Tantangan Goodreads Membaca 50 Buku Setahun, Mungkinkah? (ODOP Day 39 og 99)

tumtum-nutmeg

“Ayo, waktunya baca buku sekarang,” saya mengingatkan anak-anak terutama Fahdiy, Dinara, dan Dara untuk menyelesaikan salah satu rutinitasnya setelah makan malam, yakni membaca buku. Buku apa pun.

Seperti sudah saya duga, Dinara langsung mengeloni salah satu novel koleksi Rainbow Magic yang dipinjam entah dari sekolah atau perpustakaan umum. Sementara Dara levelnya baru buku-buku bergambar yang tipis-tipis. Dara belum lancar membaca, tapi sudah terbiasa dengan rutinitas reading time yang saya buat untuk kedua kakaknya.

“Mas, baca bukumu…” kata saya ke Si Sulung.
Sekitar 2 bulan terakhir, ada peningkatan dalam urusan membaca Si Sulung. Setelah bertahun-tahun saya mendampinginya membaca buku dengan suara dikeraskan (read aloud), sekitar 2 bulan terakhir Fahdiy minta baca buku sendiri tanpa didampingi. Awalnya saya agak ragu-ragu. Kepentingan membaca dengan dikeraskan adalah kadang kita harus mengoreksi ejaan (spelling) anak. Di sisi lain, kalau baca dengan suara dikeraskan, memang jadi lebih lambat daripada kalau membaca di dalam pikiran atau membaca di dalam hati. Tapi mengingat spelling-nya sudah melampaui target yang diharapkan pihak sekolah, saya mencoba memberinya kepercayaan membaca novel-novel dari sekolah untuk dibaca di dalam hati.

“But I’ve already finished it,” jawabnya sambil menunjukkan novel Fantastic Mr. Fox-nya Roald Dahl setebal 81 halaman yang dipinjamnya dari sekolah.
Saya nggak mau nyerah. Langsung menyodorkan sejumlah buku hasil minjem di perpustakaan umum, “Pilih satu yang mau kamu baca.”

Fahdiy memilih A Circus Adventure, salah satu dari 7 novel anak-anak dalam serial Tumtum & Nutmeg karya Emily Bearn. Tebalnya 227 halaman. Ilustrasinya nggak terlalu banyak. Font tulisan agak kecil sekitar TNR 11 dengan spasi mungkin 1,5. Saya pikir Fahdiy baru akan khataman minimal 5 hari lagi.

Sejam kemudian… “I’m finished!” katanya menutup buku dan langsung mau buka laptop.
Saya mengerutkan kening, “Sudah dibaca yang mana?”
“All of them.”
“Are you sure?”
“Yap!”
“Mas, what is the book about?”
“Err… Circus…”
“Who are the main characters?” saya mulai menginterogasi Fahdiy. Sampai pada kesimpulan Fahdiy memang hanya ‘membaca’ tetapi tanpa berusaha memahami yang dibacanya. Keesokan harinya, saya mencoba menurunkan target. Kasih buku lain yang lebih banyak ilustrasinya.

Tapi pada prinsipnya, saya merasa ini bukan soal kemampuan reading dan comprehension Fahdiy. Ini adalah tentang kemampuan reading dan comprehension saya sendiri.

Di awal Januari 2017 saya sudah memasang target mengkhatamkan 1 buku setiap minggu. Targetnya adalah 50 buku per tahun. Nyatanya sampai saat menulis ini, saya baru akan menamatkan 1 memoar setebal 370-an halaman. Yup, 6 books behind schedule. Sampai terbersit, apakah untuk ibu-ibu yang berumur 40 tahun dengan anak 4, memang sudah sulit meluangkan waktu untuk baca buku? Kenapa sekarang untuk sekadar menamatkan 1 buku sepekan saja jadi terasa sulit? Atau ini cuma masalah manajemen waktu saja? Harus banyak-banyak muhasabah. Jangan-jangan banyak membuang waktu untuk hal-hal yang nggak berfaedah fiddunya wal akhirah…

Sebetulnya, saya pengen langsung mengomeli Fahdiy. Tapi batal karena jangan-jangan dalam 2 bulan terakhir ini jam terbang dia dalam membaca buku sebenarnya jauh lebih tinggi dari emaknya yang kebanyakan baca kitab wajah alias facebook. Hanya karena saya nggak pernah mencatat judul buku dan halaman yang saya baca di dalam reading diary atau reading journal seperti Fahdiy dan Dinara, bukan berarti saya lebih banyak baca buku daripada anak-anak.

Beberapa orang tua bisa menjadi ortu tipe pemerintah. Maksudnya, ya merintah-merintah saja…. Nyuruh-nyuruh saja tanpa perlu mencontohkan. Dan ada memang anak-anak yang penurut dan menuruti perintah-perintah ortu tanpa mengkritik balik ortunya. Bersyukur jika memiliki anak seperti ini, yang artinya sebagai orang tua jadi lebih mudah dalam mengasuh dan mendidik.

Tetapi punya anak yang tipe pendebat, pengkritik, negativis yang cenderung memberontak dan jeli dalam mencuri kelengahan orang tua demi kepentingan pribadi, juga seru kayaknya. Soalnya orang tuanya nggak bisa cuma nyuruh-nyuruh saja tanpa mencontohkan… Sepertinya Allah Swt memang memberikan ke saya anak-anak seperti ini supaya saya banyak-banyak istighfar… Wkwkwwk…

Alhamdulllah pekan ini insyaAllah selesai baca satu buku. Mudah-mudahan bisa istiqamah baca buku dan nggak cuma sibuk baca medsos. Membaca 50 buku sepanjang 2017. Bismillah, insyaAllah bisa.

Colchester, Essex, 17 Februari 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s