Jangan Ajak Anak Kecil ke Pengajian Dewasa (ODOP Day 48 of 99)

iic

Pengajian KBRI London 25 Februari 2017

Pagi itu, dua tahun lalu, saya membawa baby Mahdi yang masih menyusu bersama para rombongan muslimah menuju Kaza Mall Surabaya dalam rangka menghadiri Liqa’ Syawal.
“Lho, anak yang tiga kok nggak diajak, Mbak?” tanya teman-teman lain.
“Mereka bangun terlalu pagi,” terang saya, “Belum subuh sudah pada bangun… Jam enam sudah mandi dan sarapan, eh jam tujuh pada tidur lagi…”

Di Kaza Mall, alhamdulillah acaranya ramai. Total peserta sekitar 1.300 orang. Sebetulnya agenda acaranya ada diskusi publik, dan hiburan dari siswa-siswi SD Islam yang membawakan puisi dan teaterikal. Tapi saya, sebagaimana normalnya ibu-ibu yang bawa anak kecil, memilih tempat duduk di deretan paling  belakang agar lebih leluasa momong bocah.

“Lha ini kok anak-anak pada lari-lari nggak ada yang menjaga, ya, Mbak?” tanya saya kepada salah satu panitia muslimah yang kebetulan mampir duduk.
“Ya, Bu, jumlah panitia tidak banyak,” terang Si Mbak, “Jadi sebetulnya kami tidak menyediakan tempat penitipan anak… Seharusnya anak-anak ini menjadi tanggungjawab orang tuanya masing-masing…”

Saya jadi teringat pada masa-masa masih kuliah. Dulu saya sering jengkel kepada mbak-mbak yang sudah menjadi ibu-ibu dan mengajak anak-anaknya untuk datang ke pengajian. Karena bagaimana pun keberadaan anak-anak membuat forum kajian berjalan kurang khidmad. Belum lagi suara menjadi sangat ramai dan menyulitkan pendengar untuk menyimak materi kajian secara optimal.

Di Inggris, biasanya disediakan semacam playgroup untuk menitipkan anak-anak selama orang tua mereka mengikuti kegiatan utama. Tapi ya hanya anak yang sudah sekolah yang bisa dititipkan di sini. Kalau masih bayi atau batita, biasanya masih sulit untuk dititipkan karena masih nempel dengan induknya. Terutama kalau anak masih menyusu.

Di sisi lain, saya pernah mendapati kisah seorang ibu yang tidak pernah mengajak anaknya ke forum pengajian. Alasannya, “Anak saya nggak bisa diam, Mbak, nanti malah mengganggu jamaah lain…”

Saya cuma membatin, “Ucapan itu doa, Bu… Kalau ibunya saja udah mendoakan atau mengata-ngatai anaknya sebagai anak nggak bisa diam dan mengganggu jamah lain, ya Allah akan mengabulkan…”

Dan akhirnya Si Anak pun betul-betul nggak kerasan di forum pengajian. Baru 10 menit, sudah bosan. Minta pulang. Bahkan di umurnya yang ke-8, Si Anak sudah bisa bilang ke ibunya, “Ini khan jadwal aku main dengan Si A, Bu…”

Begitulah ketika Sabtu lalu kami sekeluarga menghadiri pengajian KBRI di London. Ngga ada yang namanya penitipan anak. Semua anak ya jadi tanggungjawab ortunya masing-masing. Ditambah lagi tempat pengajiannya di Indonesian Islamic Centre (IIC) yang sempit. Potensial menyebabkan anak rewel dan tidak kerasan.

Kenapa saya mengajak anak-anak ke pengajian seperti Liqa’ Syawal, atau pengajian KBRI, padahal sudah jelas tidak ada tempat penitipan anak di situ? Karena target saya sebetulnya bukan untuk saya pribadi, melainkan untuk anak-anak. Sudah bisa dipastikan saya nggak akan bisa menambah ilmu di forum tersebut tersebut karena pasti pekerjaan utama saya adalah mengasuh krucils. Tapi saya mau, sejak dini anak belajar untuk bersikap di forum pengajian.

Beberapa strategi mengajak anak ke forum pengajian:
1. Berpikir dan mengatakan hal-hal positif kepada anak. Hindari berpikir, “Anakku nakal, pasti nanti di pengajian kelahi dengan anak lain. Anakku nggak bisa diam, pasti nanti lari-lari di forum pengajian. Anakku rewel, pasti nanti jerit-jerit kalau sudah capek dan ngantuk…” Diganti dengan, “Nanti di pengajian banyak temannya, bisa main bareng dengan teman baru, dan kalau anak ada masalah, insyaAllah saya bisa mengatasinya…”
2. Bawa cemilan dan minum sendiri sehingga nggak merepotkan jamaah pengajian yang lain.
3. Bawa buku favorit anak-anak dalam jumlah memadai.
4. Bawa mainan yang disukai anak.
5. Bawa alat hobi anak: kertas untuk menggambar, krayon, pinsil warna, peralatan gunting tempel
6. Jangan tunggu sampai anak rewel dan membuat keributan. Orang tuanya harus tanggap kalau anak sudah mulai mengganggu kenyamanan jamaah yang mengikuti pengajian. Kalau anak sudah mulai bosan, diajak ke luar ruangan. Jalan-jalan di sekeliling masjid/gedung. Kalau sudah capek, bisa kembali ke forum pengajian.
7. Untuk anak berusia lebih dari 7 tahun, sudah harus dikondisikan untuk bisa duduk tenang meski belum bisa menyimak kajian.
8. Jika memungkinkan, beri kesempatan anak untuk terlibat dalam pengajian. Misalnya membaca doa pembuka majlis, membaca Al Fatihah dan surat-surat pendek dan terjemahannya, membantu memegangkan kitab, dan sebagainya, sesuai usia dan kemampuan anak.
9. Kalau ada tempat penitipan anak, saya harus memastikan ratio panitia dan jumlah anak masuk akal. Kalau kelihatannya panitianya kewalahan, ya dibantu, lah… Pada dasarnya yang pertama kali harus bertanggungjawab terhadap anak adalah orang tuanya, yang lain sifatnya membantu jika kondisinya memungkinkan.
10. Berdoa kepada Allah Swt agar diberikan kemudahan dalam mengasuh dan mendidik anak. Kadang, meski idealnya begini dan begitu, namanya manusia ada khilafnya. Lupa ngga bawa cemilan. Lupa ngga bawa mainan. Lupa ngga bawa buku anak-anak. Jamaahnya pas sadis-sadis dan nggak ramah anak. Tapi berdasarkan pengalaman, alhamdulillah kalau pas terjadi yang semacam itu, biasanya ada pertolongan dari arah yang nggak disangka-sangka. Di antara bentuk pertolongan dari Allah misalnya, anak-anak ketemu dengan teman sebayanya yang cocok, klop, dan bisa duduk anteng bersama, atau mengerjakan kegiatan bersama. Hal-hal semacam ini musti disyukuri. Tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Semua sudah dalam ketetapan Allah. Tugas kita sebagai orang tua adalah merencanakan dengan sebaik-baiknya dan melaksanakan rencana-rencana itu.

Lha terus, kalau di pengajian hanya pindah mengasuh anak, kita nggak mendapatkan ilmu, nggak mendapatkan apa pun, dong? Cuma capek perjalanan dan kehilangan ongkos transportasi?

Menurut saya pribadi, yang pertama harus dikejar adalah barokahnya. Barokah sering didefinisikan sebagai kebaikan yang banyak, dan tetap, pada sesuatu, baik harta, anak, maupun ilmu. Sering kita melihat anak yang diajak ke forum pengajian tetapi tidak membawa kebaikan bagi orang di sekitarnya. Dibawa ke pengajian, bikin kerusuhan, berkelahi dengan anak lain, tidak paham adab dalam majelis ilmu.

Begitu pun dengan ilmu. Terutama ilmu agama. Sebetulnya yang lebih penting adalah diterima, dipahami, dipraktekkan, dan disampaikan kepada orang lain. Bukan cuma didengarkan secara khusyuk selama 2 jam, lantas setelah forum pengajiannya selesai, ngga berbekas sama sekali.

Toh masa kecil anak tidak lama. Apa yang kita biasakan, ya itulah yang akan biasa dikerjakan anak. Kalau kita biasa mengajak anak ke mall, dan menikmati jalan-jalan di mall/plaza, nggak perlu heran kelak anak akan bisa ‘menagih’ untuk jalan-jalan ke mall/plaza. Kalau biasa diajak ke masjid dan forum pengajian, anak juga akan belajar sejak dini untuk menautkan hatinya ke masjid dan forum pengajian.

Jadi, jangan ajak anak ke forum pengajian dewasa, kalau kita tidak bersedia mengasuh anak-anak kita di situ. Kasihan jamaah lain yang terganggu dengan anak-anak kita. Dan sebetulnya, kita pun perlu dikasihani, kalau anak-anak kita ternyata tidak membawa kebaikan bagi sekelilingnya.

Colchester, 1 Maret 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s