menjadi nenek.

Di bagian awal, isi buku menceritakan kehidupan pribadi penulis yang tinggal di kota kecil, di sekitar Liverpool. Penulis menjalani hidup normal, kecuali satu hal, yakni ia tidak pernah mengalami menstruasi. Ketika remaja, mulailah ibunya mengantarnya ke dokter. Sejak saat itu ia harus rutin bertemu dokter dan akhirnya didiagnosis dengan amenorrhea (tidak menstruasi, tidak menghasilkan sel telur). Janet merahasiakan kondisinya dan hanya keluarganya saja yang mengetahui kalau ia menderita amenorrhea.

Ketika akan menikah, Janet berterus terang kepada Graham, calon suaminya bahwa ia tidak bisa hamil. Graham menerima, dan sudah siap mengadopsi anak. Tetapi, dokter spesialis kandungan Janet menyarankan Janet menjalanis serangkaian pengobatan untuk menyuburkan kandungannya. Di buku ini tidak dijelaskan secara detil, hanya disebutkan terapi yang melibatkan berbagai macam obat dan injeksi hormon tersebut seringkali membuatnya menderita fisik dan terutama psikologis. Bersamaan dengan perjalanan terapi, Janet dan Graham mengurus proses perijinan untuk mengadopsi anak.

Baik proses di klinik fertilitas maupun adopsi memakan waktu bertahun-tahun. Janet dan Graham dihadapkan pada kenyataan semua teman mereka sudah menimang anak. Ia pun menerima banyak pertanyaan kapan akan punya anak, juga banyak saran terkait agar lekas merencanakan memiliki anak.

Sampul buku Six Little Miracles (sumber Amazon.com)

Ketika sudah hampir berputus asa, perijinan adopsi turun. Mereka dinyatakan berhak menjadi orangtua adopsi. Untuk merayakannya, pasangan Walton berlibur ke Malta. Di Malta, Janet merasa sakit-sakitan, lemah, pusing, mual bahkan berkali-kali muntah. Ia pun menduga dirinya hamil.

Setelah berkali-kali gagal, Janet menerima berita gembira bahwa dirinya memang positif mengandung. Sayangnya, bagi para dokter kandungan Janet berisiko tinggi karena janinnya ada enam. Janet harus menjalani karantina di Royaal Liverpool Teaching Hospital agar bisa dimonitor selama 24 jam setiap hari. Kandungan Janet dpertahankan hingga berusia 31,5 minggu dan dilahirkan melalui operasi Sectio Caesaria. Anak-anaknya diberi nama Hannah Jane, Lucy Anne, Ruth Michelle, Sarah Louise, Kate Elizabeth, dan Jennifer Rose.

Setelah itu, dimulailah babak baru, merawat bayi-bayi yang semuanya harus dirawat di inkubator. Satu per satu bayi diperbolehkan dibawa pulang. Di rumah, selain berjuang dengan rutinitas memberi susu formula dan membersihkan bayi, pasangan Walton harus menghadapi kenyataan bahwa mereka sedikit sekali memiliki kehidupan pribadi. Bantuan datang baik dari pihak rumah sakit, keluarga, dan teman. Berbagai media cetak dan elektronik memburu dan memberitakan mulai sejak kelahiran, pembaptisan, ulang tahun, hingga ketika masuk sekolah pertama kali. Sejak berusia balita, si kembar enam sudah menghadiri beragam acara di berbagai negara disponsori media dan berbagai produk.

Ada beberapa pelajaran yang saya ambil dari pengalaman Janet Walton. Pertama, kesabaran. Ia tabah menerima keadaan dirinya yang diprediksi mandul, sabar menjalani masa terapi dengan segala efek sampingannya, sabar menjalani masa karantina 30 minggu di rumah sakit tanpa keluar sehari pun, sabar mengasuh sekaligus enam bayi sampai mereka balita, remaja, hingga dewasa dengan segala dramanya.

Kedua, kegigihan Janet mempertahankan prinsip untuk tidak mengembarkan anak-anaknya. Ia merancang beragam strategi agar anak-anaknya tetap memiliki jati diri sebagai individu masing-masing. Sejak awal Janet tidak memberikan baju kembar kepada anak-anaknya. Ketika anak sudah mengenal warna dan memiliki warna favorit, Janet memisahkan barang-barang mereka dalam keranjang-keranjang yang diberi pita dengan warna sesuai pilihan anak.

Seperti biasa, media cetak dan televisi meminta Janet mengembarkan pakaian anak-anaknya. Dengan cerdik Janet selalu menyisipkan perbedaan. Misalnya, jika pakaian modelnya sama, ia membuat warnanya berbeda 6 jenis. Jika dikontrak untuk memakaikan baju yang sama, Janet akan memakaikan model dan aksesori rambut yang berbeda. Ini pula yang terjadi pada foto di atas yang menjadi sampul buku Six Little Miracles. Foto diambil ketika hari pertama para kembar masuk sekolah dan para jurnalis berkeras mengabadikan momen pertama para kembar mengenakan busana yang sama. Maka Janet memakaikan kaos kaki yang berbeda-beda, dan memberikan enam buku berbeda untuk dipegang putri-putrinya.

Janet dan Graham Walton bersama seluruh putri kembar dan Jorgie,
cucu pertama dari Sarah (Dailymail)

Saat ini Hannah bekerja sebagai optician’s manager dan masih lajang, Lucy adalah salah satu cabin crew Thomas Cook, Ruth adalah karyawati di sebuah contact centre, Sarah bekerja di pusat medical centre, Kate bekerja di departemen HR sebuah universitas, dan Jenny memiliki toko permen di Leeds.

Membaca buku ini, mau nggak mau jadi teringat kepada anak saya sendiri. Ketika membaca bagian bagaimana repotnya kalau akan mengajak semua anak jalan-jalan ke luar rumah, melakukan perjalanan jauh naik mobil, ketika anak gantia sakit batuk pilek, gantian ke dokter, pekerjaan membersihkan anak yang serasa nggak ada berhentinya, juga saat di mana sebagai orang tua kita lengah dan menempatkan anak dalam posisi berbahaya, adalah hal-hal yang umum dialami para orang tua dengan anak banyak yang selisih usianya berdekatan. Kemudian, urusan dengan sekolah dan guru. Orang tua yang memiliki banyak anak dan kemudian anak-anaknya bersekolah di satu sekolah yang sama sekaligus, pasti memiliki beberapa pengalaman dan perasaan mirip dengan pasangan Walton.

Satu-satunya kritik saya untuk buku ini adalah bagian awal yang terasa sangat lambat dan membosankan. Menurut saya ada banyak bagian yang tidak terlalu penting untuk dibahas. Mestinya langsung saja dibahas soal amenorrhea, dan mungkin lebih banyak perasaan Janet ketika menjalani terapi fertilitas yang berkali-kali gagal dan harus berlangsung bertahun-tahun, juga perasaannya ketika berhadapan dengan kerabat dan teman-teman yang tidak tahu kalau dirinya mandul. Selebihnya, saya setuju dengan kaki judulnya, bahwa buku ini heartwarming.

Colchester, 28 Maret 2017.

Advertisements

2 thoughts on “[Buku] Six Little Miracles (ODOP Day 74 of 99)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s