Pendidikan, Antara Barat dan Timur (ODOP Day 56 of 99)

The Program for International Student Assessment, atau biasa dikenal sebagai tes PISA, adalah tes yang diselenggarakan oleh The Organization for Economic Co-operation and Development (OECD). Tes ini mengukur kemampuan siswa berusia 15 tahun dalam 3 bidang dasar; sains, membaca, dan matematika (science, reading, and math).

Hasil tes PISA tahun 2012 menempatkan negara-negara Asia Timur sebagai negara-negara top, jauh melampaui negara-negara Barat seperti United Kingdom (UK) atau United States (US). Negara-negara seperti Shanghai (Cina); Singapura, Hongkong (Cina), Korea Selatan, Macau (Cina), Taiwan, dan Jepang, menduduki peringkat jauh di atas mayoritas negara-negara Barat. United Kingdom (UK) bahkan tidak termasuk di dalam top 20 di semua bidang, baik science, reading, maupun math.

Hasil tes PISA tahun 2015 yang diumumkan Desember 2016 lalu menunjukkan hasil tak jauh berbeda. Singapura meneguhkan diri berada di ranking teratas memborong semua kategori, terbaik dalam science, reading, dan math. (gambar di bawah)

Selama bertahun-tahun hasil tes PISA menjadi perdebatan pemerintah dan para pakar pendidikan di UK. Mereka terus mengkaji mengapa hasil tes PISA siswa-siswa UK berada jauh di bawah negara-negara Asia Timur. Kenyataannya, hasil tes anak-anak di UK menunjukkan anak-anak Asia lebih berprestasi secara akademik dibandingkan anak-anak white British.

Genetik? Kelihatannya tidak. Di UK, ketika berusia 5 tahun, anak-anak white British, India, dan Cina, memiliki kemampuan hampir sama. Tetapi di usia 16 tahun, anak-anak keturunan Cina dan India jauh meninggalkan anak-anak white British. Anak-anak white British bahkan berada di bawah Black African yang dianggap kasta yang rendah (lihat gambar di bawah).

Saya pribadi nggak tertarik memperdebatkan mana sistem pendidikan yang lebih baik: versi Asia Timur dengan model pengasuhan Tiger Parenting-nya yang tidak memberikan anak banyak ruang untuk berkreasi, atau sistem pendidikan negara maju Barat yang menghargai kreativitas dan terbukti membawa negara-negara ini menjadi negara bangkit, maju, dan mampu menjajah negara-negara lain di bidang ekonomi.

Yang jelas, untuk para orang tua muslim di mana pun, pasti ada tantangannya. Tinggal di negara-negara maju, sistem pendidikannya pasti sekuler. Belum lagi stress-nya, karena anak-anak Korea Selatan, Singapura, Cina; kalau sudah mau masuk perguruan tinggi, les-nya sehari bisa berjam-jam. Sementara kalau Tinggal di negeri-negeri Islam, termasuk di Indonesia, nuansa ketakwaan cukup, tapi pendidikan yang baik memerlukan biaya berlangit-langit. Nggak cukup selangit.

Inginnya sih ada sistem pendidikan Islam. Wah, hari gini, masih pengen sistem pendidikan Islam? Ya kenapa tidak? Pendidikan Islam jelas bukan seperti sistem pendidikan Barat atau Asia Timur yang sekuler. Bukan pendidikan yang semata mengejar prestasi akademik, tapi miskin dalam memunculkan ilmuwan beriman dan bertakwa. Sistem pendidikan Islam sangat khas karena berada di tengah masyarakat yang bertakwa sehingga ilmuwan yang ada di dalamnya pun mayoritas berkepribadian Islam yang baik.

Jadi inget, sebagai ilmuwan bidang matematika, biasanya Pakne Krucils ditodong untuk ngisi pengajian dengan tema semacam Islam dan Sains. Alih-alih mengilmiahkan Islam, biasanya Si Doi malah cerita sejarah ilmuwan-ilmuwan muslim yang berjasa besar membangun dunia ilmiah di Barat. Ringkasnya, di akhir sesi, pesan yang disampaikan adalah, kita yang di Barat ini nggak usah terlalu kagum dengan ilmuwan Barat. Lha wong mereka ini ada karena pondasi-pondasi ilmunya diletakkan oleh para ilmuwan muslim di masa lalu.

Tapi ya memang tetep ada aja sih yang suka komentar, “Kita itu tidak usah melihat kembali ke belakang, tidak ada faedahnya membicarakan sejarah kegemilangan umat Islam di masa lalu… Yang penting itu sekarang…”

Ya tergantung sih. Kalau membincangkan sejarah keberhasilan sistem pendidikan Islam di masa lalu dipandang sebagai sekadar nostalgia tak berguna, ya memang akan seperti itu. Tapi kalau dimaksudkan untuk belajar dari sejarah, bahwa sangat dimungkinkan untuk mewujudkan sistem pendidikan yang menghasilkan ilmuwan-ilmuwan bertakwa, inovatif, dan produktif; ya itulah yang akan sampai ke benak kita.

Bahwa mewujudkan sistem pendidikan ideal semacam itu adalah hal yang sulit, tak ada yang memungkiri. Tetapi, sulit bukan berarti mustahil. Harusnya mikirnya begini. Kalau di zaman kuda gigit besi saja bisa diwujudkan, apalagi sekarang di era kuda gigit smartphone.

Colchester, 11 Maret 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s