[Buku] All Teachers Great and Small (ODOP Day 41 of 99)

buku

Sumber foto: Andyseed.com

All Teachers Great and Small adalah sebuah memoar dari seorang guru desa sekaligus penulis buku ini, Andy Seed. Buku setebal 379 halaman ini berisi kisahnya ketika di tahun pertama menjalani masa percobaan (probationary) sebagai guru bantu di Craghtwaite Primary School yang terletak di Yorkshire Dales, sekitar 25-30 tahun yang lalu.

Sebagai guru muda yang baru saja lulus kuliah, baru saja menikah, dan ingin tinggal di daerah York, Andy tak memiliki banyak pilihan dan menerima ketika ditawari mengajar di sekolah tersebut. Ia menjadi guru bantu mengajar 24 siswa di kelas Class 3 (kalau sekarang Year 3) yang berusia antara 8-9 tahun. Bab-bab di dalam buku diberi nama sesuai nama siswanya misalnya prolognya berjudul Sylvia, bab pertama berjudul Jack, lantas Carol, Malcolm dan seterusnya.

Andy Seed tidak hanya bercerita tentang pekerjaannya sebagai guru desa, tetapi juga kehidupan pribadinya. Makanya buku ini disebut memoar, karena sebetulnya lebih ke autobiografi.

Dari membaca buku ini, saya jadi lebih bisa memahami pekerjaan guru SD di United Kingdom. Beberapa tantangan yang dihadapi Andy Seed di antaranya adalah berhadapan dengan Howard Raven atau biasa disebut juga sebagai The Beak. Mr Raven adalah kepala sekolah yang kuno, kolot, sudah mengajar di Craghtwaite School selama puluhan tahun, bahkan sebelum Andy Seed dilahirkan. The Beak tidak bisa menerima kalau pemerintah melakukan perubahan kurikulum dan lebih menekankan pada kreativitas dan child-centered teaching dalam proses pembelajaran. Sementara Andy adalah guru muda yang baru lulus kuliah dengan segudang teori dan idealisme mengaplikasikan ilmu yang didapat dari universitas ke tengah masyarakat.

Raven tidak pernah mengkritik Andy, namun juga tidak pernah menunjukkan kepuasannya terhadap cara mengajar Andy yang lebih modern dengan pendekatan berbeda dibandingkan kurikulum tahun 1950-an. Masalahnya, Andy harus ‘memuaskan’ Raven, karena ia baru berada di masa percobaan, belum menjadi guru tetap, sementara kepala sekolahlah yang kelak akan membuatkan surat rekomendasi apakah guru bantu layak diangkat menjadi guru tetap atau tidak.

Beruntung staf guru lainnya suportif. Andy adalah satu-satunya guru laki-laki di Craghtwaite School yang hanya berisi siswa kelas 1 sampai 4. Emma Torrington, pengajar kelas termuda di Class 1 (usia 6-7 tahun) adalah guru yang nyentrik, berjiwa seni tinggi, digambarkan selalu muncul dengan busana meriah berwarna mencolok dengan asesoris yang berlebih. Hilda Percival berusia hampir 80 tahun dan mengajar Class 2 (7-8 tahun). Sementara guru paling perkasa adalah Val Croker yang mengajar siswa tertua di Class 4 (9-10 tahun). Sisanya adalah para guru asisten, juru masak, sekretaris sekolah, cleaner.

Masa kegelapan yang dialami Andy Seed berjalan sekitar 6 bulan. Dengan alasan pensiun lebih dini menerima uang lebih banyak, Howard Raven mengakhiri masa pengabdiannya. Joyce Berry yang menggantikan sebagai kepala sekolah, adalah pendidik modern yang pola pikirnya sama dengan Andy Seed. Di bawah kepemimpinannya, Joyce berhasil mengangkat moral para guru, siswa, dan wali murid untuk mencintai proses belajar mengajar dan Craghtwaite Primary School itu sendiri

Buku ini juga mengabadikan sulitnya kehidupan seorang guru muda dengan penghasilan pas-pasan yang baru menikah. Hidup ngontrak berpindah-pindah, sulitnya mencari rumah dengan harga terjangkau, sampai akhirnya Andy harus ngutang kepada kakeknya untuk membeli sebuah rumah untuk ditempat bersama Barbara, istrinya.

Salah satu persoalan yang dihadapi dalam tinggal di rumah tua yang sudah berusia ratusan tahun adalah, banyak tikusnya. Dalam keputusasaan karena tak berhasil menghalau tikus-tikus tersebut, ketika menemukan bahwa tikus bersarang di cerobong asap yang sudah tak digunakan lagi, Andy mencoba menyalakan perapian dengan harapan asapnya mengusir tikus. Perapian dan cerobong yang lama tak digunakan tidak terkendali. Api membesar dan nyaris membakar bukan hanya sarang tikus, tapi juga rumah itu sendiri. Beruntung Barbara dengan sigap menelpon petugas pemadam kebakaran.

Cerita tentang kehidupan masyarakat desa, mengingatkan saya kepada desanya suami di Lumajang. Sama seperti di Jawa, tinggal di Yorkshire Dales identik dengan perbukitan, lahan pertanian yang luas, biri-biri, kemudahan mendapatkan susu segar, telur ayam, dan tentu saja… para tetangga yang dekat satu dengan yang lain. Sama seperti di desa, di Dales, antara satu keluarga dengan yang lain seringkali masih terhubung secara kekerabatan. Gosip apa pun langsung menyebar tanpa bisa dikendalikan, tak hanya di kalangan penduduk desa, tapi juga ke telinga para staf guru dan wali murid.

Ketika rumahnya hampir dilalap api, bukan hanya seisi desa yang menonton. Kepala sekolah, kolega guru, bahwa anak didik, semua berlomba-lomba menanyakan kejadian tersebut.

Sebagai guru, Andy berhadapan dengan siswa dengan beragam karakter, dari beragam latar belakang dan status sosial ekonomi yang bervariasi. Ada Eve yang cerewet tapi parah dalam urusan akademik, Charlie yang anak yatim dari keluarga miskin, Hugh yang dari keluarga kaya raya dan sebelumnya sekolah di private school, Barney yang jago sepakbola tapi berat dalam membaca dan matematika, Rose yang pintar mengarang tetapi sangat pemalu, dan sebagainya. Andy harus berhadapan dengan kemurkaan ibu dari Martha yang tak memberikan izin kepada putrinya untuk ikut school trip, dan selalu ‘nervous’ dengan ibunda Josie yang juga seorang guru sekolah menengah. Karena ibunya Josie, mungkin seperti Amy Chua di The Battle Hymn of Tiger Mother dan Asian parents lainnya, nggak pernah ada puasnya dengan prestasi yang sudah dicapai anak di sekolah.

Bagi saya yang orang Indonesia, pengalaman Andy Seed membuka sedikit gambaran pikiran dan perasaan seorang guru. Ini melengkapi Laskar Pelangi yang ditulis dari sudut pandang siswa yang mencintai sekolah dan ibu gurunya. Sementara All Teachers Great and Small ditorehkan berdasar pengalaman tokoh utama sebagai pendidik.

Saya membayangkan, andai saja ada guru-guru Indonesia yang mau menuliskan memoarnya dalam sebuah buku seperti ini. Supaya kita tahu, guru yang mengabdi itu masih ada. Guru yang memang passion-nya adalah ngajar, itu masih eksis. Guru yang mencintai pekerjaannya sebagai pendidik, masih ada yang hidup. Karena jujur sekarang rasanya sudah langka mencari guru semacam ini apalagi yang mau mengabdi di daerah terpencil.

Kekurangan memoar ini nampaknya ada pada cerita tentang kehidupan pribadi Andy Seed, yang menurut saya agak membosankan dan sayangnya di beberapa bagian diceritakan terlalu panjang padahal nggak terlalu penting. Selebihnya, saya sepakat dengan Daily Mail yang menyatakan buku ini heart-warming and hilarious, dan Times Educational Supplement yang menyatakan buku ini touching, evocative, and often very funny book (which) has a timeless message.

Buku ini adalah satu dari tiga dalam seri All Teachers. Dua lainnya adalah All Teachers Wise dan Wonderful, dan All Teachers Bright and Beautiful. Patut disayangkan yang ada di Greenstead Library hanya seri pertama dan terakhir. Jadi ya cuma dua itulah yang saya bawa pulang.

‘Ala kulli hal, bersyukur akhirnya bisa menyelesaikan membaca satu buku dari target 50 buku tahun ini.

Colchester, Essex, 19 Februari 2017

Advertisements

One thought on “[Buku] All Teachers Great and Small (ODOP Day 41 of 99)

  1. Pingback: [Buku] All Teachers Bright and Beautiful (ODOP Day 68 of 99) – Rumah kecil di seberang universitas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s