Saya Menolak Pemimpin Kafir (ODOP Day 38 of 99)

islam

Sebuah message masuk ke inbox facebook saya. Pengirimnya adalah seorang ibu dosen cerdas bidang sains yang berhasil menamatkan PhD-nya di salah satu universitas terkemuka di Inggris.

“Nih, tolak pemimpin muslim hanya berlaku di DKI Jakarta,” tulisnya, bersamaan dengan kiriman salah satu foto pasangan calon gubernur Papua Barat yang cagubnya beragama Kristen dan wakilnya muslim. Saya tahu persis dosen ini tidak ikut pilkada DKI Jakarta apalagi Papua. Setahu saya ia juga bukan simpatisan, pendukung, apalagi anggota partai politik tertentu. Beliau juga bukan aktivis dakwah dari kelompok yang memilih tak ikut pemilu seperti Salafy. Bukan juga dari NU, Muhammadiyah, FPI, HTI dan sejenisnya. Murni dosen sains. Hanya saja beliau memiliki perhatian besar terhadap politik.

Saya menarik napas membaca message-nya. Sejujurnya, saya juga heran. Kenapa saia yang ditanya. Toh udah jelas saya nggak ikut pilkada. Dan saya juga bukan bagian dari partai politik yang ngakunya partai Islam tapi mendukung cagub kafir itu.

Menurut hasil quick count LSI, pilkada Papua Barat dimenangkan oleh Dominggus Mandacan yang beragama Kristen dengan Mohammad Lakotani sebagai wagubnya. Pasangan ini diusung oleh PDIP, PAN dan PKPI, mengalahkan pasangan Irena Manibuy-Abdullah Manaray (PKS, PKB, PPP, Hanura) dan Stevanus Malak-Ali Hindom (Partai Demokrat dan Golkar).

Terus, saya gimana? Ya tetep. Mau di Jakarta, Surabaya, Papua, Inggris, Eropa, Amerika Serikat, sikap saya tetep menolak pemimpin kafir.

Memang politik dalam sistem demokrasi memungkinkan kita semua jadi bermuka dua. Di satu wilayah menolak pemimpin kafir, di wilayah lain mendukung pemimpin kafir. Suatu waktu berkoalisi dengan partai sekuler bahkan mendukung calon yang sekuler, di waktu yang lain mengatakan antisekulersime. Di hadapan aktivis dakwah mengatakan ‘Kami adalah partai Islam yang akan memperjuangkan tegaknya Islam dan menolak kepemimpinan orang kafir,’, di lapangan nggak pernah sekalipun atas nama partai officially menyatakan menolak pemimpin kafir, atas nama partai tak segan berkoalisi dengan partai¬†kristen dan sebagai partai bahkan mengusung kandidat non-muslim.

Ada ‘partai Islam’ yang seperti itu. Banyak muslim yang seperti itu.

Tapi saya nggak bisa jadi yang seperti itu.

Maafkan saya.

Colchester, Essex, 16 Februari 2017

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s