Tantangan Memahamkan Akhirat ke Anak di Inggris (ODOP Day 36 of 99)

rotterdam2

Sumber foto : Start Us Magazine

Ini sambungan posting sebelumnya.

Menyimak nasihat Teh Rini (Rotterdam, Belanda) di forum kajian online One Week One Juz (OWOJ) tentang memanfaatkan hidup sebelum mati, saya jadi teringat betapa sulitnya memahamkan kepada anak-anak bahwa kelak kita semua akan mati. Bahwa kullu nafsin dzaaiqotul maut, setiap yang bernyawa pasti akan mati. Dan setelah mati, kita semua nanti akan kembali kepada Allah Swt. Tidak sesimpel sekadar membusuk jadi kompos trus sudah selesai.

Sekitar dua tahun lalu ketika Fahdiy berumur 6 tahun dan Dinara 4 tahun, saya juga harus berusaha keras memahamkan bahwa Allah itu eksis. Hanya karena kita tidak bisa melihat-Nya, mendengar-Nya, meraba-Nya, mencium bau-Nya, bukan berarti Allah, Malaikat, surga-neraka itu tidak eksis.

Setiap kali mereka melihat apa pun, saya selalu mengingatkan bahwa ada Allah di balik semua yang ada: matahari, bulan, bintang, orang tuanya, keluarganya, dirinya sendiri, hujan, salju, pohon, bunga-bunga, awan yang berarak, angin yang bertiup, laut yang luas, binatang yang beraneka macam yang ada di ‘zoo’ dan yang hanya bisa dilihat di buku atau youtube, semua Allah yang menciptakan. Bahwa Allah tidak bisa diindera, biasanya saya tutup mata mereka dan bertanya, “Mas nggak bisa lihat Bunda sekarang. Bunda ada atau tidak?”

Sedikit terpengaruh oleh ajaran Kristen, mereka bisa menerima eksistensi para malaikat Allah. Ketika sudah bisa membaca Iqra’, anak-anak ngerti bahwa Alquran itu ada, dan bisa membaca sendiri kisah Nabi-nabi dan Rasul lewat buku. Selain dari cerita oleh saya dan guru-gurunya di madrasah.

Sekarang Fahdiy 8,5 tahun; Dinara mau 7, Dara kemarin genap 5, dan Mahdi 3 tahun. Saya kok nggak yakin anak-anak paham tentang hari kiamat, qadha-qadar, kematian, surga-neraka, dan hal-hal ghaib yang kebenarannya diterima lewat Alquran.

Dalam banyak kejadian, saya sering merasa anak-anak belum terlalu paham makna bersyukur. Jadi, mereka menganggap bahwa mereka bisa melihat, mendengar, berbicara, berjalan, punya anggota tubuh lengkap, punya keluarga, bisa makan, bisa sekolah, dan berbagai kenikmatan lain, ini semua gratisan yang ‘ngga ada yang ngasih’ sehingga kita tidak perlu mensyukurinya… kalau nggak diingatkan.

Sebetulnya, ini bukan hanya problem untuk saya dalam mendidik anak. Tapi problem untuk negara Inggris juga. Sala satu warga Indonesia di Colchester yang bekerja merawat lansia di home care menceritakan, banyak dari orang-orang lansia yang sudah jelas-jelas aromanya akan wafat, tidak percaya kepada Tuhan. Dengan sendirinya juga tidak percaya ada life after death. Dalam pandangan sistem yang sekuler seperti di Inggris, orang, binatang, tumbuhan, dan semua living creatures, kalo sudah mati, ya mati saja. Sudah selesai. Orang-orang lansia di panti jompo ini akhirnya menganggap kematian semata sebagai sebuah perayaan sama seperti kelahiran, ulang tahun dan sejenisnya yang disiapkan untuk merayakan sekadar berakhirnya kehidupan. Sangat jauh dari perspektif Islam yang memandang kematian sebagai satu fase menuju kehidupan lain yang kekal abadi tidak akan ada akhirnya, dan karenanya hidup ini sebenarnya hanya sekadar ‘mampir untuk menyiapkan bekal sebanyak-banyaknya’.

Dalam memahamkan tentang Allah, saya cenderung menghindari memberikan penjelasan yang memberikan kesan buruk tentang Allah. Saya biasanya mengingatkan anak-anak, bahwa kalau orang tuanya penyayang, maka Allah jauh lebih penyayang daripada orang tuanya. Kalau Eyang dan Mbah-nya pemurah, maka Allah jauh lebih pemurah lagi. Kalau Superhero nampak kuat, Allah Maha Kuat jauh daripada Si Superhero, dan seterusnya.

Jadi, mereka belajar membaca Alquran, sholat, beramal sholih, bukan supaya Allah tidak marah. Bukan agar terhindar dari kemurkaan Allah. Toh, mereka pada belum baligh dan belum diwajibkan atas itu semua. Tetapi, biasanya saya bilang, kita belajar itu semua sebagai bentuk rasa syukur kita kepada Allah, dan insyaAllah, Allah akan lebih mencintai dan menyayangi kita…

Well, ini sebetulnya berlaku untuk kita juga, khan. Katanya, tak kenal maka tak sayang. Gimana mau sayang Allah kalau kenal juga tidak? Dan soal disayangi dan dicintai, bukankah Allah menjanjikan bahwa Dia selalu lebih dari yang kita berikan? Sesuai janji-nya, “Apabila ia mendekatkan dirinya kepada-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta, dan apabila ia mendekat kepada-Ku sehasta maka Aku akan mendekat kepadanya sedepa. Dan apabila ia mendatangi-Ku dengan berjalan maka Aku akan mendatanginya dengan berlari-lari kecil. “(HR. Bukhari, Ahmad, Tirmidzi).

Kembali lagi ke soal akhirat, surga dan neraka. Salah satu keluarga muslim di Inggris berusaha menggambarkan surga dengan, “Kalau sekarang Adik nggak boleh makan permen yang haram ini, nanti di surga, Adik bisa memakannya. Di surga nanti Adik boleh minta kepada Allah permen macam apa pun, dan Allah pasti kasih…”

Kalau dibandingkan dengan masa kecil saya dulu ang tinggal di kampung, sejak kecil sudah terbiasa dengan berita kematian. Tetangga meninggal, kerabat meninggal, anggota keluarga besar meninggal. Bahkan salah satu adik saya meninggal ketika saya masih di TK. Ditambah lagi, di kampung sudah biasa kita menjumpai semut mati, kecoak mati, cicak mati, kucing mati, ayam dipotong, kambing-sapi disembelih terutama di hari Idul Ad-ha, yang secara langsung semuanya menggambarkan kullu nafsin dzaaiqotul maut.

Sementara di Colchester sekarang… Ya nggak ada, lah, kalau mau cari semut di musim dingin. Kucing dipelihara di rumah-rumah. Anjing di jalanan jelas yang sehat. Ayam-kambing-sapi-kerbau cuma ada di kebun binatang dan semua ang dipamerkan ke pengunjung pasti yang sehat.

Di Indonesia, ada kalanya kita bertemu dengan pengemis yang menyandag disabilitas sehingga paham mengapa harus bersyukur jika dikaruniai anggota tubuh yang lengkap. Di Inggris, paling banter adalah menunjukkan orang-orang yang tidak bisa berjalan, tapi pakai kursi roda bertenaga listrik atau baterai untuk berpindah tempat.

Jadi begitulah sedikit tantangan memahamkan Islam kepada anak di Inggris. Inna ma’al ‘usri yusra, sesungguhnya beriringan dengan kesulitan, ada kemudahan di dalamnya. Dan tidak akan Allah membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya. Begitu janji-Nya di dalam Alquran.

Colchester, Essex, 15 Februari 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s