Ngobrol tentang Seks dengan Anak-anak (ODOP Day 44 of 99)

sex“Look, Mas, look,” kata Dinara berjoged sambil menggoyang-goyangkan pantatnya, “I’m sexy!”

Saya, yang datang membawa nampan berisi sarapan, nyaris pingsan. Pandangan mata saya dan Pakne Krucils bertemu. Alis mata saya terangkat, mata melebar, kirim pertanyaan secara telepati, “Kamu yakin yang ngomong kayak begini ini anak kita? Bukan putri yang tertukar?”

Sementara yang terima pertanyaan tanpa suara cuma angkat bahu kasih kode, “Sesuai kesepakatan.”

Sesuai kesepakatan kami, yang akan berbicara terkait masalah seksualitas kepada anak, adalah orang tua dengan jenis kelamin yang sama dengan anak.

Saya meletakkan nampan dan membagikan sarapan. Susu, sereal, sandwich, buah, roti, dan semacamnya. Dinara mulai duduk dan melahap makan paginya. Saya mencoba bertanya dengan nada senormal mungkin, “Eh, Mbak, sexy itu apa sih?”

Rasanya baru kemarin saya mendapati krucils ngerumpi soal lawan jenis. Waktu itu, sepulang sekolah, kebetulan saya dititipi menjemput Dzakir, salah satu anak Indonesia tetangga di sini.

Fahdiy dan Dzakir duduk di kelas yang sama, waktu itu berumur 7 tahun. Dalam perjalanan pulang dari sekolah ke rumah, mereka berdua berjalan bersisian. Saya di belakang mereka, mendorong kereta berisi Mahdi, dengan Dinara di sisi kanan dan Dara di sebelah kiri.

“Fahdiy, do you know that Harrison has a new girlfriend?” tanya Dzakir.
“Really? Who?” sahut Fahdiy.
Nggak pakai diperintah, Dinara langsung maju menjajari kakaknya untuk ikut menguping.

Di lain waktu, Dinara dan Dara bertengkar. Penyebabnya?
“I want to marry Mas!” kata Dara.
“No, Dara, I married to Mas and you married to Mahdi!” seru Dinara tak kalah kerasnya.

Sesekali anak-anak juga mulai mempertanyakan definisi husband and wife. Ini bertahap setelah sebelumnya bertahun-tahun mereka berusaha memahami konsep family, mommy, daddy, brother, sister, mas, mbak, oom, tante, eyang, mbah, dan seterusnya.

Setelah bertanya santai seputar, “Who is your best friend at school?” iseng-iseng saya nanya,”So, who is your girlfriend at school, Mas?”
“What???” muka Fahdiy langsung merah padam, “I don’t have any girlfriends!”
“I know Mas’ girlfriend!” sambar Dinara.
“Siapa?” tanya saya.
“Chloe!”
“She’s not my girlfriend!” tukas Fahdiy.

Setelah kehebohan beberapa saat, saya bilang, “I think Chloe is not Mas’ girlfriend. She is Mas Fahdiy’s female friend. Oke? So Dinara, who is your boyfriend?”
“I don’t like boys! They’re rude, and noisy!”
“Yes!” timpal Dara, “I don’t like boys, because they don’t like pink! And I like pink!”
“Oh, sorry, Dinara…” untuk sementara saya memilih mengabaikan tambahan informasi dari Dara, “I mean, who are your male friends?”
Akhirnya saya pun memberikan sedikit penjelasan perbedaan male-friend dan boyfriend, female-friend dan girlfriend, “Kita bisa berteman dengan semuanya, you can play with your female-friends and your male-friends. But in Islam, there’s no such thing as girlfriend nor boyfriend. Girlfriend and boyfriend itu teman yang sangat dekat sekali sampai-sampai orang yang ber-girl/boy-friend-an mereka akan bergandengan tangan, berpelukan, berciuman, bahkan tinggal satu rumah. Dan menurut Islam, muslim tidak boleh begitu… Do you understand?”

“Nanti, kalau kalian sudah adult, kalian akan menikah. Nah, menikah itu nggak boleh dengan saudara. Jadi, Dinara dan Dara nggak bisa menikah dengan Mas, Mahdi, atau Ayah… Tapi bisa menikah dengan Mas Dzakir, atau sama Ashfat, Arafat, atau teman-teman di Al Qalam…”

Dinara dan Dara pasang tampang bengong. Sejurus kemudian keduanya udah rukun main My Little Pony.

“Jadi, sexy itu apa, sih, Mbak?” saya duduk di sisi Si Gadis yang berumur 6 tahun.
“I don’t know,” jawabnya singkat.
Alis mata saya naik lagi, “Oooohhh…. You don’t know? Terus kamu dengar dari siapa?”
Dinara ragu-ragu.

Beginilah tantangan menyekolahkan anak di sekolah negeri yang siswanya dari beragam latar belakang. Ada satu anak yang pilihan kosakatanya luar biasa kasar. Sekali waktu Dinara pernah membawa pulang kalimat-kalimat semacam, “(S)he has small brain!”

Selain menyidangnya secara khusus, Si Ayah sampai harus berbicara dengan guru perihal anak dengan kosakata ‘luar biasa’ di kelas Dinara ini.

“Mbak, I don’t think sexy is  good word to say,” kata saya, mencoba untuk tidak menggurui, “Sexy itu biasanya sebutan untuk orang-orang yang nggak pakai  baju, atau bajunya too tight.”
“Like naked?”
“Ya kira-kira begitu, lah…”
Dinara kelihatan pikir-pikir. Tapi cuma sekali itu dia mengucapkan kata sexy.

Saat mandi biasanya adalah waktu yang tepat untuk mengajarkan hal-hal seputar kelamin. Di usia 1-3 tahun biasanya anak laki-laki ingin menyentuh dan menarik-narik penisnya ketika acara permandian. Kalau dimandikan bersama, di usia ini anak-anak perempuan juga tertarik dan kadang ikut menarik-narik penis saudara laki-lakinya.

Jadi sejak masih kecil, anak-anak sudah tahu kalau alat kelamin laki-laki dan perempuan berbeda. Secara bertahap, anak dibiasakan belajar membasuh sendiri dan normalnya ketika umur 6-7 tahun sudah bisa membasuh sendiri setelah BAK dan BAB. Di dalam proses tersebut harus diselipkan bahwa alat kelamin adalah ‘kemaluan’, yang artinya jangan sampai dilihat orang lain. Kalau orang lain lihat, kita harus malu.

Kalau lihat saja nggak boleh, apalagi menyentuh. Sangat tidak boleh. Pembahasan aurat, terutama untuk anak perempuan, dilakukan bertahap. Tapi sejak dini sudah saya beritahukan soal menutup bagian tubuh dengan pakaian sehari-hari. Jadi, Fahdiy pun malu kalau bertelanjang dada di hadapan orang lain. Soalnya sejak awal saya menanamkan bahwa dada, perut, punggung, kemaluan, sampai lutut, ini  bagian yang harus ditutup.

Soal menutup bagian tubuh ini beriringan dengan mengajarkan anak dalam pemilihan busana. Saya pribadi tak selalu memberikan rok atau motif bunga-bungan kepada anak-anak perempuan, tetapi sejak kecil sudah diajarkan bertahap bahwa pakaian laki-laki dan perempuan berbeda.

Seinget saya, di umur 0-3 tahun kelihatannya anak belum memahami perbedaan laki-laki dan perempuan. Kalau saya memakaikan kerudung ke Dinara yang berumur 1 tahun, Fahdiy juga iri dan ingin ikut memakainya, dan di usia seperti ini saya membiarkan ia mencobanya. Begitu pun sekarang Mahdi yang sering ingin ikut memakai bando dan jepit rambut Dinara dan Dara, masih saya berikan toleransi.

Umumnya di umur sekitar 3 tahun secara alami anak akan muncul kecondongannya sebagai laki-laki atau perempuan. Yang perempuan akan sangat senang berdandan bak princess atau fairy, dan mulai bisa dikondisikan untuk pakai rok panjang plus kerudung, dan mulai punya warna favorit biasanya pink. Sementara anak laki-laki, ogah pakai pink, dan sudah mulai sadar untuk tidak memakai baju-baju perempuan. Di sini perlu peran ayah untuk mmberikan teladan bagaimana laki-laki berbusana.

Sekarang, di usia 8 tahun Fahdiy sudah mulai nanya-nanya, “Are coming to pray with me and Ayah, Bunda?” kalau melihat saya nggak ikut sholat bareng mereka.
“No, Mas, Bunda nggak sholat hari ini,” biasanya saya menjawab demikian.
“Why?”
“Kalau di dalam agama Islam, orang perempuan ada hari nggak boleh sholat. Tapi kalau laki-laki harus sholat terus… So when you are adult, like Ayah, you have to make sholat five times a day, everyday…”
Sementara dijawab begitu pun anaknya sudah menerima. Kelak, kalau pertanyaannya nambah, ya dosis penjelasannya akan kita tambah juga.

Masih banyak PR saya dalam hal memberikan pendidikan seks kepada anak-anak. Satu hal yang sudah pasti, kami sama sekali tidak berminat mengikuti pendidikan seks ala Barat. Yang harus dipahamkan kepada anak bukan soal seks, seks, seks itu sendiri. Tapi pondasi akidah, keimanan, dan ketakwaannya terlebih dahulu. Pendidikan seks harus diletakkan di atas pondasi keimanan. Tanpa pondasi akidah, iman, dan takwa, pendidikan seks ya jadinya seperti di Barat. Vulgar, dan alih-alih mengajarkan agar tidak menjadi korban penjahat seksual, dalam banyak kasus pendidikan seks di negara maju justru menginspirasi siswa untuk melakukan perbuatan yang dilarang oleh Islam, misalnya ‘berzina secara aman’.

Colchester, Essex 24 Februari 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s