Cewek-cewek Lebih Tertarik Cowok-cowok Nakal? (ODOP Day 62 of 99)

Pada satu kesempatan, ketika ngumpul bareng teman-teman Indonesia di Nottingham, seperti biasa salah satu yang dibahas adalah keluarga, anak-anak, dan sejenisnya. Salah satu Mas yang waktu itu sedang ngambil S2 dan belum menikah, ditanya ibu-ibu, “Lha Mas ini kapan mau menikah? Apa udah ada calonnya?”

Sambil cengar-cengir Si Mas menjawab, “Ah, Bu… Saya pacar aja nggak punya kok… Susah bener cari pacar di zaman sekarang… Cewek-cewek itu lebih tertarik sama cowok yang nakal-nakal…”
“Lha apa perlu kami carikan?” tawar ibu-ibu lagi.

Saya, yang masih dalam masa-masa perjuangan berusaha menguasai salah satu keterampilan wajib emak-emak yakni menenangkan anak yang nggak suka keramaian, dalam hal ini baby Fahdiy, cuma bisa nyimak, menggendong anak sambil modar-mandir bak setrikaan…

Delapan tahun kemudian, saya punya dua anak laki-laki dan dua anak perempuan. Beberapa waktu lalu ngobrol dengan Pakne Krucils, “Masa iya sih banyak pendapat women can’t resist bad boys?”
“Bener,” jawabnya.
“Ya enggak, lah…”
“Lho, buktinya bad boys itu lebih berpotensi gampang cari pacar daripada yang nice guys…”
“Pengalaman pribadi, Pak?”
“Ho-oh… Hahaha…”
“Kenapa kok gitu ya?”
“Bad boys khan terkesan adventurous, gitu… Ya keren saja sih… Makanya cewek-cewek zaman SMA khan seneng sama cowok-cowok yang suka ngebut naik motor di jalanan…”
Saya===> mendengus. “Nggak pernah aku tertarik sama cowok model begituan… Lagipula mana ada orang tua mau bermenantu laki-laki yang nakal-nakal seperti itu?”
“Lho, kemauan orang tua dan anak gadisnya khan beda, Bu…”
“Kalo saintis pasti mayoritas nice guys, ya, khan, Pak? Nggak butuh cewek. Yang penting ada koneksi internet buat kirim email ke kolega dan nulis riset…”
“Hehehe…”

Kalo dipikir-pikir, memang beneran, banyak juga laki-laki dewasa yang susah menemukan calon istri. Di mata para gadis, para lelaki baik-baik yang nggak pernah nakal kesannya:
1. Pencitraan, alias nggak asli.
2. Tidak punya kepemimpinan, karena ngalah terus sama perempuan. Kelak kalau sudah berkeluarga, diprediksikan akan bergabung dengan Ikatan Suami Takut Istri. Yaa emang kadang-kadang kita sebagai istri sesekali harus ditabok kalo mulai ngelunjak. Tapi jangan bilang bagian ini ke Pakne Krucils…
3. Laki-laki baik-baik membosankan. Karena hidupnya tertata, teratur, terjadwal. Pokoknya bosen, kalau istrinya tipe kreatif dan petualang… Asal bukan petualang cinta aja sih…
4. Pada dasarnya, perempuan senang merasa dibutuhkan. Makanya lebih banyak perempuan yang kerja sebagai perawat atau guru untuk anak PAUD, TK, dan SD. Para pria baik-baik tidak memerlukan orang lain, sementara laki-laki ‘nakal’ lebih terkesan menantang untuk ‘dibetulkan’.
5. Laki-laki baik-baik kelihatannya lemah. Baik dalam hal fisik (jarang lho ilmuwan menekuni olahraga keras seperti beladiri atau berbahaya seperti mendaki gunung dan arung jeram) maupun dalam hal adu mulut. Paling juga ngalah… Hahahahaha….
6. Laki-laki baik-baik kesannya nggak tahu cara menaklukkan hati wanita. Full stop.

Ya, mitosnya sih seperti di atas. Tentu saja tidak semua laki-laki baik-baik karakternya begitu. Dan sebagai orang tua, tentu kita ingin mendidik anak-anak lelaki kita supaya kelak menjadi laki-laki yang betul-betul punya karakter dan tanggungjawab sebagai laki-laki.

Di sisi lain, yang harus diwaspadai juga adalah kecenderungan beberapa perempuan yang selalu jatuh cinta kepada laki-laki yang nakal. Ada juga, lho, Mbak-mbak yang pacarnya nggak pernah bener. Ditawari yang baik, malah nggak tertarik. Makanya sampai banyak laki-laki yang bilang, “Cewek-cewek lebih tertarik sama cowok-cowok yang nakal-nakal…”

Kalau kita punya anak perempuan, kita tidak bisa ngurusi anak laki-laki yang nakal-nakal di luar sana. Secara legal, di atas kertas, yang bisa kita urusi adalah anak-anak perempuan kita sendiri. Kita tidak bisa mengintervensi orang tua lain yang menghasilkan anak laki-laki yang nakal-nakal tersebut.

Akan menjadi masalah jika ternyata, kita punya anak perempuan baik-baik, sementara di luar sana lebih banyak anak laki-laki yang nakal-nakal, atau anak laki-laki baik-baik tapi membosankan dan tidak bisa menjadi pemimpin di dalam keluarga. Karena itu berita tentang tawuran atau klithih yang marak terjadi di Yogyakarta, sebetulnya bukan hanya perlu mendapatkan perhatian dari ibu-ibu yang punya anak laki-laki, tapi juga yang punya anak perempuan.

Women can’t resist bad boys ini banyak terjadi di negara-negara Barat sekuler yang memang sudah hancur tatanan sosial kemasyarakatannya. Di Indonesia, saya pribadi merasa harus berterima kasih kepada dakwah Islam yang geliatnya jauh lebih besar daripada di United Kingdom. Meski dakwah saja tentu sangat tidak cukup jika negara tak mampu menanggulangi beragam kenakalan remaja seperti klithih. Yang ideal tentu saja, memperbanyak dakwah di tengah-tengah masyarakat supaya lebih banyak orang tua sholih-sholihah yang mau berpayah-payah mengasuh dan mendidik anak. Maka sudah seharusnya negara memfasilitasi munculnya individu-individu beriman dan masyarakat yang bertakwa dengan jalan. Paling sip kalau negara juga memberlakukan sistem pemerintahan yang syar’i.

Mau jadi cowok cool and looks adventurous? Ngaji dan dakwah sono! Kalo ngajinya beneran amar makruf dan berani nahi munkar, dijamin, adrenalin juga meningkat.

Colchester, 19 Maret 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s