Heboh Raja Salman dan Arab Saudi (ODOP Day 50 of 99)

raja-salman Sumber foto Antaranews

“Halo, Assalamu’alaykum, Mama?” kata saya keras-keras.
Di ujung telepon, Sang Eyang menjawab, “Wa’alaykumsalam… Kamu kok suaranya bindheng gitu kenapa? Pilek? Masih dingin di sana? Gimana anak-anak, sehat?”
“Sehat kabeh… Aku sing KO… Sudah nggak terlalu dingin… Masuk musim semi… Sekarang lagi makan Indomie… Biar nggk bergizi yang penting makan… Mulut pahit, mual, pengen muntah…”
“Jangan-jangan hamil???”
“Haaa… Enggaklah! Lagi pada ngapain di rumah?”
“Nonton Raja Salman… Lha rombongannya kata tivi 1500… Gimana gak repot pengamanannya… Pantai di Bali dikosongkan khusus buat rombongan si raja…”
“Aduh aku nggak sempat ngikuti… Lagi repot, demam, ga bisa bangun lama2…”
“Mama tuh pengen cari tahu rombongan Raja Salman yang perempuan… Mama mau tahu apa rombongan perempuannya pake baju muslim atau tidak… Soalnya dua kali Mama haji, di Arab itu penyiar-penyiar TV yang perempuan ya nggak ada yang pake baju tertutup… Semua dandanannya seperti perempuan di Barat…”
Berhubung kepala nyut-nyutan ga bisa diajak kompromi, hidur meler, tenggorokan nyeri, terpaksa ngerumpi dengan Mak Nyak harus diakhiri.

Hari ini, Tribun menurunkan berita Gaya Hidup Putri-putri Kerajaan Saudi: Belanja Rp200 M Sehari dan Suka Beramal. Ya sudahlah. Itu toh duit Si Putri sendiri. Saya ya tetep begini-begini saja.

Bagi sebagian muslim, Saudi Arabia adalah negara yang jauh lebih baik daripada Indonesia. Bisa jadi iya, kalau ukurannya kesejahteraan secara materi. Tapi bisa jadi juga tidak, kalau standarnya dari praktek demokratisasi.

Harus diakui bahwa Arab Saudi jauh lebih sejahtera daripada Indonesia. Hanya saja, harus diakui juga, meski kaya, Arab Saudi tidak terkategori menjadi negara maju. Tidak menjadi negara yang bangkit, dan memimpin dunia Islam. Apalagi di perpolitikan internasional. Sementara negara Barat yang maju, sudah pasti sekuler. Jauh dari penerapan sistem syariah Islam.

Sebagai muslim, tentu kita ingin sekali tinggal di negara Islam yang maju secara sains, ekonomi, teknologi, masyarakatnya beriman dan bertakwa, dan pemerintahnya menjalankan peraturan Islam di seluruh aspek kehidupan. Jadi negaranya pasti bukan negara sekuler-demokrasi-kapitalis seperti negara-negara maju Barat. Juga bukan negara kerajaan seperti Arab Saudi dan Brunei, karena sistem pemerintahan di dalam Islam bukan begitu. Negara tersebut juga harus memberlakukan sistem ekonomi Islam, 100% tanpa riba. Mata uang kembali ke sistem keuangan berbasis emas. Sistem pergaulan laki-laki dan perempuan dan peraturan dalam kemasyarakatan menggunakan Islam sepenuhnya. Jadi ngga ada namanya putri buka aurat ke mana-mana.

Bagi saya pribadi, negara Islam ideal tidak harus dinamakan khilafah seperti yang diperjuangkan Hizbut Tahrir.

Tapi kalau bukan khilafah, lantas namanya apa?

Colchester, Essex, 3 Maret 2017

Advertisements

One thought on “Heboh Raja Salman dan Arab Saudi (ODOP Day 50 of 99)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s