Mengapa Nama Krucils tidak Berbahasa Arab? (ODOP Day 46 of 99)

quotation-william-shakespeare-meaning-meetville-quotes-74284

Ketika kehamilan pertama menginjak umur 6 bulan, saya dan suami sudah berburu nama untuk bayi yang ada di dalam kandungan. Ini menyusul saran ibu-ibu Indonesia di United Kingdom (UK), “Urusan adminstrasi di rumah sakit akan lebih mudah, Mbak, kalau anaknya sudah punya nama…”

Ternyata memberi nama anak tidak segampang yang saya kira. Saya pribadi cenderung ingin memberikan anak-anak nama yang Indonesia, terutama Jawa. Sejak tahun 2000-an, saya melihat banyak ibu memberi nama anaknya dengan bahasa Arab atau Inggris. Saya pikir, kalau tidak ada yang berusaha melestarikan nama-nama Jawa, dalam 20 tahun ke depan, nama-nama Jawa akan punah. Sudah sangat jarang saya melihat atau mendengar para orang tua muda memberi nama anak-anaknya dengan nama Surya, Bagas, Narendra, Bayu, Yudistira, Arini, Lintang, Wulan, Sekar, Ajeng, Eka, Dwi, Tri, Catur, dan seterusnya. Nama anak yang sangat banyak dijumpai dalam sepuluh tahun terakhir sepertinya adalah nama dalam bahasa Arab dan Inggris.

Sayangnya, suami, yang namanya sudah sangat Jawa itu, tidak tertarik memberi nama anak dalam bahasa Jawa. Sama seperti trend yang ada, ia lebih memilih nama Arab. Karena bayi di dalam perut sudah ketahuan berjenis kelamin laki-laki, Si Doi sudah ngotot pokoknya anak harus diberi nama Sajjad, yang diambil dari As Sajjaad, salah satu gelar Imam Ali RA yang berarti orang yang banyak bersujud.

“Halah, keluarga besar kita itu orang Indonesia, Mas,” timpal saya, “Nanti kalau mudik ke Kunir Kidul, orang pada susah manggilnya…”

Berpekan-pekan kemudian, muncul nama Fahdiy, yang diambil dari Raja Fahd.

“Nanti kalau punya anak laki-laki lagi, dikasih nama Mahdi…”
Walah, yang ini saja belum lahir…

“What’s the meaning of Fahdiy, Bunda?” tanya yang punya nama suatu kali.
“Fahdiy means my panther,” kata saya.
“But I don’t want to be panther,” kata Si Sulung, “I want to be cheetah….”
Hehehe…

Tapi tetep, harus ada nama Jawa, dong. Agar meski kelak tinggal di 7 benua dan melintasi 7 samudera, tetap punya ikatan dengan suku dan orang Jawa.

“Harus diawali dengan salah satu huruf yang qalqalah yang sama!” kata suami.
“Kenapa?”
“Ya biar sulit. Biar anaknya tertantang belajar bahasa Arab yang benar supaya bisa mengucapkan namanya dengan benar…”
Ketika masih belajar di ITB sering main ke Ponpes Daarut Tauhid dan terinspirasi banget dengan KH Abdullah Gymnastiar alias Aa Gym yang memberi nama anak-anaknya berawalan huruf ghain: Ghaida Tsurayya, Ghazi Al Ghifari, Ghina Roudlotul Jannah, Ghaitsa Zahira Shofa, Ghefira Nur Fathimah, Ghaza Al Ghazali dan Gheriyya Rahimah.

Aduh, banget syaratnya. Belum lagi debat-debat lain semacam, “Jangan yang ini… Ngga ada rimanya…” atau, “Jangan yang itu… Kalau didengarkan nggak bercampur dengan nama yang sudah kita pilih…”

Nggak kebayang kalau punya suami yang sastrawan sejati. Jangan-jangan lebih susah lagi cari nama untuk anaknya. Lah ini baru nulis pengantar Ayat-ayat Cinta dan beberapa antologi puisi lainnya aja, sudah rewel bener…

Akhirnya muncullah nama Damar. Damar adalah sejenis pohon (Agathis dammara) yang banyak sekali manfaatnya. Kayunya digunakan untuk mebel dan kertas, getahnya untuk bahan karet. Resin yang dihasilkan dari pengolahan getah banyak digunakan untuk membuat berbagai produk lapisan plastik, tektil, cat, tinta, bahan plester dan korep api. Getah ini juga menjadi bahan bakar lampu di zaman dulu. Sementara pohon damar sendiri banyak ditanam di kota-kota besar seperti Jakarta dalam rangka penghijauan.

Harapannya, si anak nanti belajar dari pohon damar. Kalau pohon saja bisa memberikan manfaat dunia akhirat tanpa harus punya musuh, apalagi kita sebagai manusia…

Ketika hamil anak kedua, Pakne krucils bersikeras anak yang perempun ini akan diberi nama Haadiyyah, bentuk perempuan dari nama dia sendiri. Al Haadiyyu artinya yang memberikan petunjuk (huda, hidayah).

“Nanti kalau di Indonesia, dia akan diejek teman-temannya… Pasti akan ada yang memanggil dia dengan ‘hadiah… hadiah…’ coba digandeng nama lain…” usul saya. Setelah buka semua babynames books yang ada di library, plus berjam-jam cari nama di internet, akhirnya ketemu nama Nava, dari bahasa Israel (Hebrew) yang artinya cantik.

Di anak kedua ini saya sudah nggak terlalu ngotot mencarikan nama yang Jawa, karena nama belakang anak-anak mengikuti nam belakang bapaknya yang sudah Jawa. Nama Dinara dipilih karena meski ini nama Rusia, tapi mudah diucapkan oleh orang Indonesia maupun petutur berbahasa Inggris.

“Pengen punya anak petenis, ya?” biasanya ini pertanyaan yang kami terima ketika teman-teman menengok baby Dinara. Karena salah satu petenis wanita terkenal asal Rusia bernama Dinara Safina. Dinara sendiri dalam bahasa Rusia berarti harta karun (treasure), dan dalam bahasa Persia berarti koin emas. Dugaan saya, sih, versi bahasa Persia ini dipengaruhi kata dinar.

Ketika hasil USG ketiga menunjukkan jenis kelamin bayi adalah perempuan, Pakne Krucils kuatir nama Mahdi nggak akan terpakai.

“Kalau begitu, namanya Mahdiyah…” katanya. Kebetulan, di tahun-tahun ini Maher Zain sedang ngetop-ngetopnya. Akhirnya kita juga memberi nama anak ketiga ini Zayna (zaynah, perhiasan), bentuk perempuan dari zain.

Karena harus diawali huruf dal, saya beri alternatif nama-nama anak perempuan berawalan huruf D mulai dari Dewi, Desi, Diandra, Dana, dan banyak lagi… Dan nggak ada yang cocok… Ampuuunnn… Sampai akhirnya sudah mendekati hari perkiraan lahir dan terpaksa diputuskan secara cepat memilih nama awal Dara.

Selain berarti anak perempuan dalam bahasa Indonesia, dalam bahasa Khmer, Thai, dan Lao, dara berarti bintang. Dalam bahasa Hebrew, dara bermakna mutiara (pearl) dan kebijaksanaan (wisdom). Menurut bahasa Punjabi berarti pemimpin dan dalam bahasa Persia dara memiliki makna makmur sejahtera (prosperous, wealthy).

Jadi, nama Mahdi sudah ada sejak saya hamil anak pertama. Pas di-USG ternyata akan punya anak laki-laki, ya namanya sudah siap. Tinggal cari nama depannya.

Daegan, dalam bahasa Skotlandia kuno (bahasa Gaelic) berarti yang berambut hitam. Padahal ternyata Mahdi rambutnya coklat kemerahan. Nggak benar-benar hitam. Ya mau gimana lagi.

Jadi inilah ceritanya mengapa nama krucils tidak 100% berbahasa Arab. Dari nama lengkapnya Damarsajjad Fahdiy Susanto, Dinara Navahadia Susanto, Dara-zayna Mahdiyah Susanto, dan Daegansajjad Mahdi Susanto, harapan saya orang akan langsung tahu bahwa krucils keturunan orang Jawa Indonesia. Bagi saya, nama-nama dalam bahasa Jawa dan bahasa Indonesia juga baik dan indah. Kalau tak ada upaya untuk melestarikan, bisa dipastikan nama-nama tersebut akan punah, digantikan oleh nama-nama berbahasa asing lainnya.

Kalau William Shakespeare nanya ke saya, “What’s in a name?”
Mungkin saya akan menjawab, “Pemberian nama kepada generasi penerus, mungkinbisa dijadikan indikator seberapa besar kepedulian kita terhadap bahasa dan budaya suatu bangsa.”

Colchester, Essex, 27 Februari 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s