Melecehkan Bahasa Indonesia (ODOP Day 47 of 99)

multilingual

Papan informasi departemen budaya, seni, dan hiburan di Irlandia Utara, mencantumkan nama departemen dalam 3 bahasa: Inggris, Irlandia (Irish), dan bahasa Skotlandia Ulster

Saya memanggil beliau Pak Ndaru. Nama lengkapnya Dr. Iswandaru Widyatmoko. Beliau berasal dari Solo, Jawa Tengah, dan menjadi tetangga kami ketika tinggal di Nottingham. Setelah menyelesaikan studi di ITB dan Sheffield Hallam University, sekarang Pak Ndaru berprofesi sebagai Technical Director, Pavement Engineering, Centre of Excellent for Asset Consultancy di perusahaan AECOM. Kalau berbicara dengan beliau, Pakne Krucils tidak pernah berbahasa Indonesia. Bahasa Inggris apalagi. Pakne Krucils selalu berbahasa Jawa krama inggil kepada Pak Ndaru. Meski berada di Inggris, kalau lawan bicaranya adalah orang Indonesia, maka Pakne Krucils selalu menggunakan setidaknya bahasa Indonesia. Atau kalau yang diajak bicara orang Jawa dan lebih tua, pasti menggunakan bahasa Jawa krama inggil.

Sebetulnya saya ingin juga mahir berbahasa Jawa krama inggil. Sayangnya, saya hanya menguasai versi ngoko-nya. Akibat di dalam keluarga dulu dididik hanya dengan menggunakan bahasa Indonesia. Berbahagialah anak Indonesia yang masih menguasai bahasa daerahnya selain bahasa Indonesia dan bahasa asing lainnya.

Pakne Krucils selalu mengungkapkan kekagumannya kepada orang-orang yang menguasai bahasa Indonesia dan bahasa asing secara fasih. Maksudnya, bisa menggunakan bahasa Indonesia secara benar tanpa keinggris-inggrisan, dan sebaliknya mampu berbicara dalam bahasa asing tanpa kecampuran bahasa Indonesia

“Kenapa sih kok harus gitu?” tanya saya iseng-iseng.
“Bagian dari kecerdasan berbahasa, Bu,” katanya, “Orang yang cerdas dalam berbahasa akan bisa berkomunikasi dalam bahasa yang berbeda-beda tanpa campur aduk. Kelak kamu akan menjumpai orang-orang Indonesia yang baru 3-5 tahun tinggal di Barat, dan mereka sudah tidak bisa lagi berbicara dalam bahasa Indonesia yang fasih tanpa bercampur bahasa Inggris. Ya karena memang kecerdasan orang dalam berbahasa berbeda-beda. Sama seperti kecerdasan dalam logika dan matematika…
Saya==> manggut-manggut doang.
“Contoh paling ekstrem biasanya adalah para TKI dan TKW,” imbuh suami, “Begitu 1-2 tahun di Hong Kong, Taiwan, atau Arab, mereka lupa dengan bahasa daerahnya. Kaku berbicara dalam bahasa ibunya sendiri… Dan kesulitan menjaga bahasa Indonesia atau bahasa daerahnya agar tidak bercampur dengan bahasa asing yang dipelajari di negara tempatnya bekerja…”

Dan sebaliknya, Si Doi selalu terheran-heran kepada orang atau lembaga di Indonesia yang menggunakan bahasa asing. Misalnya, ketika Kemenristekdikti menyelenggarakan acara Visiting World Class Professor dan Pakne Krucils ikut diundang.
“Acaranya orang Indonesia, yang hadir semua orang Indonesia, diselenggarakan di Indonesia, judulnya pakai bahasa Inggris,” komentarnya, “Di Jepang dan Rusia itu, ilmuwan-ilmuwannya nggak bagus-bagus amat bahasa Inggrisnya. Jurnal-jurnal top mereka juga terbitnya dalam bahasa Jepang. Tapi risetnya ampuh.”

Makanya saya ketawa-ketawa ketika membacakan ke suami judul artikel di Harian Haluan yang menyebutkan Melecehkan Bahasa Indonesia melalui Kegiatan Literasi. Artikel tersebut menyorot sejumlah kegiatan Pemprov Sumbar yang menggunakan bahasa Inggris, di antaranya Minang Book Fair (MBF). MBF adalah pameran buku yang diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumbar, Yayasan Gemar Membaca Indonesia (Yagemi), dan Perpustakaan Nasional RI (PNRI) di Masjid Raya Sumbar pada 24 Februari sampai dengan 5 Maret.

Holy Adib, penulis artikel tersebut mengkritik keras penggunaan bahasa Inggris dalam kegiatan literasi yang justru dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, “Mereka bukan hanya menamai acaranya dengan bahasa Inggris, melainkan juga susunan kegiatannya, seperti opening ceremony, talkshow buku, launching bukuroadshow  buku Penerbit Diva, dan closing ceremony. Entah apa susahnya penyelenggaranya menggunakan upacara pembukaan, bincang-bincang atau gelar wicara buku, pertunjukan keliling atau safari keliling buku Penerbit Diva, dan upacara penutupan, ” tulisnya.

“Saya tidak tahu apa yang dipikirkan oleh para penyelenggaranya sehingga membuat nama dan susunan acara berbahasa Inggris. Padahal, mereka adalah pemerintah dan yayasan yang mengaku gemar membaca. Pemerintah dan yayasan atau organisasi bidang literasi seharusnya mencontohkan sikap menghargai dan membanggakan bahasa Indonesia…”

“Sikap bangga menggunakan bahasa Inggris tampaknya menjadi bagian misi Pemprov Sumbar. Setelah Minang Mart dan Minang Book Fair, Pemprov Sumbar dan Yayasan Minang Bandung akan menyelenggarakan Minangpreneur Festival di Padang pada 22—23 April. Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno, menulis di akun Facebooknya, “Minangpreneur Festival: Kami memanggil jiwa start up dan entreprenur muda Minang untuk show up.” Masyarakat tidak bisa diharapkan memiliki kebanggaan berbahasa Indonesia kalau gubernur dan pemprovnya memelopori penggunaan bahasa asing,” tulis Adib.

Keprihatinan bahwa bahasa Indonesia tergerus bahasa asing sebenarnya sudah lama. Banyak pihak menengarai keberadaan sekolah ikut andil besar menyebabkan tergerusnya bahasa Indonesia. Sudah jadi rahasia umum, sekolah-sekolah di Indonesia yang mengklaim bertaraf internasional tidak menggunakan bahasa Indonesia di dalam komunikasi antar warga sekolah, melainkan menggunakan bahasa asing seperti Inggris, Arab, Mandarin, Jepang, Perancis, Jerman, Jepang, dan sejenisnya.

Yang saya nggak paham adalah berikut ini.

Di United Kingdom, bilingual, bahkan multilingual, adalah hal yang biasa. Negara Inggris berusaha mempertahankan eksistensi bahasa lokal seperti bahasa Wales. Terhadap bahasa asing yang banyak digunakan kaum imigran, pemerintah UK juga tidak anti. Brosur-brosur informasi disebarkan dalam beragam bahasa seperti Polandia, Punjabi, Bengali, Urdu, Gujarati, Cina, Arab, Perancis, Portugis, Spanyol, Tamil, Italia, agar mudah diakses oleh seluruh warga negara. Perpustakaan umum menyediakan buku-buku cerita anak-anak yang diterjemahkan ke dalam beragam bahasa.

Guru-guru di sekolah pun mendorong keluarga untuk mempertahankan bahasa ibu dalam berkomunikasi dengan anak. Bahkan merupakan kebanggaan sekolah jika memiliki siswa dari beragam etnis dengan banyak bahasa. Sangat jelas, negara seperti UK, tidak khawatir bahasa Inggris akan tergerus oleh bahasa-bahasa asing yang digunakan oleh kaum imigran.

Kalau penggunaan bahasa asing dari kalangan imigran di Inggris, tidak mengancam keberadaan bahasa Inggris, mengapa praktek berbahasa asing di Indonesia menggerus bahasa Indonesia dan bahasa daerah? Entahlah…

Yang jelas, di Barat, seorang individu dikagumi kalau menguasai banyak bahasa asing, termasuk bahasa yang aneh-aneh dan kuno seperti bahasa Wales dan Latin. Sementara di Indonesia, justru dipandang ndeso kalau menguasai dan berbicara dalam bahasa daerah seperti bahasa Sunda, Jawa, Madura, dan sebangsanya.

Lagipula, kalau Kemenristekdikti saja lebih memilih istilah Visiting World Class Professor, dan Pemprov lebih bangga menggunakan istilah Book Fair daripada pameran buku, mengapa pula kita mesti peduli pada kelestarian bahasa Indonesia?

Colchester, 28 Februari 2017

 

Advertisements

2 thoughts on “Melecehkan Bahasa Indonesia (ODOP Day 47 of 99)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s