[Buku] All Teachers Bright and Beautiful (ODOP Day 68 of 99)

Dibandingkan buku pertama, All Teachers Great and Small yang ringkasannya saya tulis di sini, buku setebal 406 halaman ini terasa kurang menantang karena bisa dikatakan Andy Seed sudah mapan sebagai guru di Craghtwaite Primary School. Jika di buku pertama ada kepala sekolah lama Howard Raven yang kolot, kuno, dan anti terhadap metode baru proses belajar mengajar, di bawah kepemimpinan kepala sekolah baru Joyce Berry, Andy mendapatkan dukungan penuh.

Di sisi lain, persoalan kerumahtanggaan tak terlalu menonjol di serial terakhir All Teachers ini. Di buku ini dikisahkan Andy dan Barbara sudah hidup mapan bersama dua balita mereka, Tom dan Reuben. Mereka hidup tenang di desa Appleset. Satu-satunya persoalan adalah pasangan kaya raya yang tinggal persis di sebelah rumah, Wanda dan Ralph.

Wanda dan Ralph tidak tinggal di Appleset. Mereka menjadikan rumah di desa hanya sebagai rumah tinggal selama akhir pekan atau liburan. Selebihnya, sebagai pebisnis, mereka tnggal di kota besar. Wanda tidak suka anak-anak dan ketika menemukan mainan Tom dan Reuben tertinggal di halaman rumahnya, ia memutuskan memasang pagar kawat mengelilingi pagar rumahnya.

Tokoh keluarga lain adalah pasangan Rosie dan Doug. Rosie berjiwa seni tinggi dan Doug bekerja sebagai guru di secondary school (SMP). Untuk beberapa bulan keduanya menetap di Cragthwaite, sibuk membangun rumah barunya. Doug gemar bertukang sementara Rosie ahli dalam berkebun. Namun setelah rumah yang dibeli dengan harga mahal tersebut sudah baik, kebun sudah nampak indah, keduanya tak kerasan tinggal di desa. Rosie ingin menjadi ibu sementara Doug tidak ingin menjadi ayah. Di akhir kisah keduanya memutuskan menjual rumah dan kembali tinggal di kota besar.

Di awal tahun ajara baru yang biasanya dimulai di bulan September, seiring datangnya musim gugur, Andy mengajak siswa-siswanya berjalan-jalan di hutan. Tugas para siswa adalah mencatat segala hal yang menunjukkan keberadaan binatang di situ; jejak binatang, kotoran, sisa makanan hewan, dan keberadaan binatang itu sendiri misalnya burung dan tupai. Anak-anak lantas mengumpulkan daun-daun dan ranting-ranting kering.

Salah saatu siswa memiliki rubah yang diawetkan, dan Andy meminjam burung hantu yang diawetkan dari guru lain. Rubah, burung hantu, bersama daun-daun dan ranting kering dijadikan prakarya yang dkerjakan oleh seluruh siswa.

Di buku ini Andy berhadapan dengan salah satu siswa yang sulit, Jason Fisher. Jason adalah anak tunggal dari keluarga kaya raya dan dimanjakan oleh orang tuanya. Jason memiliki kecenderungan melanggar peraturan dan menyulitkan para guru. Tak hanya sang anak, Mr Fisher sang ayah seringkali mengajukan komplain kepada pihak sekolah mengadukan Andy yang menurutnya bersikap tidak adil kepada Jason.

Kegiatan lain adalah lari bersama dengan tujuan pengumpulan dana. Bukan hanya siswa, tetapi guru pun diwajibkan untuk ikut berlari mengelilingi hutan kecil di dekat sekolah. Kemudian ada school trip ke bandara lokal dan anak-anak diperbolehkan melihat pesawat dan bergantian duduk di kokpit, mengunjungi pabrik pembuatan keju, menginap dua malam di tepi pantai di North York Moors, juga berfoto individual masing-masing bersama elang liar yang sudah dijinakkan

Menjelang musim dingin, kegiatan siswa adalah mempersiapkan perayaan Christmas meliputi drama hingga paduan suara. Beberapa kegiatan lain di antaranya adalah lomba menghias telur dalam rangka paskah, dan disko.

Sex education menjadi isu sensitif yang juga dibahas di sini. Dengan setting tahun 1980-an, dikisahkan kepala sekolah Joyce Berry mengumpulkan seluruh staf guru dan menonton terlebih dahulu 3 video tape sebelum memilih satu yang akan ditayangkan untuk para siswa. Mungkin pendidikan seks memang diperlukan untuk warga Class 3 yang berusia 8-9 tahun karena Pamela yang pendiam sudah berani mencium Stephen di taman sekolah. Siswa-siswa yang notabene pendiam dan baik-baik pun juga menyimpan sisi kelam, misalnya dalam kisah Trudy.

Sebagai guru yang mencintai kegiatan mengajar, Andy Seed nampaknya memahami betul bahwa tugas guru bukan hanya meningkatkan kemampuan siswa dalam hal akademik, namun juga membangun karakter anak didik. Ini nampak dalam bagaimana Andy menghadapi Susan yang cerdas dan selalu mendapatkan nilai sempurna, namun kompetitif, angkuh dan selalu meremehkan teman-teman di kelasnya. Kurangnya kemampuan siswa cerdas dalam interaksi dengan teman sebaya juga terungkap dari sosok Marcus yang digambarkan Andy seperti profesor. Berbeda dengan Susan yang kompetitif, kecerdasan Marcus adalah bawaan lahir. Tanpa berusaha keras pun Marcus sudah menjadi siswa dengan kemampuan akademik di atas rata-rata. Sayangnya, Marcus tidak memiliki teman dekat karena teman-temannya terkesan nggak nyambung dengan apa-apa yang dibicarakan Marcus.

Ada dua hal lain yang menyenangkan dalam membaca memoar ini. Pertama adalah kedekatan Andy dengan keluarga para anak didik. Ini terungkap dari kisah Anna Reed yang kakak kandungnya, Ben, mengalami kecelakaan hebat dan harus menjalani operasi serius di sebuah rumah sakit yang jauh dari desa. Andy, yang notabene bukan bagian dari keluarga Reed, ikut kepikiran dan tidak bisa tidur memikirkan nasib Ben yang antara hidup dan mati.

Yang kedua adalah kenyataan bahwa Craghtwaite Primary School adalah sekolah negeri dengan siswa beragam seperti Gary yang sangat miskin dan tinggal di council house, jarang mandi, dan hampir selalu datang ke sekolah dengan badan bau dan seragam berlubang, tapi sangat jago disko; mayoritas siswa datang dari keluarga petani dan peternak; Anna yang ayah pilot dan ibunya guru, Pamela yang ortunya bekerja di National Park, hingga Marcus yang kedua orang tuanya berprofesi dokter. Sekarang, rasanya nggak mungkin ada dokter dan dosen menyekolahkan anak di sekolah negeri. Kecuali keluarga dosen imigran seperti Pakne Krucils.

Mengasuh anak-anak usia sekolah dasar tentu juga ada sisi humornya. Misalnya ketika Anna melaporkan kepada Andy bahwa Ricky menulis piss off yang merupakan kata yang sangat kasar dan tidak sopan di pekerjaannya. Yang ditulis Ricky adalah, “i wnt to Tims bufday pratee i got a piss off cayk.”

Atau saat Andy membuat soal, “If a can of cla and a toffee bar cost 50p anf the toffee bar is 18p, how much is the can cola? Give your reason?”
Maka ada yang menjawab, “Cola is 30p. I know becos I by one down the shop most days.”

Dan akhirnya, dari cara Andy menumbuhkan potensi anak-anak didiknya, sebagai pembaca saya ikut mengambil hikmah bahwa setiap anak memang sebetulnya bukan kertas kosong. Memang ada tokoh Ricky yang sangat lamban dalam belajar, dan akhirnya diketahu menderita diabetes kronik dan akhirnya harus dipindahkan ke sebuah sekolah khusus bagi anak-anak yang mengalami keterlambatan dalam belajar. Tetapi selebihnya, Andy menemukan potensi-potensi mereka, seringkali secara tak disengaja.

Ian payah dalam akademik, tetapi penguasa segala bidang olah raga dan akhirnya menjadi salah satu bintang sepak bola di Inggris. Vicky tidak menonjol dalam bidang apa pun dan tidak ada yang memperhatikan keberadaannya, sampai ia menyanyi solo dengan merdu di malam Natal. Tim tidak pernah tertarik dengan urusan sekolah sampai ketika Andy Seed mengajak anak-anak menanam benih dalam rangka pelajaran sains. Sejak saat itu Tim selalu betah berada di sekolah, rajin membaca dan menulis tentang tanaman, dan dengan tegas mengatakan cita-citanya adalah ingin menjadi gardener. Juga sosok Lisa yang sejak acara foto bersama elang liar baru diketahui ternyata pecinta dan penakluk satwa liar dan hebat dalam melukis. Dengan peralatan melukis seadanya, Lisa melukis elang yang mendapatkan apresiasi dari Andy yang juga mahir melukis.

Selebihnya, adalah peran kepala sekolah. Tanpa dukungan Joyce Berry, Andy tidak akan bertahan menghadapi kerewelan wali kelas kaya raya seperti Mr Fisher. Di akhir kisah, Jason Fisher berubah menjadi siswa yang jauh lebih baik berkat kerjasama guru kelas, seluruh guru di sekolah, juga kepala sekolah.

Colchester, 23 Maret 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s