Sulitnya Sholat Jumat di Paris (ODOP Day 22 of 99)

paris

Kajian One Week One Juz (OWOJ) yang diselenggarakan online di skype pekan lalu yang sharing ilmua adalah Mba Sarah Ismi Kamilah, yang berdomisili di Paris. Beliau menyampaikan bahasan Menemukan Kedamaian Hati. Selepas tilawah dan taushiyah, seperti biasanya acaranya ngobrol bebas, ramah tamah, silaturahmi.

Iseng-iseng saya menanyakan kondisi umat Islam di Paris. Saya pikir karena Paris ini ibu kota negara, mesti jumlah muslimnya sudah cukup banyak, minimal seperti di London.

Ternyata dugaan saya keliru. Menurut Mbak Ismi, di Paris sulit mencari masjid. Lebih sulit lagi mencari tempat untuk menyelenggarakan sholat Jumat. Biasanya bapak-bapak warga Indonesia menggunakan KBRI untuk sholat Jumat, dan tidak ada tempat lainnya.

Saya jadi teringat di Inggris sendiri, tidak selalu mudah bagi laki-laki muslim untuk melaksanakan sholat Jumat. Mahasiswa muslim laki-laki yang jam kuliahnya dijadwalkan di hari Jumat dan tepat pada waktu dhuhur, harus menempuh prosedur tertentu, dan tidak selalu berhasil bisa menggeser jam kuliahnya.

Jangankan yang mahasiswa. Yang sudah dosen seperti Pakne Krucils pun, yang orang Jawa, dan hampir selalu mengalah males cari ribut, di tahun pertama ngajar di University of Essex, harus berani gegeran demi meminta tidak dijadwalkan mengajar di hari Jumat jam 12.00-15.00.

Tidak semua beruntung mendapatkan hak untuk bisa melaksanakan sholat Jumat. Dalam sebuah kesempatan, saya sempat ngobrol dengan seorang ibu muslimah asal London. Beliau memiliki 2 putri yang sudah remaja dan 1 putra balita. Beliau mengungkapkan sulitnya melaksanakan sholat Jumat di sekolah anak-anak karena pihak sekolah tidak menyelenggarakan sholat Jumat padahal jumlah guru dan siswa laki-laki berjumlah 3-5 orang yang sebetulnya sudah sah untuk menyelenggarakan sholat Jumat.

Dengan waktu istirahat dan makan siang yang hanya 1 jam, biasanya para orang tua yang punya anak laki-laki akan menjemput anak saat jam istirahat, lantas anak diantar ke university atau masjid di town centre, atau community centre yang menyelenggarakan sholat Jumat. Setelahnya, orang tua mengantarkan lagi anak kembali ke sekolah. Ini hanya bisa dilakukan oleh orang tua yang punya kendaraan. Kalau nggak punya, ya anak ngga akan sholat Jumat. Karena waktu jelas tidak cukup jika harus ditempuh dengan transportasi publik.

Ternyata menjadi muslim di Paris tidak mudah. Setelah mendengar cerita Mba Ismi, saya jadi pengen nanya ke Bang Andrea Hirata dulu dia dan Arai bagaimana ya sholat Jumatnya?

Bacaan Lanjut:
Sholat Jumat Haruskah dengan 40 Jamaah?, https://rumaysho.com/2203-shalat-jumat-haruskah-dengan-40-jamaah.html
Haruskah Jamaah Sholat Jumah MInimal 40 Orang?, http://www.dakwatuna.com/2013/01/18/26937/haruskah-jamaah-shalat-jumat-itu-minimal-40-orang/#axzz4X6Y53a4C

Colchester, Essex, 29 Januari 2017

Advertisements

5 thoughts on “Sulitnya Sholat Jumat di Paris (ODOP Day 22 of 99)

  1. Kl dibanding di Indo ya mmg sulit mba tapi bukan nggak ada. Selain di KBRI bisa di grand mosque de paris. Di daerah2 tertentu juga ada yg sewakan tempat utk sholat jumat. Tinggal gimana kita niat dan mau mencari di daerah yg bnyk umat muslim Biasanya di arrondisement pinggir2.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s