Pengingat Kematian dari Liverpool (ODOP Day 19 of 99)

hizb

Aksi muslimah di depan kedutaan Amerika Serikat, London, Sumber foto alamy.com

Dua pekan lalu saya ikut kegiatan kajian online One Week One Juz (OWOJ). Sebetulnya acara kajiannya biasa saja, selama satu jam gantian membaca Alquran sampai selesai 1 juz, lantas ada yang menyampaikan sharing. Atau taushiyah. Atau diskusi. Atau ngobrol, atau apa pun namanya…

Sharing pekan lalu disampaikan oleh Mela Mustika Amalia. Beliau menyampaikan materi tentang Doa Meminta Khusnul Khatimah. Sayangnya saya nggak mencatat nasihat dari Mbak Mela.

Yang ada malah saya curcol berkepanjangan…

Taushiyah singkat yang disampaikan Mbak Mela mengingatkan saya pada saat-saat belajar di RS Saiful Anwar Malang, terutama di bagian ilmu bedah. Salah satu tahap yang pasti dilalui oleh semua dokter adalah menerima pasien di instalasi rawat darurat (IRD/UGD), mendampingi para dokter melakukan operasi, mengobservasi pasien pasca operasi yang belum sadar diri di ruang recovery room, hingga mengevaluasi pasien yang sudah stabil kondisinya di ruang rawat inap. Selain tugas di poli RS, tentunya…

Di recovery room, atau biasa disingkat RR, pasiennya adalah pasien-pasien post-operasi yang masih belum sadarkan diri dan belum stabil keadaannya. Sudah sangat biasa bagi para tenaga kesehatan menjumpai pasien-pasien di ruangan ini dalam kondisi belum sadar penuh kemudian ‘mengoceh’. Kadang ocehan mereka bisa dipahami, kadang juga tidak.

Pernah ada pasien remaja laki-laki berusia belasan tahun yang terus-menerus mengaji dalam kondisi tak sadar diri. Terlepas dari keprihatinan terhadap keadaan pasien, tentu saja pasien semacam ini membawa ketenangan dan kedamaian tersendiri bagi para petugas tenaga kesehatan yang mayoritas adalah muslim.

Sebaliknya, pernah juga ada pasien perempuan dewasa muda, berusia sekitar 20+ yang terus-terusan mengeluarkan kata-kata kotor dalam kondisi tidak sadarnya. Kata-kata dan kalimat maki-makinya, kalau zaman sekarang, selevel dengan salah satu kandidat gubernur yang dapet predikat mulut jamban itu, lho…

Merawat pasien seperti ini tenaga kesehatan harus ekstra sabar. Lha, pasiennya dalam kondisi tidak sadar. Mau bagaimana lagi? Tapi ya tentu berbeda, bekerja dalam ruangan penuh dengan pasien yang perlu pengawasan ketat yang selalu melantunkan ayat suci Alquran, dengan bekerja sambil terus menerus mendengarkan umpatan serta maki-makian yang sangat tidak pantas diucapkan oleh manusia.

Di saat-saat semacam itu sungguh, saya pribadi jadi sangat memahami ujaran, “Jika tidak bisa mengucapkan yang baik, lebih baik diam.” Ya, menunggui pasien yang diam lebih meneduhkan telinga dan hati dibandingkan menunggui pasien yang marah-marah, mencaci maki, dan mengeluarkan kata-kata jorok, meski kita tahu itu bukan ditujukan untuk kita.

Apa yang diucapkan pasien dalam kondisi tidak sadar sebagian besar adalah apa yang biasa diucapkan ketika mereka sadar. Tahu dari mana? Dari keluarga, teman, kerabat para pasien keika mereka mem-bezoek dan sedikit beramah tamah dengan para perawat serta (calon) dokter yang merawatnya. Baik pasien yang selalu mengaji maupun yang selalu mencaci, alhamdulillah keduanya pulih dan bisa pulang ke rumah.

Tentang ucapan ketika kita tidak sadar, sebetulnya kita sudah bisa menilai diri kita sendiri sekarang ini. Misalnya ketika kita kaget/terkejut, kata atau kalimat apa yang spontan kita ucapkan? Saat kita sangat sedih, sangat takut, sangat marah, sampai pada kondisi yang kalo orang Inggris suka bilang, “I’m losing myself…”, kaa-kata atau kalimat seperti apa yang kita ucapkan?

Di Inggris, saya belum pernah menghadiri pemakaman muslim. Beberapa tahun lalu, salah satu tetangga kami yang bukan muslim wafat. Tak ada keramaian di rumahnya.

Dengan masygul suami saya berkata, “Besok kalau aku mati, apa ya akan mati seperti itu, ngga ada pengaruhnya kepada orang lain… Langsung dilupakan oleh teman dan keluarga… Ya Allah, kalau bisa jangan ambil nyawaku ketika berada di negeri ini…”

Ya, mau sepintar, sebodoh, sesholih, dan sezhalim apa pun seorang muslim, di akhir hayatnya ia pasti ingin diwafatkan dalam keadaan khusnul khatimah. Ingin jenazahnya diurus secara khidmad. Dikafani, disholatkan, didoakan, dikebumikan dengan layak, ditunaikan apa-apa yang masih menjadi utang dan tanggungannya.

Tak pernah ada salahnya jika upaya untuk khusnul khatimah dimulai dari sekarang juga. Terima kasih Mba Mela, yang sudah mengingatkan terutama untuk saya pribadi agar mempersiapkan diri agar bisa meraih khusnul khatimah…

Colchester, Essex, 25 Januari 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s