Visi Keluarga Aktivis Dakwah (ODOP Day 52 of 99)

Muslim children study the Quran at a Madrassa (Islamic religious school) in a small village near the town of Kargil in Ladakh, Jammu and Kashmir, India on June 25, 2014. (This image has a signed model release). (Photo by Creative Touch Imaging Ltd./NurPhoto)

Muslim children study the Quran at a Madrassa (Islamic religious school) in a small village near the town of Kargil in Ladakh, Jammu and Kashmir, India on June 25, 2014. (This image has a signed model release). (Photo by Creative Touch Imaging Ltd./NurPhoto)

Hari ini berkesempatan diskusi dengan seorang muslimah senior di dalam dakwah. Saya katakan senior karena anak-anaknya sudah besar, bahkan yang sulung sedang menempuh pendidikan PhD di sebuah negara di Eropa Barat.

Sebut saja namanya Bunda D. Beliau bisa dikatakan salah satu aktivis dakwah yang sukses baik dalam dakwah dan rumah tangga. Indikator kesuksesan dalam dakwah terlihat dari kontribusinya terhadap dakwah di tengah masyarakat. Parameter keberhasilan dalam dakwah di rumah tangga saya nilai dari keberhasilan beliau menjadikan seluruh anak-anaknya berprestasi sesuai potensi yang dimiliki dengan tetap menjadikan para buah hati ini aktivis dakwah.

Di sesi diskusi, saya mengajukan pertanyaan yang sudah terpendam berikut ini:

Pertanyaan dari Fira (Colchester, United Kingdom; jumlah anak 4 orang berusia 3, 5, 7, dan 8,5 tahun)

Sebetulnya pertanyaan saya ini dilatarbelakangi 2 hal, pertama penelitian Bu Mukti Amini yang menyatakan bahwa 90% anak kader tarbiyah yg diteliti di Depok mengatakan tidak ingin mengikuti jejak orangtua mereka sebagai aktivis dakwah.

Kedua, berdasarkan pengalaman pribadi selama 10 tahun di Inggris, saya merasakan ada semacam ‘kemandegan’ dalam regenerasi aktivis dakwah dari teman-teman di Inggris. Ringkasnya, 10 tahun lalu saya melihat banyak bapak dan ibu di Inggris ini aktivis dakwah sejati yang militansinya jelas nyata. Tapi, dalam perjalanannya saya juga menyaksikan, anak-anak mereka nggak sebergairah ortunya dalam urusan dakwah. Kalau diukur dari lingkungan yang luarbiasa sekuler dan nyaris tak beragama, ya keislaman anak-anak ini masih di atas rata-rata. Tapi kalau dibandingkan ortunya, rasa-rasanya, kok cuma tersisa sekitar seperempatnya… dan sekarang anak-anak manis ini sudah berada di fase teenagers, beberapa sudah kuliah, dan jadinya begini:

– Ada anak aktivis dakwah yang tidak menjadi aktivis dakwah padahal sudah usia 16+ atau bahkan sudah kuliah
– Anak aktivis dakwah, tapi tidak menjadi penggerak bagi sesamanya, tidak punya ‘krenteg’, gairah, militansi untuk menjadi yang pertama, yang terdepan, yang paling bersemangat, yang terbaik; di dalam dakwah… Bahkan cenderung cuek dan kurang mampu bergaul… Kalau keterampilan bergaul saja kurang, apalagi memimpin orang lain…
– Anak-anak aktivis dakwah yang hasil akhirnya sama saja dengan anak-anak orangtua ‘sholih’ pada umumnya, sekadar menjadi ‘anak baik-baik’, berprestasi scr akademik, tidak bermasalah dlm hukum agama dan hukum normatif di masyarakat…’
– Anak-anak aktivis dakwah yang naudzubillah justru fobia terhadap liqa’, halqoh’ pengajian, atau apa pun yang namanya agenda dakwah; dengan berbagai alasan… Mulai dari merasa ‘hidup di 2 dunia’, ortu/islam tidak realistis, kajian Islam dikatakan boring, islam menyulitkan, dan sebagainya…

Pertanyaan saya:

1) Mayoritas aktivis dakwah di Inggris adalah kalangan intelektual, misalnya bapak dan ibu dosen atau kalangan profesional yang pendidikan minimal salah satu dari 2 orang tua adalah tingkat master, sehingga keluarga aktivis dakwah di Inggris sudah dengan sendirinya menjadi keluarga yang bernuansa akademik dan memiliki visi/orientasi/target yang tinggi dalam hal pendidikan anak. Yang menjadi pertanyaan saya justru adalah bagaimana membangun karakter anak agar berjiwa aktivis dakwah supaya tidak hanya ‘jadi scientist’ yang pakar di bidang keahlian masing-masing, tapi juga memiliki kecerdasan emosional yang baik, karena dakwah yang sukses memerlukan keduanya.

2) Untuk anak usia 7 s/d 12-14 thn; apa yang harus dilakukan ortu untuk menstimulasi anak? Dan target-target apa yang harus dicapai anak dalam rentang usia ini?

Terima kasih

Bunda D lantas menyatakan bahwa fenomena anak-anak aktivis dakwah yang emoh diajak ngaji tidak hanya ada di Inggris, tetapi juga di Indonesia. Mengapa hal ini bisa terjadi?

“Kadang ketika aktif dalam kegiatan dakwah, orang tua lupa kepada anak dan mengabaikan anak,” tutur Bunda D. Saya yang menyimak penjelasan beliau cuma bisa nelen ludah, istighfar berkali-kali. Ngilu rasanya membayangkan kalau sampai ada aktivis dakwah yang gagal membina anak-anaknya sendiri.

“Anak-anak yang masih kecil-kecil dan memerlukan perhatian dari orang tuanya, sebetulnya sudah mampu mengindera kalau mereka dinomorduakan dari aktivitas orang tuanya, entah itu kesibukan berkarier, juga berdakwah…” tutur Bunda D. “Sehingga kesan baik positif maupun negatif yang ditangkap anak terhadap aktivitas orang tua inilah yang membuat mereka menyikapi kesibukan orang tua secara positif dan negatif pula…” terang beliau selanjutnya.

Salah satu pesan beliau yang saya tangkap adalah, harus berhati-hati dalam memarahi anak, misalnya anak mengganggu aktivitas dakwah. Apakah ini berarti kita harus membiarkan anak melakukan aktivitas yang mengganggu kegiatan dakwah? Tentu tidak. Anak juga harus dilatih memahami peraturan, sesuai usia perkembangan anak. Nah, titik kesulitannya ada pada keseimbangan ini.

Ada aktivis dakwah yang terlalu memprioritaskan kegiatan sehingga anak sama sekali tidak boleh mengganggu dakwah. Ada orang tua lain yang tidak berdaya mengontrol perilaku anak sehingga anak terbiasa bersikap manja, rewel, dan menjadi pengganggu dalam kegiatan dakwah.

Solusinya, menurut beliau, keluarga harus terus-menerus mengulang-ulang visi di dalam keluarga. Pengulangan visi bisa dilakukan secara lisan, dengan terus-menerus diucapkan, dikatakan berkali-kali di berbagai kesempatan, atau dituliskan dan ditempelkan di dinding-dinding rumah.

Jika kita rajin menyampaikan visi kita kepada anak-anak, betapa pun sulitnya kita mengajak dan melibatkan anak-anak, tidak mengabaikan anak-anak, sejak mereka masih bayi, maka sejak dini anak-anak pun akan memahami visi dan kesibukan kita. Seiring perkembangan usia anak, jangan pernah berhenti menyampaikan visi keluarga yang sudah kita canangkan kepada mereka. Agar anak-anak paham bahwa kita tidak mengabaikan mereka.

Untuk usia 7-14 tahun, menurut Bunda D, pada prinsipnya di usia ini aqidah harus sudah tertancap kuat menjadi sebuah pemahaman. Selanjutnya adalah melatih anak melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam syariat Islam yang diharuskan kepada muslim yang sudah dewasa, misalnya melatih anak sholat.

Terkait dengan visi dalam keluarga, tentu setiap keluarga memiliki visi berbeda-beda. Tapi mungkin, pada prinsipnya, dalam mengasuh dan mendidik anak, kita harus punya program dan target yag jelas bahwa anak mau kita jadikan orang yang bagaimana…

Meminjam istilah Bunda D, “Jangan mengasuh dengan gaya biarkan mengalir bagai air… Karena tidak semua air mengalir ke laut… banyak juga air yang mengalir ke toilet atau selokan dan berakhir di sana selama-lamanya…”

Logikanya, kalau nulis di blog saja, kita harus punya ‘bayangan, gambaran, atau draft’ tulisan, kalau mau nulis tugas akhir/ disertasi/ thesis/ paper penelitian saja kita musti bikin proposalnya, kalau mau menjahit baju harus ada gambar pola dan ukurannya, kalau mau bikin cake harus jelas resepnya, mau membangun rumah atau gedung harus jelas gambar, pondasi, bentuk, warna, bahan bangunan, bahkan perkiraan biaya; maka tentunya dalam mengasuh dan mendidik anak kita juga perlu menyusun perencanaan yang detail dan fokus pada hal-hal prioritas pada setiap tahapan usia.

Setelah memiliki visi keluarga yang jelas, berikutnya adalah memaksimalkan potensi seluruh anggota keluarga.

Tetapi terkait potensi, ini pembahasan yang berbeda.

Colchester, 6 Maret 2017

Advertisements

One thought on “Visi Keluarga Aktivis Dakwah (ODOP Day 52 of 99)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s