Balada Mama PhD (ODOP Day 55 of 99)

Sumber foto: University of Glasgow

Pengajian online One Week One Juz hari Kamis lalu, Mbak Maya (Glasgow, United Kingdom) sharing tentang Hikmah dari Bandung ke Glasgow. Beliau berbagi pengalamannya menjalani peran sebagai istri, ibu, sekaligus PhD student. Di tahun 2011, Mbak Maya sudah menjadi mahasiswa master di University of Glasgow. Setelah lulus, oleh para dekan dan rektor di tempatnya mengajar beliau didorong untuk langsung ke S3.

Mbak Maya sempat galau karena waktu itu umurnya sudah 30 dan mama beliau menginginkan Mbak Maya menikah dulu sebelum sekolah S3. Alhamdulillah ternyata dapat jodoh yang juga berencana sekolah S3 di UK. Setelah menikah 5 bulan, ternyata Mbak Maya langsung hamil. Jadilah baby Marcella ikut ke mana-mana termasuk pas pembekalan staf Dikti.

Sebagaimana ‘umumnya’ ibu-ibu yang punya baby dan sekolah PhD, Mbak Maya sempat menjalani masa-masa galau, merasa bersalah karena membuat anak menderita akibat orang tua egois mengejar mimpi, sering nangis karena merasa mengorbankan kebahagiaan anak demi karier, dan seterusnya. Alhamdulillah, suami beliau memberikan dukungan terhadap studi Mbak Maya.

Tips dari Mbak Maya dalam menjalani peran ganda sebagai istri, ibu, dan PhD student:
1. Kalau studinya fleksibel nggak harus selalu ngantor, kerjakan di rumah. Bawa anak menemui supervisor ketika bimbingan.
2. Belajar di waktu malam ketika anak sudah tidur. Jangan habiskan waktu dengan medsos-an.
3. Karena suami juga PhD student, bikin jadwal gantian belajar dg suami.

Menjaga keutuhan rumah tangga ala Mbak Maya:
1. Hindari Long Distance Marriage
2. Latih kemandirian pada diri anak sejak dini, misal sejak bisa duduk disuruh makan sendiri.

Setelah sesi taushiyah, ada pertanyaan dari Mba Nurul, “Bagaimana dengan ibu-ibu PhD yang lebih banyak menitipkan anak di daycare?”

Nggak bisa dipungkiri, tantangan ibu yang sekolah PhD memang luar biasa besar. Dan tips dari Mbak Maya tentu tidak bisa diberlakukan untuk semuanya. Misalnya, karena Mbak Maya bidang studinya sosial, beliau tidak harus berada di laboratorium. Ini kasus berbeda dengan banyak mama PhD yang bidang keilmuannya sains misalnya, dan sering harus berhari-hari berada di laboratorium.

Kemudian jumlah anak. Mbak Maya anaknya baru satu, dan itu pun masih bayi. Tentu tantangan yang berbeda jika sang ibu sudah punya anak 2 atau 3, di mana keluhan umum biasanya adalah, “Di rumah sudah nggak bisa belajar lagi…”

Kemudian faktor suami. Kadang, pasangan suami istri mau tak mau harus menjalani LDM. Misalnya, karena beasiswa nggak cukup untuk berdua, atau suami sekolah di kota yang lain, salah satu lulus lebih dulu dan harus segera mengabdi di tanah air, dan sebagainya.

Kembali pertanyaan Mba Nurul, ketika masih di Nottingham, saya sering menjumpai ibu-ibu asal Malaysia yang sampai menitipkan bayi-bayinya di daycare 10 jam/hari, 5 hari/minggu, karena kedua ortunya sama-sama PhD student yang sama-sama harus sibuk nge-lab.

Menjawab pertanyaan Mba Nurul, Mbak Mia yang juga kandidat PhD student di bidang psikologi menerangkan, pada intinya menjadi ayah dan ibu harus menyiapkan 2 hal.

Pertama, menyiapkan ilmu, dalam hal ini memahami psikologi bayi dan anak. Mbak Mia menyebutkan bahwa manusia memiliki kebutuhan emosi, selain kebutuhan fisik. Kebutuhan fisik pada bayi jelas, misalnya air susu, MPASI, diganti popoknya, dan sejenisnya. Sedangkan kebutuhan emosi pada bayi di usia muda adalah membangun kelekatan (attachment).

Saya cari sumber lain tentang kelekatan, dapet berikut ini.

Psikolog anak Rini Hildayani menjelaskan, salah satu penyebab stress adalah karena adanya gangguan attachment atau kelekatan emosional yang bermasalah antara orang tua dan anak.

Attachment merupakan ikatan emosional yang bertahan, yang ditandai oleh kecenderungan untuk mencari dan memelihara kedekatan dengan orang tertentu. Bila terjadi gangguan attachment, anak bisa mengalami stress. Sementara usia 0-2 tahun merupakan periode sensitif untuk pembentukan ikatan emosional antara orang tua dan anak,” terang Rini Hildayani.

Ketika seorang bayi menangis, dan orang tuanya selalu merespon kebutuhan si bayi dengan memeluknya, di situlah kelekatan emosional akan terbentuk. Bayi tersebut akan merasa bahwa orang tersebut sangat mencintainya dan dapat diandalkan.

“Sebaliknya, kalau si bayi menangis tapi orang tuanya kadang merespon kadang tidak, bayi tersebut akan merasa dia tidak dicintai dan tidak dapat mengandalkan orang tersebut,” paparnya.

Pengalaman positif yang didapat pada masa awal perkembangan bayi tersebut menurut Rini sangat penting untuk membentuk secure attachment.

“Hal itu akan terbentuk jika orang tua bersikap sensitif, responsif, dan konsisten terhadap tanda-tanda yang ditampilkan bayi,” tambahnya.

Sikap orang tua yang sensitif, responsif, dan konsisten, dijelaskan Rini dapat membantu anak terhindar dari stres yang berisiko menyebabkan gangguan kesehatan, seperti gangguan saluran cerna.

Padahal seperti diketahui, saluran cerna yang sehat sangat mempengaruhi perkembangan otak anak, terutama di periode kritis atau golden moment di usia 0-6 tahun.

“Untuk menghindari stres karena dampak psikologis yang dialami anak, orang tua perlu bersikap sensitif dan responsif terhadap perilaku anak, serta meningkatkan hubungan yang berkualitas antar mereka,” pesannya (beritasatu, 3 April 2014).

Yang kedua, menurut Mbak Mia, jika sudah memahami pentingnya kehadiran orang tua dalam masa keemasan perkembangan anak, tetapi tidak bisa mendapatkan kondisi ideal, maka harus ada komunikasi di antara kedua orang tua. Semua keputusan dan risiko harus ditanggung bersama.

Misalnya, risiko menitipkan anak kepada keluarga (biasanya nenek), maka harus menjadi tanggung jawab berdua. Kelak, kalau ada masalah, juga menjadi tanggung jawab berdua.
Atau pilihan menitipkan buah hati di daycare, juga harus merupakan keputusan berdua sehingga jika di kemudian hari terdapat hal yang tidak sreg, tidak saling menyalahkan.
Jika ibu memilih mengalah dan memilih mendampingi anak dalam masa pertumbuhan, ini pun harus menjadi keputusan bersama. Sehingga kelak suami tidak mengeluh jika ternyata istri yang tidak berkarier ini tidak mampu menjadi penopang kebutuhan ekonomi keluarga. Suami juga diharapkan mampu memberikan dukungan jika istri yang terbiasa aktif di luar rumah, di masa-masa awal akan mengalami stress karena kegiatannya terbatas mengurus anak.

Mbak Mia menceritakan banyak juga kasus para ibu yang tidak siap menjalani peran hanya sebagai ibu rumah tangga, sehingga ustru menjadi ibu yang stress dan tidak mampu menjalin kelekatan yang baik dengan bayi/anak-anaknya.

Tambahan tips dari Mbak Maya, biasakan bersyukur. Misalnya, mensyukuri punya suami, punya anak, diberikan kesehatan, diberikan supervisor yang pengertian, diberikan topik penelitian yang bisa dikerjakan, dan seterusnya. Yang kedua, jangan jadikan anak sebagai beban. Karena ucapan itu doa. Ketika Mbak Maya mengeluh ke temannya yang belum menikah, “Kamu enak ya, bisa belajar kapan saja… Sementara aku, belajarnya harus menunggu anak tidur dulu…”

Setelah Mbak Maya mengeluh demikian, keesokan harinya Marcella demam 3 hari 3 malam nggak tidur.

Tips terakhir dari Mbak Mia, adalah tentang kesabaran. Pasutri yang salah satu atau keduanya menempuh pendidikan PhD harus sabar. Pasutri yang istrinya jadi Dra alias (Di rumah aja), juga harus sabar, misalnya karena hanya ‘single income’ pendapatan total keluarga tidak sebanyak jika istri juga berkarier.

Dan akhirnya, semua peserta pengajian saling menyemangati. Karena pada dasaranya, semua ibu memerlukan dukungan orang terdekatnya.

Colchester, 9 Maret 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s