Banyak Anak Banyak Rezeki? (ODOP Day 57 of 99)

Seiring dengan kebijakan President AS Donald Trump yang anti-imigran, PM Kanada Justin Trudeau kian melambung namanya. Kepala negara ganteng ini disanjung banyak orang lantaran menyatakan Kanada terbuka bagi imigran.

“To those fleeing persecution, terror & war, Canadians will welcome you, regardless of your faith. Diversity is our strength #WelcomeToCanada,” demikian tweet Sang PM di akun twitternya.

Kanada sendiri sebetulnya seharusnya akan diuntungkan oleh kehadiran para imigran. Saat ini Kanada sudah termasuk negara yang mengalami penuaan. Artinya, proporsi penduduk lanjut usia sangat banyak dan jumlah penduduk remaja kian sedikit. Sebanyak 1 dari 6 orang di Kanada berusia lebih dari 64 tahun. Dalam bahasa demografi, jumlah penduduk berusia 65 tahun lebih banyak daripada yang berusia 15 tahun.

Sebetulnya fenomena yang dialami Kanada dialami juga oleh negara-negara maju lainnya. Eropa sudah lama mengalaminya, dikenal dengan istilah the Ageing of Europe atau the Greying of Europe. Di Asia, Jepang, Korea Selatan, dan Cina termasuk memasuki periode berikut ini. Setelah sukses dengan kebijakan satu keluarga satu anak, dalam beberapa tahun ke depan Cina terancam kekurangan angkatan tenaga kerja. Korea Selatan sudah terang-terangan menyatakan siap menerima imigran untuk mengatasi angka kelahiran penduduk yang sangat rendah. Jepang diprediksi akan punah di tahun 2040 akibat generasi mudanya malas menikah.

Di Eropa Barat, persoalan rendahnya angka kelahiran penduduk sudah lama jadi isu serius. Di Austria, bos Partai FPÖ Heinz-Christian Strache mengatakan, “I want 100,009 Austrian babies by 2030, not 100,000 immigrants.”

Sebetulnya, para ahli memprediksi panjang usia yang diharapkan di Eropa sejak kelahiran adalah 80 tahun. Ternyata usia manula di Eropa tidak seperti yang diprediksikan. Seiring dengan meningkatnya ilmu kesehatan dan majunya ilmu kedokteran, para manula Eropa semakin panjang usianya hingga 82-83 tahun. Mereka yang usianya semakin panjang akan mendapat tunjangan dana pensiun dan asuransi semakin panjang pula. Oleh karena itu, biaya yang harus dibayar perusahaan asuransi pun semakin panjang.

Masyarakat yang tua membutuhkan pelayanan lebih seperti pelayanan kesehatan dan perawatan khusus, panti jompo, dan transportasi yang tepat. Para manula (manusia lanjut usia) membutuhkan pelayanan, perawatan dan bantuan lebih besar. Di Eropa bahkan panti jompo sudah tidak mampu menampung para manula. Mereka ini terpaksa berada di list tunggu untuk menempati panti jompo selama bertahun-tahun. Selain itu, menghuni panti jompo bagi para manula berarti mereka jauh dari keluarga dan kehangatan kasih sayang yang ada dalam keluarga.

Dampak negatif lain dari penuaan masyarakat di Eropa adalah minimnya tenaga kerja profesional. Kondisi ini berujung pada minimnya pemanfaatan investasi, naiknya biaya di sektor pelayanan, menurunnya daya saing dan kesejahteraan langsung masyarakat. Meski demikian, benua Eropa masih terus mengalami penurunan angka kelahiran. Mayoritas negara Eropa tercatat memiliki angka kelahiran terendah di dunia.

Jika angka kelahiran di Barat sudah pada level mengkhawatirkan saking rendahnya, dan angka kelahiran di Asia mulai tersendat-sendat, tidak demikian di Afrika. Benua hitam ini masih akan berjaya menyumbangkan populasi penduduk bumi.

Maka, bagi negara-negara yang mengalami greying population, pilihan bisa jadi adalah berikut ini. Pertama, berusaha meningkatkan angka kelahiran penduduk. Menurut saya sih ini sulit diterapkan di negara-negara maju. Kedua, membuka pintu imigrasi, sebagaimana yang dilakukan Inggris yang kehabisan tenaga kerja laki-laki akibat Perang Dunia II dan mendatangkan banyak imigran dari India. Ini juga yang dilakukan Justin Trudeau di Kanada, meski belum sebanyak di Inggris. Dampaknya, jumlah tenaga kerja di Inggris relatif cukup. Tapi, kehadiran para orang yang bukan white British ini memicu protes anti-imigrasi di kemudian hari.

Opsi terakhir adalah memperbanyak robot, seperti yang dilakukan di Jepang.

Total fertility rate perempuan Kanada hanya 1,6 per orang. Artinya, rata-rata setiap perempuan Kanada hanya punya anak 1,6 orang (1-2 orang). Bandingkan dengan saya yang punya anak 4 orang.

Sementara TFR perempuan Singapura hanya 0,8. Taiwan, Hong Kong, Korea Selatan, Jepang, semua negara-negara ini TFR-nya juga rendah, nggak sampai angka 2. Huhuhu, padahal konon berdasar tes PISA, kualitas sistem pendidikannya terbaik di dunia…

Jadi, untuk yang punya banyak anak, kita optimis bahwa di masa depan anak-anak ini akan ada sendiri rezekinya. Tentu saja sebagai orang tua, kita juga harus bertanggungjawab mengasuh dan mendidik anak agar mampu menjemput rezekinya di masa mendatang.

Bisa jadi, rezekinya tak jauh dari orang tuanya. Tapi ada kemungkinan, rezekinya ada di belahan bumi Allah yang lain. Misalnya, di Kanada.

Colchester, 11 Maret 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s