Ulang Tahun dan Matematika (ODOP Day 16 of 99)

fahdiy2016

Saya dan keluarga sebetulnya ngga ada tradisi merayakan hari kelahiran. Hanya saja kalau pas kumpul-kumpul Indonesians in Colchester (IIC) atau pengajian Keluarga Indonesia di Britania Raya kota Colchester (Kibar Colchester), atau ada tamu dari Indonesia dan ngumpul, ketika anak khatam Iqra atau khatam juz ‘Amma, kadang saya pesan kue ke satu-satunya toko kue halal di kota ini. Itung-itung pemberdayaan ekonomi ummat. Halah gaya. Aslinya ya kadang-kadang kepengen juga makan party cake. Tapi belum bisa bikin yang cantik kayak di toko kue.

Juli lalu kami kedatangan tamu, Bapak Edy Soewono, dosen Pakne Krucils ketika masih di ITB. Beliau adalah satu dari 12 matematikawan Indonesia dengan publikasi riset terbanyak menurut Pak Hendra Gunawan. Berhubung kedua nama ini adalah nama besar di bidang matematika dan fisika di Indonesia, engga perlulah ditulis gelarnya. Bukannya kenapa-napa, kuatir malah keliru… Secara saya sekarang tahunya cuma gelar karpet dan gelar sajadah doang… Pak Edy sebetulnya ada konferensi di Nottingham, trus mampir Colchester.

Seperti biasa, kami pun mengundang beliau makan bersama IIC, Kibar Colchester, dan PPI Colchester. Secara saya gak pinter masak dan kuatir hasil masakan saya nggak ada yang bisa dimakan oleh para tamu, akhirnya pesan kue, dan karena ga ada ide tulisan buat dekorasi jadilah milih kalimat umum happy birthday karena Fahdiy memang lahir di bulan Juli. Oh ya, ini kali pertama saya pesan kue pake foto. Hasilnya oke. Sayangnya, akhirnya jadi pertengkaran di antara anak-anak hadir yang hadir karena semua pada pengen makan bagian muka Fahdiy… Hehehe…

Sejak dibuatkan kue dengan ucapan Happy Birthday di atasnya, Fahdiy jadi lebih semangat menghafal nama-nama bulan dalam setahun. Sebelumnya saya sudah mencoba berbagai trik termasuk lewat lagu nama-nama bulan untuk mengingatnya, tapi belum berhasil.

Kompetensi matematika untuk usia 7-8 tahun yang agak susah buat Fahdiy adalah konsep waktu. Kami dilarang memaku di dinding rumah kontrakan, sehingga nggak punya kalender dan jam dinding sehingga agak sulit memahamkan konsep waktu ke Fahdiy. Akhirnya dia jadi agak sulit menghafal berapa jumlah hari dalam sepekan, apa saja nama-nama hari, termasuk agak sulit menghafal nama-nama bulan dalam setahun. Tidak adanya jam dinding membuat dia memerlukan waktu agak lama memahami perbedaan jam analog dan jam digital.  Termasuk konsep am dan pm (ante meridiem dan post meridiem).

Memahami konsep waktu ini jadi penting karena pertanyaan-pertanyaan untuk usia 7-8 tahun adalah semacam:
In 3 hours time it will be midnight. What time is it now?;
How many days in 12 weeks?
What year came before 2004?
What year was it two years after 2007?
How many months are in one year?
There are (31, 60, or 365) days in a year.
How many minutes are in 1/2 an hour?
If today is Saturday qhat day will it be in 3 days time?
How many months are in a 1/2 year?
How many 1/4 hours are in 1/2 hours?
Rifa was born in 1999, how old was she in 2010?
How many minutes are in two 1/4 hours?

Pusinglah pala emaknya menghadapi soal-soal begitu…

Dan yang sampai sekarang saya masih sulit mengajarkan tanpa alat peraga, adalah kalau ketemu soal semacam:
A television programme started at 5 o’clock and finished at quarter to 6. How long was it on?
How long was Cartoon Time on television if it ran from 6:15 until 6:30?
Glen was 1/4 of an hour late for school. School started at 9:15. What time did Glen arrive?
Amanda was 5 minutes early for school. School starts at 9:30. At what time did Amanda arrive?”

Sejak dibuatkan kue ulang tahun, Fahdiy sering bertanya kapan ulang tahun saya, ayahnya, dan saudara-saudaranya. Entah kenapa, Fahdiy nampaknya lebih mudah belajar matematika kalau dia tahu aplikasinya terhadap orang-orang yang dikenalnya.

Misalnya, kalau saya membuat soal semacam : Seorang anak membeli 30 permen dan membagikan kepada 3 temannya secara rata. Berapa jumlah permen yang diterima masing-masing anak? Maka Fahdiy lama banget memikirkan jawabannya. Anehnya, soal-soal cerita yang sama yang diberikan di sekolah, dengan nama tokoh-tokoh dalam soal adalah teman-teman dan guru-gurunya sendiri, dia bisa menjawab secara mandiri.

Satu cawu ini saya mengubah pendekatan mengajarkan matematika ke Fahdiy. Kalau ada soal cerita yang nampaknya dia sulit memahami, tokohnya saya ganti nama adik-adiknya.

Saya jadi ingat kepada guru saya ketika saya kelas 2 SD, “Kalau soal ceritanya sulit, coba diganti namanya… Misalnya Dina Mariana pergi belanja membeli kue…”
Hanya saja, di umur segitu, saya merasa mengganti nama tokoh ngga ada efeknya. Kalau memang gak bisa, ya mau diganti dengan tokoh apa pun, ya saya tetep gak bisa mengerjakan.

Sekarang saya jadi ngerti kenapa buku latihan soal matematika banyak bergambar Elsa dan Anna, dinosaurus, bahkan tokoh-tokoh Star Wars. Tapi kalau untuk Fahdiy, ini semua enggak pengaruh. Pengaruhnya baru akan terasa kalau nama tokoh-tokohnya diganti nama teman-temannya, guru-gurunya, dan adik-adiknya.

Akhirnya tiba juga masanya, merasakan kepusingan mendampingi anak belajar. Nggak hanya yang di Indonesia. Yang di Colchester pun juga sama. Inilah salah satu bentuk quality time anak-bunda yang kadang dimulai karena terpaksa… Terpaksa karena gak mungkin mewakilkan ke suami, bimbel, atau orang lainnya… Tapi semoga anak-anak kita jadi anak sehat, pinter, sholih dan sholihah semuanya… Amiin…

Colchester, Essex, 17 Januari 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s