Teman2 kuliah di kedokteran kok jadi radikalis? (ODOP Day 21 of 99)

dokter-1

Saya memandang beliau dengan cemas. Beliau pun mengomel, “Lha kalau bajunya seperti ini terus saya memeriksanya bagaimana?”
Hari itu, salah satu hari di tahun 1997. Saya, diantar Papa, mendaftar ulang setelah dinyatakan diterima sebagai mahasiswa. Saya tahu akan ada pemeriksaan kesehatan. Yang saya tidak tahu, pemeriksaan meliputi pemeriksaan standar para dokter umum: inspeksi, auskultasi, palpasi, perkusi. Yang artinya kondisi jantung dan paru-paru saya akan diperiksa oleh para dokter, yaitu para calon dosen saya.

Dan saya salah kostum. Pakai rok terusan, dengan retsleting di bagian belakang. Dokter Nasrun masih bersungut-sungut dan akhirnya menempelkan stetoskop ke dada saya, tanpa saya harus menanggalkan busana… wkwkwkwk…
Pemeriksaan berikutnya adalah pemeriksaan telinga oleh dokter Aswin, yang di kemudian hari menjadi salah satu dosen saya yang mengajar parasitologi. Ya sudahlah, terpaksa kerudung dibuka sedikit untuk pemeriksaan telinga. Semoga Allah Swt melimpahkan pahala yang banyak kepada para dosen dan guru saya. Pemeriksaan hidung, tenggorokan, mata, no problem.

Saat menjadi mahasiswa baru, dalam satu angkatan, yang mengenakan busana muslimah bisa dihitung dengan jari tangan. Jumlah mahasiswi yang berbusana muslimah dari tahun ke tahun kian bertambah jumlahnya. Sampai akhirnya di tingkat akhir (semester 7-8), jumlah mahasiswi yang berbusana muslimah jumlahnya jauh lebih banyak daripada yang tidak berbusana muslimah.

Kalau di tingkat pertama jumlah yang berbusana muslimah hanya hitungan jari, di tingkat akhir yang TIDAK berbusana muslimah bisa dihitung pakai jari. Di pendidikan profesi pun sama. Mbak-mbak seniorita yang sedang menempuh pendidikan dokter spesialis, ketika saya baru masuk pendidikan profesi, ada yang tidak berbusana muslimah. Ketika saya akan lulus, ketemu lagi… MasyaAllah sudah berbusana muslimah…

Belakangan dari facebook, saya melihat mayoritas teman-teman yang hampir semuanya sudah menjadi ibu-ibu ini rata-rata berbusana muslimah. Mereka bukan sembarang ibu. Mereka Bu Dokter, banyak di antara mereka yang sudah jadi dokter spesialis. Beberapa sedang menempuh pendidikan dokter spesialis.

Jujur, setiap kali ada teman berbusana muslimah, saya nggak menanyakan alasan kenapa akhirnya dia memilih berbusana muslimah. Soalnya udah saking banyaknya. Busana muslimah sudah jadi tren. Bahkan sekarang sedang diperjuangkan agar rok terusan panjang bisa masuk ke dalam kamar operasi.

Sepuluh tahun terakhir saya hanya bisa mengamati teman-teman kuliah ini dari facebooknya. Turut bahagia atas capaian-capaian mereka, dan ikut mendoakan agar mereka semua menjadi dokter yang barokah bagi semesta alam. Saya sendiri… Ya sudahlah… Ngga perlu dibahas… Ya begini-begini saja… Kalau pun ke klinik atau rumah sakit statusnya adalah pasien ibu hamil, melahirkan, atau orang tua pasien… ehehehe…

Sepanjang pengetahuan saya bergaul dengan teman-teman di FKUB’97, mayoritas bukan orang yang tertarik politik. Kuliah sudah sangat sibuk, tanpa harus berpikir lagi tentang keadaan ummat di luar kampus atau rumah sakit. Kalau pun ada benih-benih politisi, sedikit banget. Rata-rata sudah terdeteksi sejak masih S1, aktif di HMI dan/atau tarbiyah.

Karenanya saya tak heran jika setelah lulus jadi dokter pun, nampaknya mereka slow dan calm saja menanggapi berbagai drama perebutan kekuasaan mulai dari level pilkada hingga pilpres 2014. Beberapa memang rajin menunjukkan dukungan kepada Prabowo-Hatta, tapi jumlahnya nggak mayoritas.

Tapi Oktober 2016 lalu, saya jadi kaget. Soalnya ternyata teman-teman yang selama ini, -menurut saya-, apolitis, ternyata malah lebih mengikuti perkembangan isu Al Maidah 51. Dan mereka nggak segan-segan menunjukkan keberpihakannya terhadap beragam aksi untuk menuntut sanksi atas Basuki Tjahaya Purnama. Ujung-ujungnya, banyak yang terang-terangan mendukung aksi 411 dan 212.

Terus terang, dari Eropa, saya jadi bertanya-tanya, kenapa teman-teman dokter yang biasanya ‘netral dalam urusan politik’ ini sekarang jadi tidak netral lagi? Ketika zaman kuliah dulu bener-bener ga ada tanda-tanda mereka akan berani terang-terangan mendukung ormas semacam FPI dengan Habib Rizieq Shihab-nya…

So, why???

Tapi kalau dipikir-pikir, kayaknya pertanyaan saya salah. Pertanyaannya bukan, “Kenapa teman-teman kuliah yang pinter-pinter itu sekarang pada mendukung –so called– Islam radikal atau Islam garis keras?”

Yang seharusnya saya, atau kita tanyakan, barangkali adalah, “Kenapa semakin banyak muslimah berbusana muslimah? Kenapa sekolah-sekolah islam terpadu yang swasta itu peminatnya luar biasa sampai beberapa SD Negeri ditutup atau di-merger karena kekurangan siswa? Kenapa belakangan bank-bank konvensinal ikut-ikutan punya program syariah? Termasuk bisnis-bisnis asuransi pun tak ketinggalan ikut menyematkan label syariah?”

“Kenapa semakin banyak yang membuka usaha menjadi developer perumahan syariah dan tidak merasa cukup dengan skema non-syariah yang biasa? Kenapa marak muncul pesantren-pesantren hafidz Alquran?”

Terus terang, saya tidak tahu jawaban dari pertanyaan-pertanyaan kenapa-kenapa di atas. Tapi yang saya yakini, keberhasilan dakwah bukan diukur dari kemenangan dalam pilkada bahkan pilpres yang hanya digelar 5 tahun sekali.

Maraknya hijab, bukan karena diwajibkan oleh pemerintah. Gagasan sekolah islam terpadu, bank syariah, asuransi syariah, developer syariah (terlepas dari ketidaksempurnaannya), perda syariah, dukungan terhadap FPI dan MUI yang kian masif, dan mungkin juga eksistensi para dokter yang kian peduli terhadap urusan problematika ummat, adalah hasil dari dakwah di tengah masyarakat selama belasan, bahkan mungkin puluhan tahun…

Dipimpin oleh orang sholih yang mendukung penerapan syariah secara sempurna, tentu rahmat dan berkah luar biasa bagi kita semua. Tetapi, yang tak kalah penting adalah, menyiapkan masyarakat yang mendukung pemimpin yang sholih ini.

Jika mayoritas masyarakat mendukung orang-orang yang (terbukti) sholih, menghendaki penerapan peraturan yang sholih, dan ikhlas saat diterapkan peraturan yang sholih, maka pada saat itu mungkin kita berkesempatan melihat aksi super-duper damai di mana tuntutannya bukan sekadar memberikan sanksi kepada penista Alquran, melainkan tuntutannya adalah: 1) adanya pemimpin sesuai Alquran, dan 2) menerapkan peraturan sesuai Alquran.

Sumber foto: Curahan Hati Dokter Peserta Aksi Damai 212 “Kami Dibilang Dokter Radikal” (goendonesia, 5/12/2016)

Colchester, Essex, 28 Januari 2017

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s