Saya Mikirnya Sama Seperti Pak Ahok… (ODOP Day 12 of 99)

salju1

(Foto pencitraan, pura-pura ngerok salju…)

Kamis malam lalu, akhirnya yang ditunggu-tunggu tiba juga. Petang hari, salju turun menyapa bumi Colchester. Grup WA Indonesians in Colchester (IiC) pun ramai.
“Saljunya deras, ya,” komentar seorang teman.

Saya pun sudah pasti merencanakan hal-hal norak bin memalukan semacam mengajak anak-anak foto di salju keesokan harinya.
“Moga-moga saljunya besok turun lebih deras,” doa saya.

Dan suami mencibir. Ya, suami saya sangat males memfoto saya dan anak-anak, apalagi kalau niatnya cuma sekadar memperlihatkan kalau sedang main salju.

“Salju cuma seuprit begini saja sudah heboh,” begitu selalu komentarnya. Ya, Inggris jarang disambangi salju. Kalau pun turun, hanya tipis-tipis. Suami yang 6 tahun sekolah di Belanda, sudah kenyang dengan winter dengan salju setinggi dengkul, tentu saja cuma geleng-geleng kepala melihat kehebohan teman-teman Indonesia atas kedatangan salju yang cuma tipis-tipis ini. Untungnya saya sudah pernah ikut tinggal di Amerika Serikat dan sudah sempat mengalami suhu -25*C, salju setinggi dengkul, ketika salju harus dikeruk dengan mobil khusus, saat pemerintah setempat sampai harus menaburkan garam di jalanan sehari sebelum diperkirakan turun salju, juga tahu bagaimana yang namanya storm yang sampai harus membuat sekolah dan perkantoran mendadak harus diliburkan karena cuaca terlalu buruk sehingga tidak ada transportasi publik. Jadinya saya masih bisa sedikit mengerem kehebohan saya menyambut salju tipis-tipis ala United Kingdom (UK).

“Orang itu kalau nggak pernah tahu, baru pertama kali lihat, mesti heboh,” sambung Pakne Krucils satu kali. “Sama saja kayak orang-orang Indonesia yang baru nyampai di negara maju, kalau pulang ke Indonesia mesti yang diceritakan dari negara maju ya yang bagus-bagusnya saja… Indonesia jadi kelihatan jelek banget setelah setahun dua tahun hidup di negara maju…”

Saya melengos. Pura-pura gak denger. Soalnya pernah berada di fase itu…. wkwkwk… Sekarang terpaksa sudah move on… Lha soalnya sering diceramahi, kalau perilaku semacam itu bukanlah keren tetapi justru zangat memaloekan di mata suami dan kalangan intelektual sepertinya.

September lalu, kami sekeluarga ikut gathering Keluarga Islam Indonesia di Britania Raya (gathering Kibar) yang diselenggarakan di Southampton. Salah satu sambutan disampaikan oleh Bapak Abram Perdana, PhD; senior analis di Renewable Energy System. Alumnus Chalmers University of Technology Swedia yang sekarang bermukim di Newcastle ini menyampaikan pesan kurang lebih, “Hendaknya teman-teman yang hadir di Kibar bisa menyikapi UK secara bijaksana… Biasanya kalau baru datang itu, semua yang di UK kelihatannya bagus, ngga ada jeleknya… Dan sebaliknya semua yang dari Indonesia jadi kelihatan jelek ngga ada bagusnya…”

Terus terang saya agak curiga jangan-jangan sambutan Pak Abram ini pesanan dari Pakne Krucils secara mungkin saya kadang kelakuannya demikian wkwkwk… Tapi saya lupa nanya suami. Lagipula waktu itu tempat duduk kami di lantai dua di Medina Mosque terpisah jauh.

Tapi begitulah. Tahun lalu ketika saya memposting kurikulum pendidikan 0-5 tahun di Inggris, sebagian teman mengatakan saya sudah silau dengan Barat dan menganggap kurikulum Barat lebih baik daripada kurikulum pendidikan di Indonesia. Yang dibanggakan tentu saja kurikulum sekolah-sekolah Islam terpadu, dengan target-target semacam lulus TK sudah hafal 30 juz.

Terus ketika saya posting kebijakan kresek berbayar di UK, yang dikritik di Indonesia. Wah, kebanjiran protes lagi. Katanya saya sudah tidak pro rakyat miskin karena mendukung kebijakan kresek berbayar. Ya sudahlah.

Ternyata obyektif itu sulit. Dan adil itu susah. Untuk men-judge, dan/atau mengambil keputusan yang benar dan adil, kita harus tahu banyak. Kalau tahunya cuma sedikit-sedikit akhirnya jadi gampang heboh. Sama seperti kalau nggak pernah tahu salju, lihat salju tipis-tipis pun sudah pengen selfie dan upload photo… hahaha…

Suami saya punya perumpamaan, “Orang kalau nggak pernah tahu memang biasanya kepengen. Seperti jomblo, pengen nikah. Padahal nikah it ya cuma gitugitu saja. Atau anak yang belum sekolah. Semangat banget pengen sekolah. Setelah waktunya sekolah, malah males pergi ke sekolah..”

Begitu pun kalau kita tidak pernah tinggal di negara maju. Melihat foto-foto dan cerita-cerita teman yang tinggal di negara maju, semua jadi bagus.
Satu ketika seorang teman mengomentari posting saya bertanya, “Di Inggris itu semua kelihatan indah, ya, Mbak…”
Saya reply, “Ya iyalah… Lha wong aku postingnya yang bagus-bagus… Yang kuceritakan ya bagian yang indah-indah… Ya jelek-jelek ngga tak posting… Hahaha…”

Kemaren akhirnya saya selesai nonton rekaman debat cagub DKI. Dari 3 kandidat, saya bisa memahami mengapa banyak muslim mendukung Pak Ahok. Karena target Pak Ahok memang paling bisa diindera; yakni kepuasan otak, perut, dan dompet. Bagi kalangan intelektual yang lama tinggal di negara maju seperti Pakne Krucils dan Pak Abram Perdana, target Pak Ahok ini sangat mudah dipahami. Sebelum tinggal 10 tahun di negara maju, saya mikirnya juga sama seperti Pak Ahok.

Pak Anies Baswedan dan Mas Sandiaga Uno bukan tidak pernah tinggal di negara maju. Tapi kenapa yang ditawarkan bukan sekadar otak-perut-dompet? Malah hal-hal absurd lain semacam iman, dan takwa, moral, akhlak, dan karakter. Sekarang, mana yang lebih mudah dipahami oleh masyarakat Indonesia, janji memenuhi kebutuhan otak (kepuasan intelektual), perut, dan dompet; atau membangun keimanan, ketakwaan, akhlakul karimah, dan menumbuhkan karakter?

Tentu saja, warga Indonesia di Inggris dan negara maju mana pun juga sama. Ada yang prioritasnya adalah otak-perut-dompet seperti Pak Ahok. Tetapi ada pula yang pula yang prioritasnya adalah hal-hal semacam keimanan, ketakwaan, akhlak, dan karakter seperti Pak Anies.

Btw, sudah pasti saya nggak ikut pilkada Jakarta. Soalnya KTP saya Surabaya… Hehe… Tapi ini cuma pengen cerita, kenapa bagi orang-orang seperti saya yang kebutuhan otak-perut-dompet sudah dipenuhi oleh pemerintah Inggris, kok ya masih saja berpartisipasi di berbagai kegiatan pengajian yang targetnya adalah kata-kata klasik meningkatkan iman, takwa, membangun akhlakul karimah, dan doa yang menempati urutan teratas adalah supaya anak-anak jadi anak sholih/sholihah.

Bagi orang-orang tertentu, menjadi orang beriman, bertakwa, berakhlakul karimah, sholih dan sholihah, ini adalah cita-cita utopis. Tidak bisa dicapai. Dikatakan tidak ada indikatornya.

Padahal kalau menurut saya pribadi indikatornya ya sudah jelas. Halal haram. Halal ada wajib, sunnah, makruh, mubah. Haram ya haram. Jadi indikatornya ya keterikatan dengan aturan Islam. Tapi ini susah dipahami kalau memahami rukun iman saja dipandang sebagai meyakini ideologi tertutup, dan menyampaikan eksistensi akhirat-surga-neraka dianggap self fulfilling prophecy alias peramal masa depan yang fasih meramalkan kehidupan setelah dunia fana, yang notabene mereka sendiri belum pernah melihatnya.

Nah, dari rekam jejak Pak Anies dan Mas Sandi kita bisa menilai sejauh mana keterikatan mereka terhadap aturan Islam, dan seberapa besar keberpihakan mereka terhadap upaya penerapan syariah Islam secara menyeluruh. Kalau saya pribadi menilai sih, ya belum ke sana… Belum ada buktinya… Masih berupa janji dalam kampanye cagub…

Dan akhirnya, mau bagaimana pun, sudah jelas dalam debat cagub 12 Januari lalu, juaranya adalah Mbak Ira Koesno…

Colchester, Essex, 15 Januari 2017

 

Advertisements

One thought on “Saya Mikirnya Sama Seperti Pak Ahok… (ODOP Day 12 of 99)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s