Mengapa Saya Menulis (ODOP Day 58 of 99)

http://stuffwriterslike.com/14-reasons-why-write/

Sejauh yang bisa saya ingat, tiga tahun lalu ketika kami baru saja menjadi warga Colchester, perpustakaan umum Greenstead Library tidak seapik sekarang. Tiga tahun lalu, secuil perasaan nelangsa sempat singgah di hati melihat kenyataan perpustakaan berjarak 6 menit jalan kaki itu tak semegah Beeston Library di Nottingham. Tapi karena tak ada lainnya, ya mau tak mau harus menerima yang ada.

Setiap orang, termasuk anak-anak, berhak menjadi anggota perpustakaan dan boleh meminjam buku maksimum 14 buah. Karena saya punya 3 anak yang menjad anggota perpustakaan, jadi bisa memborong 50-an dalam sekali pinjam. Mahdi Si Bungsu belum saya daftarkan jadi anggota perpustakaan. Alasan saya sebetulnya hanya malas mengurus saja. Padahal mengurusnya pun juga mudah. Cukup membawa surat tanda bukti kalau yang bersangkutan tinggal di Cochester, tak sampai 10 menit kartu tanda anggota sudah berada di tangan. Mau bagaimana lagi. Ini nasih anak bungsu. Dulu Fahdiy, baru berumur enam bulan sudah langsung jadi anggota. Dinara langsung mendaftar ketika berumur 2-3 minggu. Dara, sebagai anak ketiga, emaknya sudah rada malas. Karena kalau pinjam buku bisa nebeng kartu kakak-kakaknya. Tapi akhirnya punya kartu anggota sendiri sebagai hadiah ulang tahun ke-3. Sekarang Mahdi, insyaAllah baru mau ngurus… Hehe…

Mungkin karena saya sering meminjam buku-buku anak dalam jumlah banyak, lambat laun perpustakaan di bagian buku anak mengalami perbaikan signifikan. Jumlah bukunya bertambah banyak, lebih beragam, dan banyak yang baru tanpa menghilangkan novel klasik.

Dua tahun lalu,  pihak sekolah bekerja sama dengan perpustakaan membuat program Six Books in Six Weeks, yang dimaksudkan untuk merangsang anak-anak agar pergi dan meminjam buku ke perpustakaan minimal sekali sepekan selama enam minggu. Hadiahnya, tiket melihat stadion sepakbola. Boleh memilih satu dari tiga, Colchester United, West Ham, atau Tottenham Hotspur. Fahdiy dan Dinara termasuk yang ikut menang. Tapi nggak bisa ikut pergi nonton stadion. Karena tidak diperbolehkan mengajak anggota keluarga lain (Mahdi), dan acarany hari Jumat pas bapaknya harus sholat Jumat.

Di minggu pertama program Six Books in Six Weeks, setiap kali meminta petugas perpustakaan menyetempel kartu bocah-bocah, Si Ibu ‘librarian’ akan mengajukan sejumlah pertanyaan, dalam rangka survei. Salah satu pertanyaan yang saya ingat adalah, “Mengapa Anda mendorong anak membaca buku?”

Dengan berbelit-belit saya menjawab, “Karena saya senang membaca dan saya juga ingin kelak anak-anak saya senang membaca… Dan seterusnya…”
Si Ibu bertanya lagi, “Do you think reading is important?”
Tentu saja saya mengiyakan.

Aktivitas membaca adalah aktivitas penting. Bahkan bagi muslim sendiri, ayat yang pertama kali diturunkan adalah berikut ini:

قْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ، خَلَقَ الْأِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ، اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ، الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ، عَلَّمَ الْأِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

Artinya: “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu paling mulia. Yang mengajar manusia dengan perantaraan qalam. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya (manusia tersebut).” (QS. Al-‘Alaq [96]: 1-5)

Ayat pertama yang diturunkan adalah perintah untuk membaca. Pada masyarakat yang menjadikan membaca sebagai budaya, akan tumbuh kecintaan kepada ilmu pengetahuan dan terbiasa menulis.

Sekarang, setelah jadi istri dosen, saya punya pandangan baru tentang menulis. Karena suami sering membicarakan sulitnya akademisi di Indonesia menulis paper penelitian, saya pikir kesulitan itu muncul karena pada dasarnya menulis belum menjadi budaya di Indonesia, baik di kalangan dosen maupun masyarakat umum.

Masalahnya, budaya menulis ada karena membaca. Jadi kalau jarang membaca, akhirnya jadi kesulitan dalam menulis.

Sebetulnya akan sangat membanggakan jika banyak orang di Indonesia bisa menulis. Kalangan intelektual, wirausahawan, ulama, pejabat, hingga ibu rumah tangganya, semua bisa menulis. Yang ditulis tak harus selalu buku atau paper penelitian. Dewasa ini anak-anak Indonesia kesulitan mencari sosok yang karakternya baik dan dapat dijadikan sumber inspirasi. Salah satu penyebabnya adalah karena sedikitnya orang dewasa yang mampu menulis cerita dan buku untuk anak-anak.

Fasilitas untuk mendorong kegiatan membaca dan menulis di Indonesia tentu belum sebaik di UK. Tapi secara individual, tidak ada alasan untuk menunda meningkatkan kualitas dan kuantitas bacaan dan mengasah keterampilan menulis.

Sembari mengupayakan tegaknya sistem kemasyarakatan dan sistem pendidikan yang sahih, para ibu rumah tangga bisa mulai menulis sekarang juga. Dimulai dari diri sendiri, dari sekarang, dan mulai dari yang ringan. Misalnya menulis di blog. Inilah sebabnya mengapa saya menulis.

(PR grup menulis Revowriter)

Colchester, 12 Maret 2017)

Advertisements

One thought on “Mengapa Saya Menulis (ODOP Day 58 of 99)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s