Tentang Motivator dan Pakar Parenting (ODOP Day 54 of 99)

Ini kejadian menjelang pengajian akbar Keluarga Islam Indonesia di Britania Raya (Kibar) Autumn Gathering, Oktober 2016 lalu. Seperti biasanya, yang lebih dulu dapet info dan antusias untuk berangkat adalah saya.

“Siapa pembicara utamanya?” tanya Pakne Krucils.
Saya menyebutkan nama, dan seperti biasa Si Doi langsung meng-google-nya.
“Dia ini siapa, Bu”
“Ngga tau,” jawab saya tak peduli, “Ditulisnya sih cuma alumnus Kibar…”
“Ah, males datang kalau pembicaranya motivator…”
Saya langsung lemas. Terus terang saya pribadi nggak ambil pusing siapa yang akan jadi narasumber di Kibar Gathering. Soalnya, saya jarang nyimak. Biasanya saya lebih sibuk mengasuh krucils daripada duduk manis mendengarkan taushiyah dari para narasumber ini.
Lagipula Kibar gathering khan bukan cuma pengajian dewasa. Ada pengajian untuk anak-anak. Ada bazaar-nya juga. Dan pastinya, bisa ketemuan dengan Mbak-mbak dari kota-kota lain yang selama ini jarang bisa ditemui langsung.

Itu kali pertama saya tahu Pakne Krucils males dengerin motivator ngomong. Kemarin nanya lagi, “Kamu tahu siapa Rendy Saputra?”
Dari hasil google, saya jawab, “Dia pengusaha baju muslim KeKe, itu, lho, Pak… Semacam Dannis…”
“Kok dia jadi motivator sekarang…” kata Si Doi dengan nada heran.
“Apa salahnya, sih? Emang yang mereka omongin ada yang haram? Gak khaaannn???”
“Bu, semua yang diomongkan para motivator itu, nggak ada yang baru! Mbah Buyut,  suwargi (almarhum) Mbah Kakung, Bapak, Ibu, dulu ya ngomong apa-apa yang diomongkan para motivator itu… Jauh sebelum Si Rendy ini ngomong soal perumpamaan cobaan seperti buah kelapa, tahun 2000-an Aa Gym sudah ngomong hal yang sama… dan gratis!!! Kenapa orang-orang Indonesia mesti mengeluarkan banyak uang untuk membayar orang kasih motivasi ke mereka?”
“Lho, khan kalau pengusaha sukses biasanya banyak yang ingin mendengarkan ceritanya,” saya nggak mau kalah. “Banyak yang ingin minta saran, nasihat, tips… Nah kalau banyak, ya udah dikumpulkan saja dalam satu gedung dibuatkan event, dan dikasih tarif, apa salahnya?”
“Aku ngga akan mempermasalahkan kalau orang seperti Rendy bicara soal bisnis! Tapi dia ngomong soal pernikahan???”
“Haaa jadi kamu dengerin toh?”
“Iya! Makanya aku tahu apa-apa yang diomongkan para motivator itu nggak ada yang baru… Lebih baik kalau mau minta nasihat soal kehidupan, sowan ke kyai, ke ustadz, ke ulama…”
“Pantesan aku gak pernah tertarik dengerin motivator…” kata saya. “Kalau mereka mengeluarkan pernyataan yang jadi berita, ya aku baca beritanya dari media, tapi nggak pernah merasa perlu dengerin mereka ngomong… Hehe…”

Lantas saya nyambung lagi, “Terus apa masalahnya dengan para motivator ini? Omongan mereka ngga ada yang salah, khan? Bahwa mereka melihat peluang bisnis dari kemampuan mereka berbicara dan mempengaruhi orang, khan ngga ada yang salah dengan bisnis itu?”
Pakne Krucils cuma bilang, “Aku justru kasihan dengan masyarakat Indonesia sendiri… Kok mereka itu sampai perlu dimotivasi oleh para motivator… Artinya, khan, masyarakat Indonesia nggak mampu memotivasi dirinya sendiri sehingga memerlukan orang lain untuk memotivasi diriya, dan dia harus mengeluarkan uang untuk membayar si motivator agar motivator memberikan motivasi yang sebetulnya itu untuk kepentingan dia sendiri…”

Saya jadi inget, Pakne Krucils juga skeptis, alias nggak gampang percaya begitu saja dengan orang-orang yang dilabeli sebagai ‘pakar parenting’. Menurutnya, “Orang-orang ini juga sama saja, motivator… Cuma beda sasaran pasar…”

Malamnya, seusai sholat Isya’, saya bilang ke suami, “Rasanya aku tahu kenapa banyak orang Indonesia sekarang memerlukan motivator.”
“Kenapa?”
“Karena sekarang banyak orang dewasa di Indonesia yang dulunya pengasuhannya di’sub-kontrak’-kan kepada pembantu rumah tangga,” kata saya, “Kedua orang tua sibuk di kantor, berangkat pagi pulang petang, sudah nggak sempat lagi nuturi (kasih nasihat) kepada anak-anaknya seperti ortu desa seperti kamu gitu…”
“Ya, mungkin begitu…” kata suami.

Ingatan saya melayang ke beberapa grup parenting yang saya ikuti di facebook. Saya sempat rajin membaca tips dan saran dari orang-orang para pakar parenting. Sampai akhirnya saya memutuskan memprioritaskan membaca tulisan orang-orang dari 2 kelompok. Pertama, yang sudah terbukti sukses menjadi orang tua, alias sudah kakek-nenek. Misalnya Bu Elly Risman dan Pak Baswardono. Kedua, punya ilmunya, minimal psikologi. Kebetulan Bu Elly dan Pak Dono memang latar belakang keilmuannya adalah psikologi. Tapi kalau ada psikolog muda seperti Mbak Dr. Shinta Rini atau Mbak Wulan Darmanto, saya biasanya ikut nyimak. Mereka memang belum punya ‘succes stories’, tapi mereka orang yang sholihah, dan punya ilmunya.

Dan sebetulnya, apa-apa yang diungkapkan Bu Elly Risman, memang sudah dilakukan Mama saya zaman dulu. Makanya saya kadang heran mengapa banyak ibu yang masih memerlukan ‘pakar parenting’. Iya kalau sang narasumber ini adalah ahli di bidangnya, misalnya psikolog. Kalau hanya bicara berdasarkan pengalaman, bukankah para orang tua seperti Mama dan Ibu (mertua) dan para kakek-nenek lainnya juga layak didengarkan pendapatnya?

Sampai akhirnya saya sering sekali membaca pendapat Bu Elly yang juga sering disampaikan anaknya, Mbak Sarra Risman, “Pengasuhan (ilmu parenting) itu diturun-temurunkan…”
Jadi, kalau dulu orang tuanya tidak ‘menurunkan’ atau keliru dalam memberikan ilmu mengasuh dan mendidik anak, adalah hal yang wajar jika para orang tua muda di zaman sekarang mencari ilmu dari selain orang tua mereka. Jadilah Bu Elly dan Pak Dono ‘mengasuh’ lebih banyak anak, yakni orang-orang dewasa dari generasi saya.

Dan kalau para ayah di masa lalu jarang atau tidak sempat berdialog, memberikan nasihat, kasih wejangan soal kehidupan, kepada putra-putrinya, kepada orang lainlah anak-anak yang sudah dewasa ini mencari nasihat tentang kehidupan. Kalau minta nasihat atau motivasi ke ulama, kyai, atau motivator yang sholih, sih, ngga jadi masalah. Lah kalau motivator atau penasihat spiritualnya macam Gatot Brajamusti?

Saya pribadi menganggap dunia masih memerlukan motivator dan pakar parenting. Karena faktanya, banyak orang dewasa seperti Mbak Reza Artamevia yang tidak tahu tujuan hidupnya, dan banyak orang tua tidak memahami cara mengasuh dan mendidik anak misalnya ortunya Awkarin yang bu dokter gigi dan pak Dokter spesialis mata itu. Cukuplah kita belajar dari keduanya. Sesekali, saya termasuk yang memerlukan saran dan nasihat dari para pakar parenting ini dalam mengasuh anak-anak generasi Alfa (lahir antara 2010-2025) seperti krucils. Bukan saran yang prinsip, tetapi lebih ke yang praktis.

Jadi, maju terus Mas Rendy Saputra!!! Hihihi…

Mudah-mudahan kita para orang tua zaman sekarang, bisa menjadi ‘motivator’, ‘penasihat spiritual’ atau apa pun namanya, untuk anak-anak kita semua. Minimal, kalau pinjem istilah salah satu ‘pakr parenting’ Abah Ihsan, “Menjadi orang tua yang bisa mempengaruhi anak.”

Hamdan lillah, narasumber utama Kibar Autumn Gathering di Southampton Oktober lalu bukan motivator. Melainkan ustadz Dr. Amir Faishol Fath.

Ngomong-ngomong, ada yang tahu, siapa naraumber utama Kibar Spring Gathering di Birmingham April besok?

Colchester, 7 Maret 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s