Cantik, Ganteng, Pinter, Kaya… Kok Bunuh Diri??? (ODOP Day 29 of 99)

cindy-sui

Sumber foto: BBC

“Eh, Bu, ini lho ada berita dokter bunuh diri…” kata Pakne Krucils ketika kami sarapan.
“Oh ya? Siapa?”
“Dia itu perempuan, lulusan universitas top di Taiwan, kerja jadi dokter hewan di salah satu klinik hewan di Taipei,” Pakne Krucils matanya ngadep laptop. “Kliniknya itu juga mengadopsi binatang-binatang peliharaan yang terlantar atau dibuang majikannya…”

Apa anehnya? Pikir saya. Paling yang memenuhi klinik-klinik semacam itu ya anjing dan kucing. Sama seperti di Inggris.

“Nah, klinik-klinik hewan seperti miliknya itu, sudah terlalu sesak dengan penghuni… Si dokter ini mengaku sudah mematikan 700 hewan selama prakteknya. Pertimbangannya, lebih baik hewan-hewan ini dimatikan daripada harus hidup menderita di penampungan yang over capacity, atau terlantar di jalanan… Karena nggak ada yang mau mengadopsi…” lanjut Pakne Krucils.
“Di sisi lain, para aktivis penyayang binatang terus menekan orang-orang seperti dokter ini dan mengatakan mereka sebagai jagal… Lha kok akhirnya malah dokternya yang bunuh diri…” ujar Pakne Krucils dengan nada heran.

“Kenapa? Kau mau bilang alasan dia bunuh diri nggak keren?” saya langsung nyolot. “Kamu pikir alasan bunuh diri keren itu yang kayak Yoshiki Sasai dan Stefan Grimm doang?”

Yoshiki Sasai, bunuh diri di usia 52 tahun. Salah satu ilmuwan papan atas di RIKEN Center for Developmental Biology (CDB) in Kobe, Jepang, ini bunuh diri karena tak sanggup menaham malu setelah hasil risetnya yang dimuat di jurnal bergengsi Nature, ternyata keliru. Soalnya ini Nature, gitu, lho… NATURE!!! Sekali lagi ah, NATURE!!!

Sebetulnya kesalahan bukan murni salahnya Sasai. Ceritanya, adalah Haruko Obokata, mahasiswa S3 bimbingan Sasai-lah, yang memalsukan data. Sasai ‘hanya supervisornya’. Apa daya, budaya malu terhadap manipulasi data ilmiah tak sanggup ditanggung oleh Sasai.

Sebagian bapak/ibu/mas/mbak yang sekolah di sini (di Inggris), sempat memplesetkan peribahasa guru kencing berdiri murid kencing berlari sebagai post-doc memalsukan data supervisor kehilangan nyawa menanggapi berita bunuh dirinya Sasai.

Risetnya sendiri tentang STAP, Stimulus-Triggered Acquisition of Pluripotency cells, riset tentang biologi kedokteran yang sangat luar biasa bermanfaat pada masa datang karena berhubungan bagaimana menumbuhkan sel untuk pengobatan berbagai penyakit, yang menurut paper Obokata-Sasai waktu itu, baru diuji coba pada mencit/

Meskipun kemudian artikel tersebut ditarik penerbitannya dari Nature (peristiwa yang sangat jarang terjadi), namun ternyata persoalan tidak berhenti begitu saja. Tidak hanya nama baik Haruko Obokata yang alumni Waseda University saja yang hancur, tetapi juga nama Riken Center dan para co-author dalam jurnal yang sempat terbit tersebut. Termasuk yang mengalami tekanan berat adalah Yoshiki Sasai yang menjabat sebagai Deputy Director of the Riken Center for Developmental Biology.

Sementara aksi bunuh diri Stefan Grimm menggegerkan dunia ilmiah Inggris. Profesor bidang toksikologi dan perintis pengobatan kanker di salah satu kampus papan atas duna, Imperial College, London, memilih menghirup gas berbahaya karena tak kuat ditekan kampusnya untuk selalu mencari uang lebih banyak melalui proyek penelitian.

“Ah, enggaklah, yang kayak Sasai gitu juga gak keren,” Pakne Krucils ngeles. Tapi nada suaranya nggak meyakinkan.

Balik lagi ke kisah duka Chien Chih-cheng , dokter hewan yang akhirnya bunuh diri. Beritanya bisa dibaca di klik di sini, The vet who ‘euthanised’ herself in Taiwan (BBC, 2 Feb 2017).

Orang seperti Pakne Krucils, yang survive dalam cobaan hidup maha berat, nggak pernah bisa memahami kenapa ada orang bunuh diri. Ini sama seperti orang kayak saya yang nggak pernah bisa memahami kenapa sampai ada cewek melakukan percobaan bunuh diri hanya gegara diputuskan olah pacarnya. Makanya pas menemukan pasien seperti ini di rumah sakit, saya nggak habis pikir (ceritanya ditulis klik di sini, Depresi, homoseks, dan selingkuh; salah siapa?)

Bunuh diri bukan hanya terjadi pada kalangan ilmuwan. Siapa yang gak tau Robbie Williams? Atau Kurt Cobain? Atau Marylin Monroe? Atau Lucy Gordon, yang udah dipercaya ikutan akting di Serendipity dan Spiderman 3? Kalau ini kasus yang terjadi di Indonesia, dan menimpa rakyat jelata golongan menengah ke bawah, ya saya bisa memaklumi.

“Orang itu punya toleransi berbeda-beda terhadap persoalan hidup, Pak,” saya ceramah, “Ada orang yang berhadapan dengan banyak permasalahan hidup, nggak jadi tumbang karena ambang batas terhadap stress-nya tinggi. Tapi kalau orang yang ambang toleransi terhadap stress-nya rendah, ya lain ceritanya. Sama seperti obat. Dengan dosis yang sama, antar individu bisa jadi memberikan respon berbeda… Kalau individu tersebut sudah nggak mampu menoleransi, mungkin dia pikir setelah bunuh diri, selesai semua persoalan…”

Orang yang bunuh diri belum tentu kurang pinter, kurang cantik, kurang kaya. Tapi menurut saya orang yang bunuh diri sudah pasti kurang keimanan dan ketakwaannya.

Buat para ortu yang membesarkan anak di Barat, pasti tau banget rasanya berusaha menancapkan keimanan yang kokoh dan mendarahdagingkan ketakwaan kepada anak-anak. Nggak ada sekolah Islam terpadu. Ngga ada Taman Pengajian Alquran. Jadi ya ortunya harus kerja ekstra keras. InsyaAllah bisa!!! Cemungudh!!! Takbir!!!

Colchester, Essex, 6 Februari 2017

Advertisements

One thought on “Cantik, Ganteng, Pinter, Kaya… Kok Bunuh Diri??? (ODOP Day 29 of 99)

  1. Di saat orang lain begitu takut mati dan dimintai pertanggungjawaban, mereka takut untuk hidup dan tidak bisa melihat bahwa sesudah kesulitan pasti ada kemudahan. Sesudah kesulitan ada kemudahan. Fainnamaal usriyusro. Diulang 2x dalam QS Asy Syarh/Alam Nasrah 94:5-6.

    Mudah-mudahan kita dilindungi dari berada pada posisi seperti itu. Kondisi yang bisa menimpa siapa saja sebenarnya.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s