Tentang Parenting, dari Psikolog Najelaa Shihab (ODOP Day 60 of 99)

Sumber foto: Forbes Indonesia

Mencintai dengan Lebih Baik

Oleh Najeela Shihab (Psikolog)

Proses pengasuhan bisa dianalogikan seperti maraton karena tujuannya adalah jangka panjang. Tidak mudah memang membayangkan tujuan kita mengasuh anak-anak dalam jangka panjang untuk 20-30 tahun ke depan pada saat kita juga berhadapan dengan masalah dan tantangan setiap hari. Sulit untuk membayangkan dalam jangka 20-30 tahun ke depan, apa dampak pengasuhan kita bagi diri anak sendiri dan keluarganya kelak.

Tujuan jangka panjang ini sebetulnya bisa dibagi-bagi lagi menjadi tujuan jangka pendek dan jangka menengah sesuai dengan usia dan tahap perkembangan anak. Pengasuhan dan pendidikan anak dalam keluarga sebenarnya membicarakan tentang pekerjaan puluhan tahun membesarkan anak dan puluhan tahun pengembangan sebuah keluarga. Setiap anak memiliki pengalaman yang berbeda. Setiap keluarga juga melewati pengalaman yang berbeda-beda. Di masing-masing tahapan orang tua memerlukan proses dan struktur yang berbeda.

Lain sekali rasanya menjadi orang tua dari seorang anak yang masih bayi, dengan menjadi orang tua dari anak yang sudah usia sekolah. Lain pula pengalaman yang dialami orang tua dengan anak balita, dengan orang tua yang memiliki anak remaja. Lain juga rasanya menjadi pasangan yang baru saja menikah dan sedang dalam masa bulan madu, dengan pasangan suami istri yang sudah puluhan tahun bersama. Tetapi adalah suatu keharusan bagi sebuah keluarga untuk memiliki dan selalu mengingat-ingat visi atau tujuan jangka panjang, walaupun seringkali tujuan-tujuan jangka menengah dan pendek begitu mempesona dan membuat kita lupa pada visi dan tujuan jangka panjang. Maka maraton ini harus dilalui bersama-sama.

Jalan pintas tidak pernah efektif. Sehingga di dalam keluarga, yang seharusnya dilakukan adalah mencari cara bagaimana proses yang benar yang seharusnya dilalui. Mencari cara adalah tanda cinta. Mencari cara yang benar berarti kita tidak pernah putus dan kita percaya bahwa jika kita melewati proses dengan benar, akan membantu kita menghantarkan kepada hasil yang baik dan menolong kita mencapai tujuan jangka panjang.

Yang paling sulit dari menjadi orang tua adalah percaya bahwa anak memiliki kemampuan, justru sebelum anak bisa membuktikan bahwa dirinya mampu. Secara bercanda kita sering mengatakan kepada orang lain, “Kasih buktinya dulu dong baru saya akan percaya.”
Tetapi ketika kita bicara kepada anak, yang terjadi adalah sebaliknya. Kita harus percaya dulu, baru kemudian anak akan membuktikan. Anak pasti akan membuktikan bahwa dia bisa, pada saat kita percaya.

Kadang kala susah untuk mengingat impian kita. Yang lebih sering dingat adalah hal-hal negatif, atau hal-hal yang sebetulnya bukan hal terbaik yang mampu diberikan anak. Mencari keseimbangan ini sebetunya tidak mudah. Karena orang tua juga perlu berhati-hati agar ambisi orang tua tidak kemudian hanya menjadi sesuatu yang hanya dimiliki orang tua, tetapi tidak menjadi impian dan aspirasi yang dibagi dengan anak.

Berada di dalam keluarga tidak mungkin bebas masalah. Berada di dalam keluarga selalu penuh dengan tantangan. Terlalu enak rasanya kalau kita menjadi orang tua yang mengasuh anak yang 100% selalu merasa bahagia. Anak pasti memiliki saat-saat di mana ia berhadapan dengan tantangan emosi, bahkan kita sebagai orang tua pun juga masih mengalami hal yang sama. Tidak ada yang sempurna. Anak tidak memerlukan orang tua yang sempurna, tetapi membutuhkan orang tua yang realistis, yakni punya harapan yang wajar pada tumbuh kembang anak. Demikian juga sebaliknya. Orang tua tidak akan pernah mendapatkan anak yang sempurna, tetapi ujiannya adalah apakah kita bisa hadir mencintai dengan tulus, justru di saat yang sulit. Anak memerlukan dukungan orang tua, justru pada saat dia mengalami masalah.

Sulit untuk bisa menerima, kalau pun kita bisa menerima, lebih sulit lagi untuk mampu menerima (kekurangan dan kesalahan anak) tanpa drama. Penerimaan tanpa drama adalah tingkatan yang tinggi dalam sebuah hubungan di dalam keluarga. Pada saat anggota keluarga -siapa pun dia-, mengalami tantangan atau masalah, maka sebetulnya ia sudah sibuk dengan tantangan-masalah-dan dramanya sendiri, sehingga yang dibutuhkan adalah cinta yang tak bersyarat, penerimaan yang tanpa drama, yang akan membantunya untuk berfungsi dengan optimal yang akan membantu keluarga untuk bertahan dalam situasi apa pun.

Pada saat kita memilih menjadi orang tua, tentu kita mengambil risiko-risiko tertentu. Kita punya kekhawatiran-kekhawatiran tertentu. Tetapi, menjadi orang tua yang baik itu bukan sesuatu yang terjadi secara instan. Menjadi orang tua yang bisa mencintai lebih baik membutuhkan proses, dan memerlukan pengalaman. Termasuk pengalaman gagal.

Yang paling menyenangkan adalah, sebetulnya kesempatannya tidak pernah berhenti. Anak tidak punya pilihan untuk memilih orang tua lain, kita pun tidak memiliki pilihan untuk menukarkan anak kita dengan anak yang lain. Karena itu kesempatan untuk terus menerus belajar ini seharusnya menjadi sesuatu ayng sangat berharga di dalam keluarga. Tidak perlu menjadi yang paling baik, tetapi yang terpenting adalah berusaha untuk terus lebih baik daripada apa yang kita lakukan kemarin.

Proses belajar di dalam keluarga terjadi terus menerus. Bukan hanya anak yang terus tumbuh dan terus belajar, orang tua pun terus tumbuh dan terus belajar. Untuk bisa belajar bersama-sama, sebetulnya ada modalnya. Orang yang bisa belajar adalah orang yang selalu ingin tahu, selalu penasaran dalam artian positif, selalu ingin lebih baik, dan juga adalah orang yang tidak takut salah.

Hubungan yang komplit itu punya kombinasi, komitmen yang kuat, kedekatan yang hangat, tapi juga keseruan yang dibagi bersama. Kalau kita bicara tentang permainan, humor, sebetulnya kita bicara tentang hal yang bisa dilakukan oleh semua anggota keluarga.

Perasaan bahagia itu menular. Jika dijadikan kebiasaan lama-lama menjadi budaya yang menetap dalam keluarga kita. Anak-anak yang didampingi dalam agenda tumbuh kembangnya, anak-anak yang merasa bahwa orang tuanya bahagia ketika sedang bersamanya, akan menjadi anak-anak yang luar biasa kuat dan memberikan kebahagiaan buat orang lain juga.

Apa yang kita rasakan di keluarga kita, akan menjadi pengaruh untuk semua yang ada di lingkungan kita. Karena itu, jadikanlah bermain dan tertawa menjadi hal yang setiap saat membuat kita rindu kepada keluarga kita. Asyik bermain bersama. Proses bermain harus menyenangkan. Karena jika tidak menyenangkan, maka proses itu bukan proses bermain. Pada saat kita berbicara tentang bermain bersama di dalam keluarga, seharusnya itu adalah proses yang dinikmati, yakni proses yang menjadi candu dan membuat ketagihan oleh semua anggota keluarga. Bukan hanya anak yang perlu bermain, orang tua pun perlu bermain.

Mengasuh anak-anak dan keluarga dengan CINTA

C-ari cara yang terbaik dalam mengasuh dan mendidik anak. Karena pengasuhan adalah maraton (pekerjaan jangka panjang), maka hasilnya tidak akan bisa langsung dilihat dalam 1-2 minggu.
I-mpian yang tinggi, yakin dan percaya bahwa anak mampu, sebelum anak membuktikannya.
N-erima tanpa drama, ketika ternyata hasil tidak sesuai keinginan. Nerima anak dengan cinta tanpa syarat, menerima anak-anak apa adanya setelah usaha maksimal yang mampu kita berikan.
T-idak takur melakukan kesalahan, karena kesempatan untuk memperbaiki diri tidak pernah berhenti. Tidak harus menjadi orang tua terbaik, cukup melakukan yang lebih baik daripada hari kemarin.
A-syik bermain bersama keluarga, karena kebahagiaan itu menular.

Sumber: rekaman video, link lupa disimpen…

Colchester, 15 Maret 2017

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s