Makan Mayit, dan Seni dalam Pandangan Islam (ODOP Day 51 of 99)

makan-mayit_20170228_093606

Foto-foto hidangan dalam pertunjukan seni Makan Mayit, makanan dibuat berbentuk janin, otak manusia, dan bayi yang perutnya dibelah (Sumber foto: Tribunnews)

“I want to be an artist,” ucap salah satu gadis.
Saya terhentak. Anakku mau jadi artis? Seperti artis-artis sinetron, drama korea, dan segala rupa telenovela itu? Gusti, beri hamba-Mu petunjuk…
“Kenapa mau jadi artis?” tanya saya mencoba tenang.
“Because I like drawing,” jawabnya sembari menunjukkan hasil coretannya di atas kertas.
Diam-diam saya nepok jidat. Beberapa hari sebelumnya, Si Gadis yang sangat hobi menggambar ini berbinar-binar karena secara berturut-turut di kelasnya diselenggarakan pelajaran melukis dengan contoh lukisan Starry Night dan Sunflower, keduanya karya Vincent Van Gogh.

Dari situ, Sang Guru mendorong para siswa untuk melukis, menyemangati untuk tetap melukis dengan mengucapkan kalimat semacam, “Kalau kamu tetap giat melukis dan tetap melukis, bisa jadi kelak kamu akan menjadi artis, seperti Vincent Van Gogh…”

Dari Van Gogh, guru di sekolah memperkenalkan ‘artis’  Giuseppe Arcimboldo (wafat 1593), pelukis Italia yang terkenal karena membuat lukisan wajah manusia yang terdiri atas objek dari buah, sayuran, bunga, ikan, dan buku (contoh karya klik http://www.giuseppe-arcimboldo.org/).

Dulu, Fahdiy juga ada pelajaran melukis. Bedanya, guru menerangkan ‘artis’ Beethoven, dan memperdengarkan gubahannya yang terkenal, Moonlight Sonata. Nah, kemudian anak-anak diminta memindahkan Moonlight Sonata dari musik klasik, ke bentuk lukisan.

Bagaimana kalau anak-anak mau jadi artis? Ya mau bagaimana lagi… Lha Eyang Putrinya bersuara merdu dan pandai menyanyi, Mbah Putrinya fans berat Rhoma Irama, Oom-nya di Lumajang mahir melukis, sementara bapaknya sendiri ketika di ITB adalah aktivis Perkumpulan Seni Tari dan Karawitan (PSTK), nulis puisi, dan gaulnya dengan komunitas Forum Lingkar Pena generasi Helvy Tiana Rosa dan Habiburrahman El Shirazy…

Beberapa hari lalu, Aliansi Ibu Peduli dan Pejuang ASI Indonesia, menentang dan mengecam keras acara Makan Mayit. Pentas karya seni Makan Mayit diselenggarakan pada Minggu, 26 Februari 2017 di Footurama, Kemang, sebagai pertunjukan seni dalam bentuk social experiment dengan inisiator (seniman) bernama Natasha Gabriella Tontey.

Konsepnya adalah makan malam dengan hidangan vegetarian yang dibentuk menyerupai bayi dan janin sehingga secara fisik seolah peserta mengiris-iris bayi-bayi dan memakannya.

Sebetulnya, karya seni nyeleneh nggak hanya Makan Mayit. Lebih dari 10 tahun lalu, Anjasmara dikritik dan dikecam habis karena berfoto bugil. Foto-foto bugil Anjasmara dan model Isabel Yahya dibuat oleh fotografer Davy Linggar -katanya- untuk kepentingan seni. Rangkaian foto tersebut menampilkan dua sosok manusia yang bisa digambarkan sebagai Adam dan Hawa, dalam pose bugil di alam bebas.

Dalam seni sastra, Taufik Ismail pernah dikecam karena menyindir sastrawan muda yang dikatakannya membawa genre Sastra Mazhab Selangkangan (SMS), alias Fiksi Alat Kelamin (FAK), alias pegiat Gerakan Syahwat Merdeka (GSM).

Di Barat, atas nama seni, para artis bahkan diperkenankan menjadikan para agamawan, termasuk menjadikan para Nabi (termasuk Nabi Muhammad saww), sebagai bahan humor dan olok-olok.

Karena di negara-negara Barat yang maju, sistem kehidupan yang sekuler membolehkan keberadaan seni yang semacam itu, dan mayoritas masyarakat yang jauh dari ketakwaan tidak melarang dan menolaknya. Bersyukurlah di Indonesia masih ada FPI yang mengkritik foto bugil Anjasmara, Aliansi Ibu Peduli dan Pejuang ASI yang mengkritik Makan Mayit, dan masih banyak kelompok dakwah yang punya pandangan sama bahwa seni tidak boleh keluar dari syariah Islam.

Di negara-negara Barat, harokah dakwah semacam FPI yang menolak foto bugil, justru akan dikatakan sebagai menolak hak asasi manusia. Karena seniman biasanya mengatasnamakan kebebasan berekspresi yang dijamin oleh demokrasi dan hak asasi manusia.

Lantas, apakah Islam anti terhadap seni?

Menurut Prof. Dr. Fahmi Amhar, “Adalah menarik untuk mendapatkan realitas bahwa pada zaman keemasannya, negara Islam bukanlah sebuah negeri yang dingin dan kaku.  Di sana, selain terdapat banyak ulama mujtahid yang membuat hidup jadi terarah, lalu para ilmuwan dan insinyur yang membuat hidup lebih mudah, juga bertebaran para seniman yang membuat hidup lebih indah.  Dan eloknya lagi, para seniman ini adalah orang-orang yang beriman, yang menjadikan iman sebagai poros hidupnya, bukan sebaliknya!

Secara umum, dunia seni dapat dibagi dalam 5 macam: (1) seni rupa; (2) seni sastra; (3) seni suara – termasuk musik; (4) seni gerak – termasuk balet atau akrobat; (5) seni gabungan, misalnya theater.

Ketika aliran naturalis yang menggambar atau membuat patung hewan atau manusia diharamkan, para perupa muslim dapat tetap menuangkan kreativitasnya dalam bentuk-bentuk abstrak yang memerlukan jiwa seni dan kemampuan matematis yang lebih tinggi, misalnya dalam bentuk kaligrafi yang rumit yang juga tertuang pada karpet atau keramik, arsitektur masjid yang canggih, atau taman kota yang simetri.  Bentuk seni rupa yang membawa pemirsanya serasa mi’raj ke dimensi spiritual, dimensi ilahiyah.”

Fahmi Amhar menuliskan kegemilangan karya seni para ‘artists’ muslim melalui beberapa tulisan di antaranya Estetika dalam Peradaban Islam, Ketika Seniman Orang-orang Beriman, dan Mencari Arsitektur Syariah.

Di era kejayaan Islam, tidak ada pertunjukan seni yang porno seperti sastra mazhab selangkangan atau foto bugil, tidak ada lagu dengan lirik pornografi dan ajakan selingkuh, pertunjukan menghina agama, atau berbau sadisme dan kanibalism semacam Makan Mayit. Ya karena seni di dalam Islam dipraktekkan oleh orang-orang beriman yang paham agama Islam.

Jadi, kalau anak memang berjiwa seni dan mau jadi artist, apa boleh buat. Yang harus dilakukan ortu muslim ada 2. Pertama, mengajarkan kepada anak aqidah islam yang benar, sehingga kelak anak menjadi artist yang bertakwa kepada Allah Swt. Dan kedua, ikut berjuang dalam dakwah yang mengupayakan tegaknya kembali syariah Islam di dalam seluruh aspek kehidupan.

Tanpa faktor kedua, anak kita memang bisa menjadi artist beriman dan bertakwa. Tapi yang sholih ya cuma dia sendiri. Orang-orang seperti Natasha Gabriella Tontey tetap akan leluasa menyelenggarkan social experiment lagi. Kalau sistemnya tetap sekuler seperti sekarang, nggak perlu heran kalau kita masih akan menjumpai karya seni-karya seni yang sadis, kanibal, porno, menghina agama, dan sejenisnya.

Untuk sekarang ini, kita cuma bisa amar makruf. Nggak bisa nahi munkar. Inilah kalau hidup dengan sekulerisme dan liberalisme, kemakrufan dan kemungkaran, semuanya boleh.

Semoga cukup kita saja yang hidup di dalam sistem kafir seperti ini. Kelak, semoga generasi muslim setelah kita, bisa hidup di dalam sistem yang serius menegakkan amar makruf nahi munkar, sehingga mayoritas anggota masyarakat adalah orang-orang yang beriman dan bertakwa. Termasuk para artist dan penikmatnya.

Colchester, 5 Maret 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s