Antara Malang-Massachusetts, Setelah 10 Tahun (ODOP Day 5 of 99)

manten

(Kalo 10 tahun lalu bisa duduk berdampingan, setelah 10 tahun kian nyata jarak yang membentang di antara kita…)

Namanya Misirah. Umurnya mungkin sama dengan Mama saya, namun terlihat jauh lebih tua. Beliau asisten rumah tangga kami. Kami sekeluarga memanggilnya Yu Mis, singkatan dari Mbakyu Mis. Ia berasal dari sebuah desa entah di mana di Pacitan.

Setelah bayi lelakinya lahir, suaminya pamitan transmigrasi ke luar Jawa. Lantas tidak pernah kembali lagi. Yu Mis bekerja jadi ART di berbagai keluarga sampai terdampar di keluarga kami sampai sekarang. Baby-nya tinggal bersama Sang Nenek di desa.

“Sejak Pak SBY jadi Presiden, jalan-jalan di Pacitan banyak diperbaiki, Bu,” kisahnya satu kali kepada Mama.

Yu Mis tidak bisa membaca dan menulis. Namun mengenal angka. Karenanya ia bisa menelpon, tetapi tak bisa mengirimkan SMS.

Yu Mis memiliki perspektif yang menurut saya kadang tidak biasa. Misalnya, ketika ramai-ramainya reformasi di tahun 1997-1998. Beberapa tokoh pro reformasi sering muncul di televisi. Yu Mis jadi ikut mengenal beberapa tokoh proreformasi seperti Gus Dur, Megawati, dan Amien Rais.

Satu ketika, saya nonton TV berdua dengan Yu Mis. Saya lupa acaranya, tapi salah satu tokohnya adalah Amien Rais. Di tengah-tengah acara, Yu Mis melontarkan pernyataan, “Pak Amien Rais itu seharusnya kalau muncul di TV, istrinya diganti saja!”

“Lho, kenapa, Yu?” tanya saya yang waktu itu masih berstatus mahasiswa baru.
“Lha Pak Amien Rais ganteng gitu, kok istrinya cuma gitu thok…” timpal Yu Mis sambil merengut.
Gantian saya yang tertegun. Pak Amien Rais ganteng? Dilihat dari sebelah maaannnaaaa??? Dan eniwei, isrinya Pak Amien Rais ini juga yang mana, siapa namanya, saya malah nggak tahu.

Tapi lambat laun saya jadi paham, masyarakat menilai keserasian pasangan suami istri dari banyak sisi. Laki-laki yang guanteng, seharusnya istrinya juga yang ayu. Dan sebaliknya.

Kita memahami, ini tentu saja bukan hal yang diajarkan menurut agama Islam. Tapi herannya, sampai hari ini saya juga masih saja selalu terheran-heran kepada diri sendiri yang masih sering terheran-heran kepada orang lain yang berkomentar terheran-heran, “Lakinya cuuuakeepp, kok ceweknya gitu doang?”
Atau sebaliknya, “Istrinya cuantik, puinter, S3-nya aja di YuKe (UK, United Kingdom), kok suaminya gitugitu aja?”

“Lho, jadi istrinya Mas X yang PhD Candidate itu, cuma tamatan SMA, toohhh? Ya Allaaaahhh… Kok bisaaaa???”
“Lah istrinya aja dokter spesialis, masa suaminya cuma lulusan kampus yang kalo di-google namanya gak keluar? Ya Allaaahhhh….. Kok bisaaaa???

Ya bisa, lah. Kenapa enggak? Namapun udah jodoh. Mau bagaimana lagi?

“Lha terus Mbak Fira sendiri, kok bisa kenal sama suami gimana ceritanya? Satu sekolah waktu SMA?”
“Tidak, Bu…”
“Mbak kuliah di ITB?”
“Tidak, Bu…”
“Kuliah di Belanda?”
“Tidak, Bu…”
“Kuliah di Amerika?”
“Tidak, Bu…”
“Lha terus gimana dulu kenalnya?”
“Iya, itu soalnya…”
“Khan dulu kuliahnya cuma di Malang itu, ya?”
“Eh, iya, Bu…”
“Suaminya lulusan UMass khan…”
“Eh, ya post docnya di UMass, Bu…”
“Lha iya terus dulu kenalnya gimana?”

Mungkin kalau ditanya di zaman sekarang, saya akan menjawab, “Maaf, Bu, Hayati lelah, Bu…”

Yang jelas sih kami dulu menikah dalam keadaan tidak saling jatuh cinta. Ngga ada long distance relationship, juga. Tanpa pacaran. Antara Malang-Massachusetts, kami merencanakan untuk menikah. Bukan merencanakan untuk jatuh cinta. Cinta itu diminta kepada Tuhan, diusahakan kehadirannya. Seperti benih yang ditanam. Dan setelah 10 tahun pun masih harus dipupuk, dirawat, dijaga, didoakan, dan dimintakan doa kepada orang-orang yang sholih.

“Kenapa dulu nggak cari istri yang sekolahnya tinggi, lulusan Belanda atau Amerika, gitu?” tanya saya iseng suatu kali. Jawabannya, “Nggak nemu yang cocok.”
“Rewel, sih,” timpal saya lagi.
“Makanya, aku mau nulis buku soal tips mencari jodoh buat para jejaka lajang,” sambung suami, “Supaya ngga ada yang tertipu kayak aku…”
“Ketipu gimana?”
“Pilih-pilih tebu, sudah pilih-pilih akhirnya dapetnya orang yang gak pernah dandan… dan ndownload film aja ngga bisa…”
“Hahaha…”
“Bayanganku dulu kalau udah nikah dipijeti istri, dikasih makan enak-enak… Di rumah tinggal nyambung kerjaan di kantor…”
“Sanalah vaccuum, nyapu, ngepel, nyetrika, nguras bath tub, ngelapi kompor, dengerin hafalannya Fahdiy, benerin makhraj-nya, cek Iqra’ Dinara sampe di mana, ajari anak-anak itu bacaan sholat dan wudhu, ajak mereka sholat sampai mereka bisa sholat tanpa dirayu-rayu, temani mereka kerjakan PR-nya setiap hari… Kalo udah itu semua, nanti tak pijeti dan tak kasih makan yang enak-enak…”

Demikianlah. Saya masih berstatus mahasiswa mungkin tingkat 2 ketika sebuah stasiun TV swasta menampilkan wawancara siaran langsung bertema semacam Rasanya Menjadi Anak Tokoh Politik, menghadirkan Ahmad Hanafi Rais sebagai putra Ketua MPR RI, Inayah Wulandari Wahid yang saat itu putri Presien RI, dan Halida Nuriah Hatta, istri proklamator dan wapres pertama RI. Sekarang kita bisa melihat Hanafi Rais dan saudara-saudaranya jadi apa, Inayah Wahid dan saudara-saudaranya jadi bagaimana, dan Halida Hatta dan kakak-kakaknya jadi siapa.

Sekarang saya bisa memahami mengapa Bapak Prof. Dr. Amien Rais, MA; bisa langgeng dengan Ibu Kusnasriyati Sri Rahayu, yang ‘casing’-nya begitu-begitu saja.

Untuk 3 Januari 2007, sampai 3 Januari 2017, dan hingga 3 Januari 2107; semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah dan rahmah dunia akhirat. Al Faatihah.

Colchester, Essex, 6 Januari 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s