Prestasi Anakku: Mau Makan di Sekolah (ODOP Day 59 of 99)

“Dara didn’t eat her lunch,” lapor Mrs. Nicholson, wali kelas Reception (usia 4-5 tahun)
“It’s okay…” kata saya santai. Teringat masa-masa sekolah TK dulu. Sangat benci dan sedih kalau diwajibkan untuk makan di sekolah. Betul-betul tidak suka.
“But she needs energy because we have lots of activity after lunch…”
“Ya sudah, nanti saya bilangin di rumah supaya dia mau makan di sekolah…” kata saya sambil mikir, ini eike emaknya kok malah santai-santai saja sementara situ bukan ibunya malah kuatir…

Saya pribadi percaya insyaAllah Dara nggak akan kekurangan gizi meski menolak makan siang di sekolah. Soalnya kalau di rumah asupan nutrisinya emang banyak. Tapi, saya ajak juga bicara soal makan siang di sekolah. Merayunya supaya mau makan siang di sekolah.

Sampai akhirnya, saya dan gurunya sepakat agar Dara duduk dijejerkan Dinara ketika jam makan siang. Rencananya, kalau trik ini tidak berhasil, maka saya akan membekalinya makan dari rumah. Pilihan yang kurang saya sukai. Pertama, rugi dong, karena Dinara dan Dara punya jatah makan siang yang dibayari pemerintah setempat. Jadi orangtua gak perlu bayar apa pun. Tinggal memberikan info tambahan apakah anaknya vegetarian, ada alergi terhadap makanan tertentu, dan semacamnya. Karena sekolah tidak menyediakan menu makanan halal, satu-satunya pilihan ya vegetarian, yang masih diberi ikan dan telur. Kalau Vegan, 100% nabati.

Setiap pulang sekolah, Dinara selalu melaporkan, “Dara didn’t eat her lunch today… I saw her…” yang biasanya disambung dengan cerita tadi makan apa saja di sekolah
Dan saya selalu bilang, “Ngga apa-apa, Mbak… Dara khan masih belajar…”
Akhirnya beberapa kali Dinara lapor, “Dara didn’t finish her lunch today…”

Sampai akhirnya, Dara membawa pulang sertifikat ini. Sertifikat kuning bertuliskan Headteacher’s Certificate, Awarded to Dara for eating some of her lunch.”
“Ini sertifikat yang harus dipigura,” gurau saya ke Pakne Krucils, “Nggak semua anak dapet sertifikat untuk kategori mau makan di sekolah…”

Sekarang, gurunya nggak pernah komplain lagi soal makan siang Dara. Dinara pun sudah dibebaskan dari tugas menyemangati Dara supaya mau makan siang di sekolah.

Apakah Dara di sekolah Dara selalu lancar makannya? Saya nggak yakin. Tapi insyaAllah, menilik dari total jumlah makanan yang masuk kalau di rumah, dan tentunya dari pantauan berat badannya, ngga ada yang perlu dikhawatirkan. Mungkin memang benar pendapat Prof. Daniel Mohammad Rosyid di artikelnya Pekerjaan Rumah, “Anak yang sarapan dan makan malam bergizi yang disiapkan ibu di rumah tidak terlalu membutuhkan makan siang seragam di sekolah. Hanya anak yang tidak sarapan yang mengharapkan makan siang di sekolah.”

Colchester, 13 Maret 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s