Brexit, Trump, dan Anies Baswedan (ODOP Day 20 of 99)

hiltrump

sumber gambar makeamericagreattoday

“Kira-kira siapa yang akan menang, Yah, pendukung remain atau leave?” tanya saya kepada Pakne Krucils. Kami selesai berbelanja. Ketika mobil berada di sekitar bundaran Greenstead, mata siapa pun yang normal pasti akan melihat tulisan besar VOTE LEAVE berwarna merah terang digambar di atas papan putih bersih.

“Ya remain, lah,” kata suami dengan yakin. “Gila apa kalau pro-leave yang menang… University bahkan sudah memegang data, mahasiswa-mahasiswa top di kampus, mayoritas berasal dari luar UK…”

Saya pun hanya ber, “Ooohhh…” sambil lalu. Itu kejadian musim panas lalu. Sebelum referendum digelar di bulan Juni 2016. Kemenangan Pro-Leave, alias Brexit (Britain exit alias keluar dari keanggotaan Uni Eropa) yang menginginkan UK keluar dari Uni Eropa menggemparkan banyak pihak. Tapi saya tidak termasuk yang ikut kaget.

Kenapa? Karena saya hidup di dunia nyata. Saya berinteraksi dengan para white British kalangan menengah ke bawah yang menjadi pendukung utama pro-Leave. Sementara Pakne Krucils hidup di universitas, di dalam kampus, di dalam dunia yang tidak riil yang terpisah dari kenyataan hidup sehari-hari.

Sayalah yang berhadapan dengan teman-teman di sekolah anak-anak yang mayoritas berasal dari kalangan menengah ke bawah. Sekolah krucils adalah sekolah negeri dengan reputasi ‘good school’. Tidak ada satu pun lecturer (dosen) di Inggris yang akan menyekolahkan anaknya di sekolah negeri dengan reputasi ‘good school’ kalau bukan dosen melarat keluarga imigran seperti kami. Semua lecturer waras di Inggris akan menyekolahkan anak di sekolah swasta bonafid, atau minimal di sekolah negeri dengan rating ‘outstanding’.

Masalahnya, untuk bisa masuk ke sekolah negeri yang ‘outstanding’, diperlukan kemampuan finansial, bukan untuk membayar biaya sekolahnya, tetapi untuk menyewa atau membeli rumah dalam radius 1 mile jauhnya dari sekolah yang menjdi incaran banyak keluarga ini. Biaya sekolahnya boleh gratis. Tapi harga sewa rumah di sekeliling sekolah-sekolah negeri yang ‘outstanding’ ini, tak sanggup dijangkau oleh keluarga dengan single income seperti kami.

Saya tahu, meski tidak persis, bagaimana background orang tua dan para wali murid teman-teman sekelas krucils. Saya yang mengantar anak-anak ke lapangan. Saya yang mengantar krucils ke public library. Saya yang pergi ke warung di sekitar rumah untuk membeli entah susu, gula, garam, atau keperluan kecil lainnya yang tak bisa menunggu belanja besar ke hypermarket.

Dibandingkan suami, sayalah yang lebih banyak didamprat orang, “Go back to your country!!!”, atau, “You should be in your country, you fuck!!!”
Suami saya yang sekolahnya tinggi itu, ya jelas nggak pernah sama sekali berada di dalam situasi yang saya alami. Pergaulannya minimal dengan calon mahasiswa, dan para staf yang notabene pernah makan bangku kuliahan.

Pergaulan suami bersama para dewa di kahyangan. Saya bareng para gembel di kolong jembatan.

Dan orang-orang seperti suamilah yang kaget ketika Brexit menang. Brexit sukses mengumbar janji-janji manis (yang belakangan banyak yang diingkari) yang berhasil memikat masyarakat riil untuk mendukungnya.

Lantas publik kembali dikejutkan saat Donald Trump menang melawan Madam President, Hillary Clinton. Gak main-main, Hillary Clinton ini yang jadi rivalnya.

Ada kesamaan antara Brexit dan Trump. Keduanya tak diunggulkan. Dalam berbagai survei, semua (termasuk Pakne Krucils) sudah yakin pro-Remain pasti menang. Lha gimana enggak, wong Perdana Menteri-nya Oom David Cameron aja pro-Remain, dan politisi-politisi pro-Leave itu orang-orang yang rasis dan anti-imigran semodel dengan Trump begitulah…

Dan Hillary Clinton? Hohoho… The Independence Day yang terakhir (dan gagal mencapai box office itu, just so you know…) sudah memilih aktris Sela Ward yang memerankan Elizabeth Lanford, presiden perempuan pertama AS.

Hampir seluruh survei memenangkan pro-Remain. Hampir semua survei memenangkan kubu Hillary. Dan kita tahu hasil terakhirnya seperti apa…

Maka ketika pekan lalu saya membaca tulisan Denny JA yang berjudul Akankah Anies Tersingkir di Putaran Pertama? yang sarat dengan penghitungan statistika super njelimet menurut otak ibu rumah tangga kayak saya, saya cuma manggut-manggut sambil membatin, “Allahua’lam bis shawwab…” Hehehehehe…

Untuk yang enggak ikut pilkada Jakarta seperti saya, dan udah mulai mumet dengan pemberitaan saling serang saling melaporkan ke polisi… Sabaarrr sabar sabar sabar… Sebagaimana pilpres 2014, insyaAllah badai pilkada Jakarta akan berlalu…

Ngomong-ngomong, sejujurnya dirikyu mengharapkan Rosiana Silalahi atau Desi Anwar yang menjadi moderator debat cagub Jumat besok setelah 2 pekan lalu mencoba ngitung jumlah wrinkle alias kerut di muka Ira Koesno… Tapi tak ada mereka berdua Tina Talisa pun jadilah…

Colchester, Essex, 25 Januari 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s