Memegang Teguh Islam di Paris (ODOP Day 43 of 99)

France

Sumber foto : bestourism.com

Ngaji online One Week One Juz (OWOJ) pekan lalu yang memberikan taushiyah adalah Mbak Titik yang berdomisili di Paris, Perancis. Beliau ibu dari 2 anak. Mbak Titik baru sekitar hampir satu tahun tinggal di Paris mendampingin suami yang menempuh pendidikan di negara tersebut.

Sebagai ibu rumah tangga, Mbak Titik relatif tidak banyak menemui hambatan dalam menjalankan syariat Islam. Tantangan terberat justru adalah menjaga ke-Islam-an anak-anak. Beberapa hal yang menjadi catatan saya di antaranya adalah:

– Tantangan mengajarkan berpuasa 19 jam kepada anak usia sekolah dasar di bulan Ramadan
– Meneguhkan anak untuk tetap berpuasa meski harus ke sekolah
– Pihak sekolah tidak memberikan kemudahan kebijakan bagi anak untuk menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan
– Pihak sekolah melarang anak memakai busana yang menutup aurat, termasuk melarang anak mengenakan kerudung
– Ketika mata pelajaran berenang, pihak sekolah melarang siswa mengenakan burkini. Kalau tetap bertekad pakai burkini, tidak diizinkan mengikuti mata pelajaran berenang.
– Jika di Indonesia sejak berusia 6 tahun anak sudah bisa berpuasa penuh di bulan Ramadan, ketika tinggal di Paris, dengan beratnya kesulitan yang ada, anak tidak bisa lagi berpuasa penuh di bulan Ramadan
– Kesulitan mengajarkan waktu sholat tepat waktu karena jadwal sholat yang berubah-ubah.
– Anak mengalami chock culture karena hubungan laki-laki dan perempuan yang sangat jauh dari nilai-nilai ketimuran dan Islam secara khusus.

Menurut Mbak Titik, inilah ironi Perancis sebagai sebuah negara yang menjadikan Liberté, égalité, fraternité sebagai semboyan negaranya. Bagi umat Islam di Perancis, tidak ada Liberté (liberty) atau kebebasan dalam menjalankan syariat Islam di ranah publik. Tidak terasa yang namanya égalité (equality) atau persamaan hak dalam menjalankan hak sebagai individu muslim di tengah-tengah masyarakat yang mayoritas non-muslim. Apalagi fraternité (brotherhood/sisterhood) alias persaudaraan, jelas nggak mungkin karena nilai-nilai Islam jelas bertentangan dengan nilai-nilai yang diadopsi negara Perancis.

Jadi, menurut Mbak Titik, demokrasi di Perancis itu hanya ilusi. Liberté, égalité, fraternité hanya jargon yang berlaku bagi individu dan masyarakat non-muslim.

“Muslim di Perancis, terutama di Paris, sebetulnya populasinya besar,” tutur Mbak Titik, “Bahkan termasuk yang terbesar untuk ukuran di Eropa. Mayoritas dari Aljazair, Maroko, Tunisia, beberapa dari Turki, dengan sisanya dari Arab dan Asia…”

Tetapi, menurut Mbak Titik, “Karena peraturan negara tidak berpihak kepada Islam dan muslim, maka jumlah populasi muslim yang besar ini jadi tidak terasakan eksistensinya… Karena selalu dibatasi untuk mengekspresikan dan menjalankan ibadahnya…”

Mbak Titik menyinggung kesulitan menjalankan ibadah sholat Jumat bagi laki-laki muslim baligh di Perancis, juga sikap anti-Islam yang menjadi norma yang diterima masyarakat pada umumnya. Bahkan bagi saya pribadi yang mengagetkan adalah sikap, perkataan, dan perbuatan anti-Islam diperkenankan dan menjadi hal yang wajar diterima ketika terjadi di universitas dan dilakukan oleh kalangan akademisi.

Di sinilah kemudian Mbak Titik mengangkat topik Istiqamah di Tanah Napoleon dalam taushiyahnya. Hal ini diperlukan terutama bagi muslim yang sudah berkeluarga, dan perlu untuk menanamkan sikap istiqamah kepada anak-anak muslim yang merasakan menggenggam Islam menjadi hal yang luar biasa beratnya di Perancis.

Mbak Titik mengawali dengan menjelaskan asal kata istiqamah yang bermakna konsisten kepada Islam baik di dunia maupun di akhirat.

“Istiqamah, baik dalam kondisi lapang, maupun sempit,” kata Mbak Titik.

Pondasi dari istiqamah sendiri adalah iman. Sehingga memang  bagi para orang tua muslim, penting untuk menanamkan keimanan agar kuat di dalam dirinya dan anak-anaknya, sebelum berbicara tentang keistiqamahan.

Mbak Titik lantas menceritakan bagaimana beliau menyemangati anak-anaknya untuk istiqamah kepada Islam. Misalnya dengan mengulang-ulang kisah para sahabat Nabi Muhammad Saww seperti Bilal bin Rabah yang ditindih batu berat dan dijemur di siang yang terik, juga kisah keluarga Yasir yang dibantai seluruh anggota keluarga, ketika mereka didapati menjadi pengikut Nabi Muhammad Saww.

Atau kisah dari zaman nabi-nabi sebelumnya, misalnya kisah para tukang sihir Fir’aun yang mendapat hukuman berat dari Firaun akibat menjadi pengikut Nabi Musa AS. Juga kisah Siti Masyitoh beserta suami, anak dan bayinya; yang oleh Fir’aun direbus hidup-hidup di dalam bejana berisi air mendidih akibat tak sengaja mengucapkan ‘Subhanallah’ ketika menjatuhkan sisir putri Fir’aun.

“Jadi, kesulitan kita menjadi muslim di Paris ini, ngga ada apa-apanya dibandingkan dengan muslim di zaman dahulu,” demikian Mbak Titik menceritakan caranya menyemangati anak-anak.
“Bandingkan pula dengan muslim di Palestina, di Syirian, di Iraq, juga di Rohingya…” ungkap Mbak Titik lagi.

Selain itu, tentunya harus dibicarakan juga keutamaan istiqamah dengan anak-anak. Bahwa istiqamah adalah sebab kemenangan dan terkabulnya doa. Maka sejak dini anak-anak harus diajarkan sholat dan dibiasakan untuk berdoa dan mengadu kepada Allah Swt. Bukan mengeluh dan mengadu kepada manusia, tetapi kepada Allah Swt karena Allah Swt senang jika hamba-Nya mengeluh dan mengadu kepada-Nya.

Istiqamah memang berat, dan karenanya pantas jika orang-orang yang istiqamah diberikan balasan surga. Tetapi, di zaman sekarang, istiqamah menjadi sulit. Kita ingin konsisten menjalankan ajaran Islam dalam urusan berpakaian, makanan, parenting, muamalah (dalam interaksi antar-manusia) menjadi tidak mudah karena kita harus berjuang sendiri. Ketika ingin lepas dari riba, atau punya rumah secara tunai tanpa kredit riba, sangat sulit, karena sistemnya tidak memberikan dukungan. Kalau pun sekarang ada, baru dijalankan secara parsial oleh lembaga, kelompok, organisasi, yang memiliki kepedulian. Tentu, tenaga dan kemampuannya terbatas.

“Maka sebetulnya sekarang, umat Islam itu memerlukan sistem yang memungkinkan muslim bisa istiqamah secara totalitas,” ujar Mbak Titik, “Karena itu musim harus punya cita-cita berkontribusi menegakkan Islam secara sempurna sebagai sebuah peraturan dalam kehidupan, karena hanya dengan cara itu saja umat Islam akan bisa menjalankan keistiqamahan secara menyeluruh dalam semua aspek kehidupan sehari-hari.”

Tips istiqamah dalam Islam menurut Mbak Titik di antaranya adalah merenungi nikmat Allah (ibrahim 34); menyadari usia dan amal, tentang ajal al a’raf 34; paham istiqamah itu dlm kondisi lapang dan sempit, mengetahui bahawa amal yg disenangi Allah adalah yang kontinu meski sedikit, dan memiliki kawan beramal (at taubah 119? atau 19?)

Karena yang dialami Mbak Titik sangat jauh dari pengalaman ibu-ibu lain di Eropa yang mayoritas tidak merasa terlalu tertindas dalam menjalankan Islam, pertanyaan dan diskusi sebetulnya banyak banget. Tapi nggak sempat nyatet. Keburu harus ke sekolah jemput anak PAUD.

Semoga yang sedikit ini bermanfaat. Untuk Mbak-mbak dan ibu-ibu di Eropa, insyaAllah kita ketemua lagi di OWOJ berikutnya.

Colchester, Essex, 22 Februari 2017

Advertisements

5 thoughts on “Memegang Teguh Islam di Paris (ODOP Day 43 of 99)

  1. Hallo Mbak Fira… Aku dulu pernah tinggal di Paris, dan punya tetangga serta kenalan muslim. Semua bilang senang dan gak masalah tinggal di Prancis. Kalo dibilang peraturan negara Prancis tidak berpihak pada Islam dan muslim, itu gak sepenuhnya benar. Yang benar, peraturan negara prancis tidak berpihak pada agama manapun, karena Prancis menjalankan laïcité/sekularisme. Di sekolah publik misalnya, memang murid2 muslimah dilarang berjilbab. Tapi murid2 Kristen juga dilarang memakai kalung salib. Di luar sekolah publik atau kantor pemerintahan, silakan kalau mau berjilbab. Banyak kok perempuan berjilbab berlalu lalang di Paris, no problem. Aku gak setuju sih dengan penerapan sekularisme model Prancis gitu. Memang seperti gak ada liberté, tapi bukan cuma buat muslim! Model sekularisme Canada lebih bagus menurutku. Susah menjalankan sholat Jumat di Prancis? Di Paris ada masjid guede yang mudah dicapai naik metro. Di KBRI juga bisa, dan masih banyak tempat2 lainnya. Intinya…. aku salut dengan yang istiqamah menjalankan agama, tapi coba lepaskan itu victim mentality-nya.

    Liked by 1 person

    • Makasih tambahannya, Mba Citra… Saya lihat memang Perancis lebih tegas dalam menerapkan sekulerismenya… Sebagian muslim yg tidak bermasalah dg sekulerisme yg tidak berpihak kpd agama sama sekali, mungkin akan terasa lebih berat bagi muslim yg ingin konsisten menjalankan islam di semua aspek kehidupan sprt Mbak Titik ini…

      Makasih Mbak utk tambahan Masjid di Paris… salam dari Colchester…

      Like

      • Kayaknya tinggal di Prancis lumayan berat buat orang-orang yang ingin 100% konsisten menjalankan ajaran agama mereka, apapun agamanya…. Sekularisme model gini ini bikin orang curigaan dan takut perbedaan. Di Canada sini pendekatannya kebalikan sama di Prancis. Sekularisme berarti semua agama difasilitasi oleh pemerintah. Semua orang berhak memakai simbol agama mereka, dan dilindungi secara hukum. Jadi orang sini biasa aja kalo liat perempuan bercadar, misalnya. Salam dari Edmonton, mbak Fira 🙂

        Liked by 1 person

  2. Sy punya adik yg bkeluarga n pny anak. Skrg mreka tinggal d Chalon sur Saone. Td (20.00 wib) brusan dia slese ngobrol dg sy. Dia crita2 ttg ke 2 anak2nya.

    Anaknya yg pertama brumur 5,5 thn namun blm skul TK atw PAUD. Tp adik sy mengajarkan sdikit ilmu2 agama n pngetahuan kpd anaknya itu.

    Suaminya brasal dr Maroko. Mreka brusaha mngajarkan anak2 mreka ilmu2 agama dulu sblm skul umum.

    Mdengar kisah mbak d atas, sy bdoa agar saat ponakn2 sy skul nanti, mreka dberikn kmudahn dlm mlaksanakn printah2 agama.

    Ortu kmi sdh mrayu adik sy agar nanti anak2nya dskul kan d skul agama dsini. Tp kata adik sy, suaminya berat bpisah dg anak2nya. Smntr bingung jg klo pindah k sini (Pangkalan Bun — kabupaten di Kalteng), lahan kerja u/ org asing spertinya cuma sawit. Klo bdagang, apa bisa, ya?

    Namun itu dah jln hidup yg dpilih adik sy. Kmi blm pernah ksana. Sy harap, keimanan mreka tdk turun krn bbagai halangan.

    #kapanbisakesana

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s