Metode Montessori Bagian 1 (ODOP Day 69 of 99)

Sumber gambar: Forbes

Apa itu Montessori?
Montessori itu adalah sebuah metode pengajaran anak usia dini yang dicetuskan oleh dokter Maria Montessori (1870-1952). Prinsipnya adalah “Children teach themselves”. Ibaratnya jika kita menanam tumbuhan, apa yang kita lakukan? Tentunya adalah memastikan bahwa tumbuhan tersebut mendapatkan cukup sinar matahari, air, dan dikasih pupuk. Lantas, tanaman akan tumbuh dan berkembang dengan caranya sendiri.

Demikian juga dengan anak. Golden period pada anak adalah 0-5 tahun. Dalam rentang waktu itu, otak anak berkembang sangat pesat. Terutama di usia 0-3 tahun, anak ini ibarat spons (unconsious mind), yang banyak menyerap dari lingkungan. Setelah 3 tahun, barulah anak ini masuk ke consiuos mind, dimana dia sudah punya kemauan, sudah tahu minatnya kemana. Tiap anak juga memiliki spiritual embryo, yakni ‘potensi’ dalam diri anak masing-masing yang berbeda antara satu anak dengan yang lain.

Lalu apa yang bisa kita lakukan? Kita hanya bisa mengintervensi dari luar dia saja. Selebihnya biarkan anak berkembang sesuai potensinya. Bagaimana caranya? Yakni dengan menyiapkan ‘lingkungan’ yang aman dan mendukung anak berkembang. Biarkan dia bebas mengeksplorasi lingkungannya.

Ini sangat mungkin dilakukan di rumah. Yakni dengan membuat rumah menjadi tempat yang aman. Misalnya dengan menjauhkan/menyimpan furniture kristal, gunting, pisau, dari jangkauan anak. Semua barang untuk anak, sedapat mungkin diberikan aslinya, tetapi dalam bentk mini. Kursi kecil, meja kecil, sendok kecil, bahkan jika perlu sediakan alat pel dan sapu kecil khusus untuk anak.

Selain menyediakan rumah atau lingkungan yang aman, pengasuh atau orang tua perlu mencermati sesitivitas anak. Di sinilah mengapa metode Montessori sebaiknya dilakukan di rumah, karena kita sebagai primer caregiver bisa cepat ‘menangkap’ sensitifnya anak.

Misalnya, ada masanya anak akan tertarik dengan satu tema, misalnya abjad. Maka kita paparkan segala macam abjad. Lalu jika anak senang mentransfer atau memindah-mindahkan benda, maka difasilitasi. Jika anak sedang suka berlari, kita ajak ke playgroud, ke taman. Pengasuh atau orang tua harus ‘observe our child’. Intinya, biarkan anak-anak belajar, mengeksplorasi, bebas terbatas, kita cukup memberinya fasilitas untuk ‘kasih makan’ otaknya yang sedang berkembang itu.

Lalu apa bekal yang harus kita siapkan? Yakni pengetahuan, kepercayaan kepada anak bahwa dia bisa (jangan underestimate ke mereka, mereka punya kemampuan luar biasa) dan kesabaran.

Menurut metode Montessor, pada dasarnya segala material bisa diajarkan untuk anak usia 2 tahun ke atas. Untuk anak di bawah usia tersebut, bentuk pengajaran bisa berbeda sesuai usia anak namun dengan tetap mengacu pada filososi children teach themselves.

Beberapa kebiasaan buruk orang tua dalam mendidik anak

  • Melabeli anak. Misal: Nakal, aktif, berisik, dll dsb. Ini dapat mengganggu self-esteem anak.
  • Membanding-bandingkan anak dengan yang lain.
  • Sering mengatakan ‘jangan’ ketika anak beraktivitas. Diubah menjadi kalimat positif. Misalnya, tidak mengatakan ‘Jangan lari-lari’ tetapi mengatakan ‘Tolong jalan pelan-pelan.’

Yang diajarkan Metode Montessori

Metode Montessori pertama kali diperkenalkan pada tahun 1907 dan masih digunakan hingga hari ini. Pengajarannya meliputi lima (5) hal:

  1. Practical life.
  2. Sensori
  3. Language
  4. Mathematic
  5. Culture

Prinsip belajar

Pertama, prinsip belajar dengan metode Montesori adalah menggunakan benda asli dalam ukuran kecil. Contoh, mangkuk yang digunakan adalah mangkuk beling, karena sejak dini kita mengajarkan anak untuk bertanggung jawab, bahwa semua harus dilakukan dengan hati-hati. Termasuk mengajarkan konsekuensi, misalnya jika ceroboh, mangkuk bisa pecah.

Kedua, pengenalan benda konkrit dulu, baru abstrak. Maksudnya kita kenalkan benda asli dulu, baru dikombinasikan dengan gambar. Misalnya memperkenalkan buah, sayur, dan binatang, maka dipakai model semirip mungkin. Dan bahan yang dipilih bukan dari plastik, karena bahan plastik tidak memberikan sensori yang berarti kepada anak-anak. Misalnya buah atau sayuran kayu. Jika tidak menemukan model buah atau sayur yang bahannya bukan plastik, lebih aik menggunakan benda aslinya. Untuk binatang bisa menggunakan boneka yang bentuknya mirip aslinya.

Ketiga, menggunakan mat atau alas. Tujuannya supaya anak paham ‘ini area kerja saya, saya tidak akan keluar dari area ini jika sedang bekerja’.

Keempat, material (semua mainan dan alat) diletakkan di rak yang tanpa penutupnya, agar mudah dijangkau anak-anak. Ini berhubungan dengan sensitivitas (minat) anak. Dari sini dapat diketahui minat anak terhadap benda/barang/aktivitas yang sering dipilihnya.

Kelima, satu material hanya untuk satu tujuan utama. Tujuannya agar anak bisa fokus dan tidak terdistraksi. Misalnya kita mau memperkenalkan warna, maka menggunakan benda yang sama bentuknya tetapi berbeda-beda warnanya.

Keenam, orang tua atau pengasuh mendemonstrasikan cara bermain, dan ketika anak bermain, orang tua tidak boleh mengoreksi atau menginterupsi. Biarkan anak menemukan kesalahannya sendiri. Mainan-mainan Montessori didesain untuk mudah ditemukan ‘kejanggalnnya’ jika anak melakukan kesalahan. Orang tua boleh menginterupsi kalau anak merusak material atau membahayakan diri sendiri.

Ketujuh, semua permainan dimulai dari kiri ke kanan, dan atas kebawah. Tujuannya adalah mempersiapkan anak untuk menulis dan membaca.

Kedelapan, semua item, terutama sensori, bagiannya berjumlah 10, knob cylinder, tabungnya ada 10. Pink tower, kubusnya ada 10. Tujuannya adalah menyiapkan anak pada kegiatan berhitung. Semua kegiatan yang dilakukan anak mayoritas berhubungan dengan sensori. Kegiatan apapun, semuanya dipegang sambil dilihat, atau bahkan kadang sambil di dengar. Karena indra perabanya akan memberikan ‘muscle memory’. Semakin sering anak memfungsikan inderanya (melihat, meraba, mendengar, mencium, mengecap) maka semakin banyak yang diingat dan dipahaminya.

Kesembilan, setelah bermain, biasakan anak membereskan mainannya sendiri sebagai latihan tanggung jawab. Kalau anak menolak, dirayu, “Ibu bantu membereskan mainannya, ya…”

Kesepuluh, harus sabar. Untuk mengajarkan anak dengan metode ini, diperlukan kesabaran karena bisa jadi berbeda dengan pola yang kita terima selama ini

Sumber: Grup WA Montessori at Home

Colchester, 23 Maret 2017

Advertisements

One thought on “Metode Montessori Bagian 1 (ODOP Day 69 of 99)

  1. Pingback: Sensory-Visual 1 (Montessori 5) (ODOP Day 73 of 99) – Rumah kecil di seberang universitas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s