Sekolah, Predator Keluarga? (ODOP Day 42 of 99)

sekolah

Sumber foto: Ryefield Primary School

Seorang ibu dengan anak berumur 2 tahun 6 bulan mengeluhkan anaknya superaktif, “Tenaganya ngga ada habis-habisnya, Mbak… Nggak bisa disambi… Anak saya sangat aktif, selalu pengen lari dan lompat, sulit disuruh duduk, dan yang paling berbahaya sekarang dia bisa buka pintu rumah sementara rumah kami di pinggir jalan raya…”

“Saya kepikir untuk menyekolahkan dia saja di semacam playgroup… Berapa pun harganya, nanti saya bayar…” imbuh Si Ibu.

Pikiran saya pun menerawang ke diri sendiri yang selalu ingin anak-anak lekas besar dan pergi ke sekolah supaya saya bisa punya waktu untuk diri sendiri. Juga waktu untuk mengerjakan urusan2 rumah tangga yang sering nggak bisa disambi momong bayi dan batita sekaligus (bertahun-tahun saya selalu combo, punya 2-3 balita sekaligus).

Semua ibu yang pernah mengasuh anaknya sendiri, terutama tanpa bantuan asisten dan keluarga besar, pasti pernah merasakan kerepotannya. Saya sendiri beberapa kali agak curhat-curhat dikit ke Mama lewat telepon. Tentang rumah yang selalu berantakan. Baju anak-anak yang lekas kotor. Kecepatan menyetrika yang kalah dengan kecepatan menumpuknya jemuran kering. Jam tidur yang kurang. Tak ada kesempatan bersosialisasi. Dan seterusnya, dan seterusnya.

Makanya pas Mahdi akhirnya sekolah PAUD bulan lalu, wow, saya bersyukur banget. Akhirnya punya me time!!! Setelah 8,5 tahun dikintilin anak ke mana-mana!!! Sampai-sampai pips, pup, dan mandi pun harus membiarkan pintunya tidak terkunci bahkan kadang harus agak terbuka (sekali lagi, ini cuma bisa dipahami ibu yang mengasuh dan mendidik anak bayi-batita-balita; tanpa bantuan orang lain).

Tapi, di balik rasa happy karena anak-anak sudah sekolah, sebetulnya ada tantangan baru yang mungkin jarang diketahui para ibu. Yakni, waktu anak bersama kita jadi berkurang.

Ini terasa sekali ketika anak-anak mulai berumur 4 tahun dan sekolah fulltime 6 jam/hari selama 5 hari/minggu. Bahkan untuk saya yang ibu rumah tangga penuh waktu pun, jadi punya perasaan, ketika anak-anak bangun di pagi hari bersama saya, mereka belum sadar penuh. Pas mereka dalam kondisi sadar, guru-gurunya di sekolahlah yang banyak ‘mengisi’ mereka. Sore hari ketika pulang ke rumah, anak-anak sudah lelah. Jadi saya cuma menerima anak-anak yang dalam kondisi masih ngantuk, dan capek.

Ketika berlangsung bertahun-tahun, sangat jelas anak-anak akan terpengaruh dengan apa yang ada di sekolah. Dalam beberapa hal, kebiasaan yang dibangun di rumah bisa kalah dengan kebiasaan yang didapatkan dari sekolah. Contoh saya, misalnya adalah kebiasaan berbahasa Indonesia di rumah. Sejak anak-anak sekolah fulltime, lambat laut kosakata bahasa Indonesianya berkurang. Akhirnya jadi pasif, hanya memahami, tapi tidak bisa menggunakan secara aktif.

Saya masih memberikan toleransi untuk hal tersebut. Hal yang saya nggak memberikan toleransi adalah ketika anak-anak yang lebih muda mulai memanggil kakak-kakaknya tanpa sebutan Mas atau Mbak. Kalau yang terakkhir ini, saya dan suami sepakat, ngga ada toleransi. Memanggil dengan Mas dan Mbak kepada yang lebih tua, ini harus. Termasuk di luar rumah sekali pun. Kalau di sekolah kami nggak bisa mengontrol, di luar sekolah saya nggak mau kalah.

Ini permisalan untuk hal-hal yang ekstrem. Pasti ada hal-hal kecil yang berdampak kepada anak ketika bertahun-tahun mereka sekolah fulltime. Ada yang positif, dan ada yang negatif. Bersyukur kalau positif. Kalau negatif, orangtua harus bekerja keras menghapus kebiasaan-kebiasaan tersebut sejak mulai benihnya.

Menanamkan nilai-nilai yang dianut dalam keluarga, sebetulnya jadi lebih sulit ketika anak sudah masuk sekolah. Karena anak pulang sekolah sudah lelah. Kadang masih harus menghadapi pelajaran tambahan, misalnya ngaji ke madrasah. Atau kalau versi keluarga modern, kursus musik, berenang, balet, dan sejenisnya. Berdasar pengalaman pribadi, setelah anak masuk sekolah, sedikit sekali waktu kita agar bisa mendidik anak. Dan harus berjuang lebih keras meletakkan pondasi karakter sesuai yang kita inginkan karena waktu yang kita miliki lebih sedikit.

Beberapa kali saya curhat kepada ibu-ibu Indonesia di Colchester yang anak-anaknya sudah besar, “Pernah nggak sih, Bu, berpikir, kita belum selesai mendidik anak-anak, tiba-tiba mereka kok sudah besar? Terus rasanya waktu bersama anak jadi berkurang padahal ada banyak hal yang belum sempat kita ajarkan ke anak…”

Semua yang saya tanyai menjawab, “Wah, ya sering, Mbak, berpikir seperti itu…”

Mungkin kita berpikir bahwa asalkan bisa menyekolahkan anak ke sekolah yang bagus, bereputasi baik, bertaraf internasional, maka pekerjaan mendidik anak bisa di-outsource-kan ke pihak sekolah. Dalam tulisannya Pekerjaan Rumah, Prof Daniel M Rosyid, guru besar di Fakultas Teknik Perkapalan ITS menuliskan, “Walau berat hati, saya terpaksa mengatakan bahwa sekolah adalah predator keluarga di rumah. Guru dan sekolah, antara lain melalui PR, berusaha keras untuk memberikan pesan dan kesan sebagai satu-satunya tempat belajar. Banyak orang tua yang kemudian percaya pada pesan dan kesan itu. Apalagi sekarang muncul istilah ’’pendidikan karakter’’ dan ’’full-day school’’. Peran mendidik dalam keluarga secara perlahan tapi pasti diambil alih sekolah. Banyak keluarga yang mulai ’’menitipkan’’ anak-anak mereka ke sekolah, tentu untuk harga yang cocok.”

Menurut beliau, “Wajah kusut masyarakat kita saat ini merupakan wajah masyarakat yang terlalu banyak bersekolah, tapi begitu sedikit pendidikannya. Begitu banyak guru, tapi sedikit keteladanan. Begitu banyak masjid, tapi begitu sedikit akhlak mulianya. Begitu panjang antrean haji, tapi begitu sedikit kemabruran. Begitu jauh antara kata dan perbuatan.”

“Hemat saya, semua paradoks itu dimulai saat keluarga mulai kehilangan kepercayaan diri untuk mendidik anak-anaknya sendiri. Mendidik orang lain adalah cara terbaik untuk mendidik diri sendiri. Keteladanan hilang sejak dari rumah. Keterbelakangan fungsi-fungsi pendidikan di dalam keluarga itu juga menjelaskan kenaikan kasus home-breakings di Indonesia selama beberapa tahun terakhir ini. Kecepatan kehancuran keluarga ini ditandai dengan tingkat perceraian yang mencapai 35 kasus per jam, penyalahgunaan narkoba, kebrutalan geng motor, sampai pelacuran remaja.”

“Pendidikan karakter dan budi pekerti hanya mungkin berkembang di rumah dan di luar sekolah. Sekolah hanya lingkungan buatan yang sering dimanipulasi. Karakter hanya tumbuh subur dalam kehidupan nyata yang penuh tantangan, kegetiran dan kepedihan. Menyerahkan pendidikan seluruhnya kepada sekolah merupakan bentuk sikap orang tua yang tidak bertanggung jawab.”

Tentang sekolah-sekolah yang dikatakan bermutu tinggi, beliau meyinggung, “Kurikulum hanya resep makan siang seragam di warung dekat rumah yang disebut sekolah. Anak yang sarapan dan makan malam bergizi yang disiapkan ibu di rumah tidak terlalu membutuhkan makan siang seragam di sekolah. Hanya anak yang tidak sarapan yang mengharapkan makan siang di sekolah.”

Dan akhirnya beliau menyarankan, “Keluarga harus merebut kembali tugas-tugas mendidik karakter anak-anak dengan membiasakan mereka melakukan sendiri pekerjaan-pekerjaan di rumah. BKKBN perlu menyediakan tunjangan bagi ibu hamil dan menyusui serta merawat balita di rumah. Itu jauh lebih efektif daripada PAUD. Kehadiran Pembantu Rumah Tangga (PRT) bisa berdampak buruk bagi pembentukan karakter anak. Pekerjaan-pekerjaan di rumah adalah bagian penting dalam pembentukan karakter anak-anak kita dan dalam rangka home-makings. Barat menggantungkan keberlanjutannya pada sistem persekolahannya. Kita menggantungkannya pada keluarga di rumah.”

Saya suka dengan pendapat beliau, “Hemat saya, semua paradoks itu dimulai saat keluarga mulai kehilangan kepercayaan diri untuk mendidik anak-anaknya sendiri. Mendidik orang lain adalah cara terbaik untuk mendidik diri sendiri. Keteladanan hilang sejak dari rumah.”

Kalimat tersebut membangunkan saya untuk meluruskan niat saya menyekolahkan anak-anak. Seharusnya, saya mengirimkan anak-anak ke sekolah karena sekolah punya cara lebih baik dalam MENGAJAR anak-anak, sementara dalam urusan MENDIDIK anak-anak seharusnya orang tua lebih tahu bagaimana mendidik anaknya daripada guru-gurunya di sekolah.

Masa batita anak tidak lama. Hanya sekitar 1000 hari saja. Yuk, kita jadikan masa batita anak yang hanya 1000 hari ini sebagai modal membangun kelekatan dengan anak, mengisinya tangki kasih sayangnya dengan full sehingga kelak anak tidak mengemis-ngemis kasih sayang kepada orang lain yang tidak jelas, dan membangun pondasi karakternya sesuai yang kita harapkan.

Dengan begitu, semoga kelak sekolah bukan menjadi predator, melainkan partner, dalam mengasuh dan mendidik anak-anak kita.

Bacaan lanjut: Pekerjaan Rumah, Danniel Mohammad Rosyid, http://radarkudus.jawapos.com/read/2014/05/02/283/Pekerjaan-Rumah

Colchester, Essex, 20 Februari 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s