Tantangan Mengajarkan Bahasa Indonesia ke Anak di Eropa (ODOP Day 30 of 99)

norway

Foto: Bendera Norwegia… Sumbernya lupa… Google pastinya…

Pengajian online One Week One Juz (OWOJ) pekan lalu yang ngisi sharing Mbak Icha dari Haugesund, Norwegia. Sebetulnya Mbak Icha menceritakan Tantangan Keluarga Musim di Haugesund, Norwegia yang secara umum mirip dengan yang dihadapi keluarga muslim mana pun di belahan bumi Eropa.

Diskusi menjadi menarik ketika Mbak Siska di Swedia menanyakan ke Mbak Icha tips untuk mengajarkan anak berbahasa Indonesia karena Fatih (10 tahun), putranya Mbak Icha, fasih berbahasa Indonesia meski lahir di Inggris dan besar di Norwegia. Menurut Mbak Icha, Fatih menguasai bahasa Norsk, Inggris, Indonesia, dan sejumlah bahasa daerah di Indonesia.

Mengajarkan bahasa Indonesia ke anak ini juga problem yang saya hadapi. Meski saya berbahasa Indonesia sehari-hari di rumah, krucils berbicara 100% dalam bahasa Inggris.

Yang agak aneh, ketika liburan 6 minggu di Indonesia musim panas Juli-September lalu, setelah beberapa hari di Surabaya, anak-anak mulai berbicara dalam bahasa Indonesia. Setelah beberapa hari di Lumajang, mereka bahkan mulai berbicara dalam bahasa Jawa.

Tapi ya gitu… Begitu mendarat di Colchester, udah bubar semua bahasa Indonesia dan bahasa Jawanya. Nggak sampai 2 minggu, langsung pada lancar nginggris semua…

Kalau dipikir-pikir, bahasa Indonesia anak-anak musnah setelah mereka masuk sekolah. Sebelum sekolah, sampai usia 3-4 tahun, krucils berbahasa Indonesia karena sehari-hari hidup dengan ortunya. Setelah usia 4 tahun dan digiling 6 jam di sekolah, pelan tapi pasti bahasa Indonesia memunah. Seiring dengan itu, komunikasi antar-anak pun mereka berbahasa Inggris.

Sebetulnya tips dari Mbak Icha sudah banyak saya baca, yakni konsisten berbahasa Indonesia di rumah. Selain Mbak Icha, Kak Ros di Norwegia menyampaikan pendapat yang sama. Anak-anaknya yang sudah remaja, fasih membaca dan berbicara dalam bahasa Indonesia.

Mendengarkan pengalaman kedua Mbak tersebut, terus terang saya jadi agak sedih. Merasa kurang disiplin dan kurang gigih mengajarkan bahasa Indonesia kepada anak. Apalagi Kak Ros itu suaminya orang Swedia, alias mixed-couple. Hebat banget anak-anaknya fasih berbahasa Indonesia.

Dulu-dulu, saya pikir yang membuat anak-anak kurang lancar berbahasa Indonesia, karena anak-anak nggak terlalu banyak kesempatan berbahasa Indonesia. Terlebih lagi suami, meski sehari-hari di rumah berbahasa Indonesia, juga sering berbicara dalam bahasa Inggris kepada anak-anak. Ya, Pakne Krucils menganut prinsip parenting yang santai kayak di pantai, “Ibu itu lho, SD saja nggak tamat. Ibu nggak pernah ngajari aku untuk urusan sekolah, Anak itu, kalau memang pinter, ya dia akan bisa dengan sendirinya. Kalau memang nggak pinter, ya supervisornya punya 2 pilihan: memecatnya sebagai student, atau meluangkan waktu dan pikiran untuk mendongkraknya.”

Saya kalah kalau debat soal beginian dengan suami. Soalnya kami modalnya pengalaman. Saya yang IQ-nya rata-rata berprinsip saya bisa kalau saya belajar. Kalau saya nggak belajar, ya saya nggak akan bisa. Sementara Si Doi yang seumur hidup nggak pernah belajar sampai begadang, prestasi akademik malah nggak perlu diragukan lagi. Minimal Ganesha Prize cukup menjadi bukti. Soal multibahasa pun, mau gimana lagi. Lha saya ya kemampuan bahasa asingnya begini-begini saja. Lughah ‘Arabiyah pun nggak mjau-maju.

Sementara suami secara otodidak menguasai minimal 8 bahasa. Bahasa Jawa dan Madura sudah jelas didapat dari keluarga dan tetangga. Bahasa Indonesia dapet di sekolah. Tiga tahun di ITB capsus berbahasa Sunda. Enam tahun di Belanda akhirnya lancar berbahasa Belanda. Sebagai cucu Kiai NU dan karena di Belanda nge-kost berombongan dengan teman-teman dari Arab, akhirnya bahasa Arabnya dapet. Bahasa Inggris sudah pasti. Karena kebanyakan gaul dengan komunitas muslim Pakistan, akhirnya minimal bisa berbahasa Urdu pasif. Tanpa orangtua harus mengajarkan multibahasa di rumah.

Beruntung ada Mba Mia dari Denmark. Ngga sempat kenalan lama karena pengajiannya udah mau berakhir, tapi kayaknya beliau PhD student dengan bidang semacam psikologi atau pendidikan anak, begitu, lah…

Menurut Mbak Mia, pada dasarnya setiap individu memiliki kemampuan menguasai lebih dari satu bahasa. Yang paling gampang yang konsisten sering dipraktekkan.

Tetapi, kemampuan anak berbeda-beda. Ada anak yang mampu menguasai banyak bahasa sekaligus. Ada anak yang justru bingung dan malah speech delay ketika harus berkomunikasi dengan banyak bahasa sekaligus. Jadi tergantung tipe anaknya juga.

Selama ini saya merasa anak-anak kehilangan kemampuan berbahasa Indonesia karena sedikit kesempatan berbahasa Indonesia. Hanya saya, dan sesekali Pakne Krucils. Keluarga Indonesia di Colchester jarang yang berbahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari. Biasanya mereka justru menjadikan krucils sebagai ‘ajang latihan’ untuk memperlancar bahasa Inggris mereka sendiri.

Belajar dari Kak Ros yang pasangan kawin campur di Swedia, dan anak-anaknya fasih berbahasa Indonesia, kelihatannya saya harus lebih disiplin untuk konsisten berbahasa Indonesia kalau mau krucils menguasai bahasa Indonesia. PR lagi deh buat emaknya…

Colchester, Essex, 8 Februari 2017

Advertisements

One thought on “Tantangan Mengajarkan Bahasa Indonesia ke Anak di Eropa (ODOP Day 30 of 99)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s