Anak Inggris, Ekspresif atau Rewel? (ODOP Day 49 of 99)

liburan

Pakne Krucils memanggilnya Mas Malik. Karena beliau pernah bekerja sebagai staf di Surya University, dan kebetulan sedang berada di London, akhir Oktober tahun lalu Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Essex mengundang beliau untuk ngobrol, berbagi cerita dan pengalaman selama bekerja di Surya University di suatu Sabtu.

Mas Malik menginap semalam di rumah. Hari Ahad pagi, saya memaksa Pakne Krucils mengajak beliau dan krucils ke carboot sale (semacam pasar barang bekas yang digelar di tanah lapang yang luas). Bukan supaya saya punya ‘me time’, tapi supaya saya bisa punya sedikit waktu beberes rumah yang sudah bak Titanic hampir karam…

“Jam 10 nanti jadi nonton kereta api di CCHS, lho, Pak,” pesan saya melepas mereka berenam berangkat ke carboot sale. “Sarapan seadanya di rumah, siangnya ke warung fish and chip saja sambil ngasih liat tamunya menu khas warung UK,” sambung saya lagi.

Sekitar jam 10 pagi kami bertujuh sudah  berada di aula Colchester County High School for Girl yang sudah disulap menjadi pameran miniatur kereta api. Sesuai rencana, dari situ kami menuju town centre untuk makan siang menu fish and chip di Dr. Chippy, salah satu kedai halal murah meriah yang pemiliknya muslim Turki.

Dalam perjalanan kembali ke rumah, tanpa sengaja saya mendengar Mas Malik ngobrol dengan Pakne Krucils, “Anak-anak di sini itu ekspresif dalam mengungkapkan perasaannya, ya, Mas… Kalau di Indonesia, anak-anak seperti ini mungkin akan sering dikatakan rewel…”

Saya jadi mikir ulang. Apa iya anak hasil didikan United Kingdom, termasuk krucils, ekspresif dalam mengungkapkan perasaan? Apa iya mereka rewel?

Semua orang tua yang menyekolahkan anak-anak di UK pasti sangat memahami, pondasi paling dasar pendidikan UK terutama untuk sekolah PAUD bukan calistung, melainkan non-calistung. Ketika saya dan para orang tua Asia pada umumnya memfokuskan hasil pendidikan anak pada kemampuan kognitif seperti membaca dan berhitung, di UK, fokus primer para guru PAUD ada pada 3 area:

1) komunikasi dan bahasa (communication and language)
2) perkembangan fisik (physical development)
3) perkembangan individu, sosial dan emosional (personal, social, emotional development)

Hasilnya?

“Bunda, why are there trees with lots of leaves on winter? I thought all trees don’t have leaves on winter?”
“Bunda, is cinema haram? Why have I never gone to cinema before?”
“Bunda, am I cute, beautiful, fairy, or princess?”

Dan kalau pas marah:
“Why are you always angry with me? Yes, you are!!! You’re angry with me last week, last night, when I’m not finished my dinner, you’re always angry with me! Do you think I’m not as beautiful as Dara?”
“Bunda, you hate me!!! Yes you do!!! You don’t love me anymore!!!”
“Bunda, you make me sad… You make me cry… I’ll tell my teacher!!!”

Kalau para gadis sedang bertengkar di antara mereka, ” I DON’T WANT!!! TO BE YOUR FRIEND!!! A-NY-MORE!!!” Lengkap dengan menyedekapkan tangan di dada, membalikkan badan sambil mengibaskan rambut.

Kalau pas hatinya baik, “Ayah, I love you…” atau, “You are the best mommy ever…” sambil memeluk dan mencium.
Atau, “Mahdi, are we best friend? Am I a good brother?”
Si Ragil, nggak sampai seminggu sekolah PAUD, sudah pulang membawa kosakata, “Bunda, listen to me!”

Pengungkapan perasaan ini, kalau pas yang sedang baik-baik, ya nggak masalah. Yang agak sulit kami terima ketika anak secara terbuka mengatakan, “I’m angry with you!” atau “You hate me!” atau “You don’t love me!” yang tentu saja diucapkan dengan nada tinggi, kepada kami sebagai orang tua.

Kemarin-kemarin, kalau anak berbicara seperti itu, saya marahi balik, “You can’t talk to your parents just like that! That’s very rude and bad!”
Kalau ada bapaknya, nggak pake lama, Si Ayah akan langung mengeluarkan sapu lidi dan krucils langsung menutup mulutnya.

Tapi belakangan saya menyadari satu hal. Mengendalikan perasaan, atau mengendalikan emosi, adalah sebuah tindakan yang dipelajari. Ketika masih bayi, anak akan menyampaikan perasaannya lewat senyum, tawa, atau menangis. Sudah itu saja. Kemudian, seiring perkemangan fisik, mereka bisa marah (ketika mainannya direbut anak lain), bosan, lelah, frustrasi (ketika gagal terus dalam mencoba sesuatu), dan sebagainya.

Di kelas PAUD di UK, guru akan mengajarkan anak untuk memberi nama perasaannya, atau memberi label pada emosinya. Anak boleh marah, dan mengatakan, “I’m very angry with him/her!”, tetapi tidak boleh melakukan penganiayaan fisik atau verbal. Anak diharapkan mampu mengatakan, “I’m sad,” sehingga guru atau orang dewasa mengetahui perasaannya dan menghiburnya. Ketika anak mengatakan, “I’m scared,” diharapkan guru atau orang tua memahami perasaannya dan tidak memaksanya untuk melakukan hal yang ditakutinya.

Ketika anak mampu mengungkapkan perasaannya, harapannya orang dewasa di sekelilingnya akan mampu memenuhi kebutuhan emosinya; kebutuhan untuk diterima dan dicintai, kebutuhan untuk mengendalikan/mengontrol, kebutuhan untuk merasa aman, dan seterusnya.

Dari sini saya jadi belajar, bahwa ternyata manusia memiliki kebutuhan emosi. Pelajaran pertama bagi anak adalah mengungkapkan perasaan atau emosinya. Pelajaran berikutnya adalah mengendalikan emosinya. Pelajaran yang lebih tinggi adalah berempati, menimbang dan mengukur perasaan orang lain

Di UK, sebagaimana negara maju Barat lainnya yang sekuler,  tidak ada pelajaran akhlakul karimah. Tidak ada pelajaran adab dalam muamalah (interaksi antar sesama manusia). Negara maju seperti UK, mengajarkan pondasi membangun hubungan dengan orang lain, adalah kecerdasan dalam emosi. Intinya, seberapa pintar pun dirimu, tapi jika gagal dalam berempati alias mampu menimbang, membaca, dan mengukur perasaan orang lain, maka kepintaran-kepintaran itu tidak akan membawamu ke mana-mana.

“If your emotional abilities aren’t in hand, if you don’t have self-awareness, if you are not able to manage your distressing emotions, if you can’t have empathy and have effective relationships, then no matter how smart you are, you are not going to get very far,” begitu kata mahaguru psikolog Dr. Daniel Goleman, penulis buku best-seller Emotional Intelligent.

Lantas bagaimana kalau anak yang baru belajar mengungkapkan perasaannya, selalu disuruh diam dan tidak boleh mengekspresikan emosinya, atau dilabeli dengan kata rewel?

Menurut teman-teman psikolog, kebutuhan emosi sama seperti kebutuhan akan makanan, minuman, air dan udara. Manusia normal akan selalu berusaha memenuhi kebutuhan-kebutuhan itu. Jika anak tidak mendapatkan pemenuhan kebutuhan emosinya dari orang tuanya, ia akan berusaha mencari pemenuhan dari orang lain. Kalau rumah dan keluarga gagal dalam memenuhi kebutuhan emosi anak, anak akan mencari pemenuhan kebutuhan emosi ini di luar rumah.

Mungkin kebutuhan emosi ini bisa dianalogikan dengan tangki. Tangki cinta, atau tangki kasih sayang. Anak yang tangki cinta dan tangki kasih sayangnya dipenuhi oleh orang tuanya di rumah, akan tumbuh menjadi anak yang baik.

Sementara anak-anak yang tangki cinta atau tangki kasih sayangnya selalu kekurangan, kelak akan berusaha memenuhinya dari orang selain orang tuanya. Mungkin mereka kelak akan mengemis-ngemis kasih sayang kepada siapa pun yang ditemuinya, yang mampu memberinya kasih sayang dan pengakuan diri.

Kita tentu tidak ingin anak-anak kita menjadi anak yang kekurangan cinta dan kasih sayang sehingga menjadi pengemis cinta yang rawan terjebak pada predator cinta musang berbulu domba. Yang menjadi persoalan, mengukur tangki cinta atau tangki kasih sayang ini, nggak segampang mengukur berat badan bayi atau tinggi badan anak.

Ibunda Awkarin adalah dokter gigi, ayahnya dokter spesialis mata, dan neneknya juga dokter. Mereka pasti paham bagaimana memenuhi kebutuhan fisik Karin dan saudaranya. Yang barangkali para dokter (dan semua orang tua yang bukan dokter) juga perlu belajar, adalah bagaimana memenuhi kebutuhan emosi anak.

Colchester, 3 Maret 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s