Kisah Sepasang Jaket (ODOP Day 8 of 99)

dinara-dara

Sebetulnya saya nggak pernah berniat secara sengaja selalu memakaikan baju kembar ke krucils. Tapi memang ada momen di mana semua pakai baju seragam. Misalnya, lebaran di Indonesia, atau berkesempatan menghadiri resepsi pernikahan kerabat di Indonesia. Eyang Putrinya alias Mama saya, demen banget menyeragamkan seluruh anggota keluarga di event-event semacam itu. Dan sekarang diturunkan ke cucu-cucunya. Berhubung Dinara (6 tahun) dan Dara (2 tahun) adalah cucu perempuan pertama, dan kebetulan selisih umurnya hanya 22 bulan, Mama selalu menjahitkan dan membelikan pakaian yang persis sama untuk keduanya.

Misalnya baju yang sama, kerudung yang sama, aksesori rambut yang sama, mukena (rukuh) yang persis sama warna dan modelnya. Cuma beda ukuran saja. Tanpa sadar kadang saya juga memperlakukan Dinara dan Dara juga begitu. Kalau beli baju baru perempuan, ya harus beli dua.

Konon, selalu menyeragamkan pakaian anak, tidak selalu baik. Bahkan kepada anak kembar sekali pun, katanya sebaiknya kita tidak memberikan pakaian yang serupa, dan tidak memaksa anak-anak selalu memiliki model rambut yang sama. Katanya sih, supaya anak punya identitas diri. Jadi, sejak dini seharusnya diberi kesempatan jati diri dan kepribadiannya masing-masing. Teorinya begitu.

Dalam praktek, kadang justru anak-anaklah yang kepengen bajunya dikembarkan. Berdasarkan pengalaman, di umur-umur Dinara sekarang (2-6 tahun), justru sulit untuk tidak memberikan pakaian yang mirip karena biasanya akan berujung kepada kecemburuan. Akhirnya ya saya pakaikan lagi baju yang sama-sama itu. Selain sebagai upaya menjaga perdamaian di muka bumi, juga hemat waktu karena nggak pake mikir mau memilihkan baju yang mana agar mereka merasa saya berlaku adil.

Beberapa teman keluarga juga cenderung menempuh jalan yang sama. Kalau memberikan hadiah kepada Dinara dan Dara, biasanya mereka akan memberikan dua hadiah misalnya mainan, yang persis sama.

Tapi tentu saja fase semacam ini nggak lama. Sekarang pun di rumah saya sudah nggak memakaikan baju kembar. Soalnya demi penghematan, Dinara pakai baju Fahdiy. Baju bekas Fahdiy turun ke Dinara, ke Dara, bahkan beberapa ke Mahdi. Secara individual, mungkin di usia sekitar 7 tahun anak baru kelihatan jelas identitas dirinya.

Misalnya dalam hal menutup aurat. Dinara mengajukan permintaan untuk pakai kerudung ke sekolah ketika berusia 6 tahun. Sementara sejauh ini Dara kelihatannya baru ikut-ikutan saja. Kalau Dinara konsisten berkerudung dari berangkat sampai pulang sekolah, kerudung Dara jarang awet di kepalanya. Berangkat dipake, pulangnya, kerudung sudah ada di dalam tas.

Begitu pula di acara-acara semacam pengajian. Kalau Dinara mau pakai kerudung dengan kesadaran sendiri dari awal sampai akhir pengajian, maka di tengah-tengah acara biasanya Dara akan bertanya, “Can I take off my krudung?” dan saya selalu membiarkan dia melepas kerudungnya. Biar saja, toh umurnya baru 5 tahun, belum baligh.

“Tapi nanti nggak lama lagi mereka pasti malu disuruh pakai baju kembar, Mbak,” seloroh seorang teman, ketika ketemuan di pengajian. Si Mbak mahasiswa S2 yang masih lajang ini lalu menceritakan pengalamannya, “Soalnya mamaku dulu juga sering banget memakaikan baju kembaran ke aku, kakak perempuanku, dan adik perempuanku. Lama-lama kakakku nggak mau. Terus aku sendiri juga udah mulai punya perasaan, ih ini kenapa sih kok bajunya sama-sama melulu…” katanya sambil tertawa berderai.

“Ya nanti kalau sudah bisa milih bajunya sendiri, ya biar milih sendiri, Mbak,” timpal saya, “Syukur-syukur sekalian bisa ngurusi bajunya sendiri…” sambung saya lagi.

Normalnya, ketika beranjak remaja, anak perempuan akan mulai jelas seleranya dalam berbusana. Apa pun itu, saya dan suami sudah menetapkan batasan, boleh pakai baju apa saja asal memenuhi 2 kriteria; sesuai aturan Islam, dan empan papan alias tahu situasi dan kondisi.

Dan normalnya pula, meski ketika masih anak-anak selalu kepengen baju kembar dengan saudara-saudaranya atau teman-temannya, nanti ketika sudah dewasa biasanya perempuan justru malu kalau bajunya kembaran dengan orang lain. Ya nggak sih? Tentu saja ini di luar peristiwa penting semacam acara keluarga, atau kepanitiaan organisasi, di mana ada peraturan tak tertulis kita musti berseragam.

Tapi di foto ini, jaket Dinara dan Dara yang persis sama itu, secara kebetulan warisan dari orang yang berbeda. Ceritanya, ketika Bu Maharani selesai S3-nya, sebelum kembali ke Indonesia untuk selamanya, beliau menghibahkan baju-baju anak-anaknya ke saya. Salah satunya ya jaket yang dipakai Dara. Nah, ketika Pak Arief selesai S3-nya dan memboyong anak-anaknya pulang ke Indonesia, istrinya mewariskan baju-baju anak ke krucils. Salah satunya adalah jaket yang dipakai Dinara itu.

Kalau melihat jaket mereka berdua, saya jadi suka kangen kepada anak-anak keluarga Indonesia yang sudah pada kembali ke Indonesia. Semoga semuanya menjadi anak-anak yang sehat, pinter, cantik, dan sholihah, dan suatu hari nanti kita bisa ngumpul lagi entah di mana…

Colchester, Essex, 10 Januari 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s