Tentang Islam yang Terasingkan, Taushiyah dari Sheffield (ODOP Day 27 of 99)

sheffield

Sumber foto: Journey of a muslim

Pengajian online One Week One Juz (OWOJ) Kamis lalu, yang ngisi sharing Teh Rinta yang sekarang berdomisili di Sheffield. Beliau menyampaikan taushiyah yang untuk saya pribadi pas banget di hati, yakni Islam yang Terasingkan.

Teh Rinta mengawali taushiyahnya dengan membacakan hadits “Islam datang dalam keadaan yang asing, akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntunglah orang yang asing” (HR. Muslim no. 145).

Siapa sebetulnya orang-orang yang terasing (al ghuroba’)? Menurut hadits, Dari ‘Abdurrahman bin Sannah. Ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabad, “Islam itu akan datang dalam keadaan asing dan kembali dalam keadaan asing seperti awalnya. Beruntunglah orang-orang yang asing.” Lalu ada yang bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai ghuroba’, lalu beliau menjawab, “(Ghuroba atau orang yang terasing adalah) mereka yang memperbaiki manusia ketika rusak.” (HR. Ahmad 4: 74)

Sifat-sifat al ghuroba’ ada 5, yakni:
1. Senantiasa melakukan perbaikan
2. Jumlahnya sedikit
3. Mereka adalah kaum yang beraneka ragam
4. Saling mencintai karena Allah
5. Meraih kemuliaan tanpa menjadi syuhada

Kira-kira begitu. Harus dicek lagi benar atau tidaknya.

Sebelum menginjakkan kaki di Barat, tepatnya di Amerika Serikat, 10 tahun lalu, saya nggak pernah membayangkan akan mengalami sendiri menjadi kaum minoritas. Waktu itu suami sedang menjalani post-doc-nya di University of Amherst, Massachusetts, sehingga kami pun tinggal di apartemen tak jauh dari university.

Ketika ke Hampshire Mosque, satu-satunya masjid di Amherst, saya shock. Di dalam hati membatin, “Yang seperti ini kok dinamakan masjid… Harusnya ini namanya musholla… Lha wong cuilik banget begini…”

Ukuran masjid mencerminkan populasi muslim di suatu wilayah. Jadi ya memang sedikit sekali muslim di Amherst, MA; sepuluh tahun yang lalu. Konon, belakangan Hampshire Mosque sudah pindah ke bangunan yang lebih besar. Allahua’lam.

Pastinya saya hanya setahun di US. Ketika pindah ke Nottingham, United Kingdom (UK), bersyukur karena komunitas muslimnya lebih besar. Tapi ternyata kami keliru memilih tempat tinggal. Berharap tinggal tak jauh dari The University of Nottingham, tempat suami kerja, kami tinggal di Beeston yang penduduk lokal muslimnya sedikit.

Bagi saya dan suami ini tak jadi masalah. Tapi problem ketika Fahdiy lahir. Fahdiy nggak terbiasa mengucapkan salam. Dia asing dengan tradisi salim, alias mencium tangan. Akhirnya setelah Dinara lahir, kami memutuskan pindah ke area yang banyak muslimnya, di area Radford sekitar Hyson Green. Alhamdulillah. Banyak tetangga yang muslim. Dengan toko menjual daging dan makanan halal tinggal jalan kaki. Dengan masjid relatif dekat. Banyak teman sekelas Fahdiy dan Dinara di Scotholme Primary School Nottingham yang beragama Islam.

Tapi memang kalau tinggal di area yang banyak muslimnya, berarti tinggal di daerah yang banyak imigrannya. Alhasil, kawasan Radford dan Hyson Green tidak terasa seperti Barat pada umumnya. White British-nya jadi minoritas. Kayaknya pada nggak betah tinggal berdampingan dengan imigran yang mayoritas berasal dari Eropa Timur (Polandia, Albania), India, Pakistan, Bangladesh, dan Malaysia.

Entah kenapa, imigran pun memilih berkelompok. Student yang Chinese biasanya lebih memilih di Beeston meski secara umum harga sewa rumah lebih mahal daripada di Radford dan Hyson Green. Sementara kalangan Arab biasanya lebih bisa menjangkau property di lokasi-lokasi yang lebih elit karena kekuatan finansialnya.

Biarpun tinggal berdesak-desakan di Radford atau Hyson Green, saya sebetulnya senang karena dikelilingi banyak muslim. Ketika pindah ke Colchester, tantangan menjadi minoritas sangat terasa.

“Di Nottingham, aku nggak pernah sampai harus berdebat untuk mengosongkan jadwal mengajar di hari Jumat siang,” curhat Pakne Krucils satu ketika. Di sekolah krucils, dalam satu kelas yang muslim hanya 1-2 orang. Masjidnya hanya satu. Madrasahnya hanya satu. Beda banget dengan Nottingham yang masjidnya sampai ‘ditandai’; yang itu masjid Bangldesh, yang itu Pakistan, yang sini Arab yang Middle East, yang sana Arab yang Afrika, yang ini sunni, yang itu syi’ah, madrasah yang itu punya komunitas Malaysia, dan seterusnya. Di Colchester, ya harus terima madrasah yang cuma sebiji itu apa adanya. Alhamdulillah belakangan jumlah madrasahnya bertambah. Nampaknya seiring dengan penambahan jumlah komunitas muslim di Colchester.

Tantangan terberat bagi keluarga muslim ketika harus jadi minoritas adalah pengasuhan anak. Hal-hal remeh temeh di Indonesia menjadi luar biasa berat ketika semua harus ditumpukan kepada keluarga. Mulai dari hal-hal kecil seperti membiasakan mengucapkan salam, basmalah, hamdalah, bahkan makan-minum pakai tangan kanan pun, anak belajar hanya dari keluarga karena sekolah tidak mengharamkan makan-minum dengan tangan kiri.

Benturan budaya sudah jelas. Karena jadi minoritas, ortu pun harus pasang akting superstrong ketika anak merengek pengen memakan permen haram hadiah dari teman keluarga, ketika lingkungan merayakan Halloween, Christmas, Chinese New Year, Valentine’s Day, Easter/Paskah, dan sejenisnya. Berat sekali mengajarkan ke anak untuk mencintai Allah dan Rasulullah di saat yang sama di sekolah mengajarkan bahwa semua agama itu sama baiknya. Mendarahdagingkan Islam rasanya kayak mencekoki anak, karena di luar rumah nuansanya adalah sekuler yang harus steril dari agama.

Alhamdulillah, sesuai janji Allah, bahwa Allah tidak membebani seseorang di luar batas kemampuannya, dan bahwa beriringan dengan kesulitan ada kemudahan. Selalu ada pertolongan kalau kita yakin bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya

Kalau dikembalikan lagi ke dalilnya, generasi al ghuroba’ ya memang cuma sedikit jumlahnya. Karena itu namanya al ghuroba’ (yang terasing). Tapi kalau sabar, insyaAllah para ghuroba’ ini memperoleh kedudukan mulia, dekat dengan Allah dan Rasul-nya, yang membuat iri para syuhada’…

Jadi, untuk ibu-ibu yang jadi minoritas muslim di tempat tinggalnya, mari mempererat ukhuwah Islamiyah, berteman di jalan Allah, dan saling mencintai karena Allah.

Colchester, Essex, 3 Februari 2017

Advertisements

One thought on “Tentang Islam yang Terasingkan, Taushiyah dari Sheffield (ODOP Day 27 of 99)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s