Populisme Islam di Mata Emak Berdaster (ODOP Day 28 of 99)

ar-rayah

Sumber foto : Muslim Network Blog

Ari A. Perdana, menyebut dirinya sebagai mantan pengajar FEUI, sekarang tinggal di Manila, Filipina. Di dalam artikel Menguatnya Populisme: Trump, Brexit hingga FPI yang diterbitkan Indoprogress.com pekan lalu, ia menulis menguatnya popularitas Brexit dan Trump bukan sekadar disebabkan oleh faktor ekonomi di mana kebijakan sistem ekonomi yang diberlakukan di UK dan US dipandang merugikan kaum yang mayoritas, namun akhirnya termarjinalkan; tetapi dukungan terhadap Brexit dan Trump juga disebabkn faktor nilai. Artinya, memang banyak kalangan yang mendukung nilai-nilai yang diadopsi Brexit dan Trump terlepas dari kontroversi terhadap sosok keduanya.

Ari Perdana lantas membawa pembahasan kepada FPI. Ia menulis:

FPI dan beberapa kelompok lain yang lebih kecil pada awalnya lebih menggambarkan kelompok vigilante ketimbang gerakan ideologis. Saat itu, kelompok Jamaah Islamiyah (JI), Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Laskar Jihad (LJ) dan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) lebih merepresentasikan gerakan berdasarkan ideologi dan tujuan yang jelas. Perlahan, aktivitas JI, MMI dan LJ berhasil diminimalkan, dan pendekatan radikal yang mereka usung membuat basis dukungan terhadap mereka tidak pernah besar. HTI meski perlahan makin populer, aktivitas mereka masih cenderung ekslusif dan inward-looking.

Hingga awal dekade 2010an, narasi utama Islam Politik di Indonesia masih dipegang oleh partai-partai dan politisi Islam. Suara FPI dan semacamnya, meski cukup nyaring, secara umum tidak dilihat sebagai representasi suara Islam kebanyakan. FPI juga lebih dilihat sebagai kelompok yang beranggotakan kelompok miskin dan marginal di perkotaan. Tingginya tingkat pengangguran di kelompok laki-laki usia muda – yang mendorong pecahnya Arab spring[15] – juga menjelaskan mengapa ormas seperti FPI mudah merekrut anggota.[16] Dengan kata lain, mereka bergerak atas motivasi ekonomi dan mencari identitas sosial, ketimbang ideologi.

Tetapi, menurut Perdana, belakangan pendukung FPI bukan sekadar ‘mereka yang bergerak atas motivasi ekonomi dan mencari identitas sosial’, melainkan juga kelas menengah. Dalam bahasa yang luar biasa ruwet untuk dijangkau oleh emak berdaster kayak saya, Perdana lantas mempertanyakan yang intinya, dia nanya, sebenarnya dukungan terhadap ormas semacam FPI itu muncul karena para pendukungnya merasa tidak aman secara ekonomi karena akan rebutan periuk nasi dengan imigran seperti pekerja Cina yang mulai menyerbu Indonesia, atau itu juga menunjukkan penolakan mereka atas nilai-nilai kosmopolitan liberal?

Terus terang saya agak heran kepada orang-orang seperti Ari Perdana. Dia nulis artikel sepanjang itu, referensinya sampai angka 19. Tapi tetap menyisakan pertanyaan.

Andai Ari Perdana mau ngaji. Meluangkan waktu membaca dan mengkaji Islam seserius dia mengkaji tulisan-tulisan orang-orang yang menjadi rujukannya. Referensinya digenapi jadi 20, ditambah Alquran. Khan gampang menjawab pertanyaan dia sendiri?

Mungkin karena sering bergaul dengan kalangan intelektual yang sekolahnya tinggi-tinggi, saya sering mikir, mereka ini kok mikirnya sering mbulet sendiri padahal buat emak berdaster seperti saya nggak harus serumit itu…

Mungkin karena pemikiran saya yang supersimpel itu yang bikin salah satu kalangan intelektual itu kawin sama saya… Eaaa…

Ngomong-ngomong, kapan terakhir kali kita membaca dan mengkaji isi Alquran?

Colchester, 4 Februari 2017

Advertisements

2 thoughts on “Populisme Islam di Mata Emak Berdaster (ODOP Day 28 of 99)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s