All African people are bad!!! All of them!!! (ODOP Day 4 of 99)

3-fira

Beberapa pekan lalu, saya jemput Dinara ke sekolah satu jam lebih akhir karena dia ada cookery club. Di pintu resepsionis, ketemu emaknya Ebube, salah satu teman sekelasnya Dinara yang keturunan Afrika. Ibunya Ebube bertubuh gemuk besar dan selalu mendorong kereta bayi, adik perempuan Ebube yang berusia sekitar 1 tahun.

Ternyata oleh Bu Guru (lupa namanya) kami berdua disuruh masuk ke sebuah ruangan.
“I need to talk to you both because we’ve got an accident today,” kata Bu Guru.

Meski saya sudah melihat Dinara yang nampak sehat-sehat saja, jantung langsung deg-degan gak karuan. Accident? Kecelakaan? Haduh, anakku kenapa? Dicelakai anak lain atau mencelakakan anak lain?

Setelah menutup pintu, Bu Guru memandang saya dan ibunya Ebube, “There was an accident in the class today. Ada anak yang berkata, African people are bad kepada anak-anak keturunan Afrika…”

Mulut saya langsung menganga. Saya hampir teriak bilang, “WHAT???? That’s racist!!!”
Tapi sebelum kelepasan ngomong macem-macem, saya melirik ke kiri, melihat emaknya Ebube. Emaknya Ebube memasang wajah kaku. Tanpa senyum. Tanpa ekspresi. Tanpa komentar.

Saya menutup mulut dan mencoba diam.

“Kami sudah berbicara dengan anak tersebut. Kami sudah berbicara dengan orang tuanya bahwa sekolah tidak memberikan toleransi terhadap tindakan-tindakan semacam itu,” jelas Bu Guru, “Kepala Sekolah sudah memberikan penjelasan kepada anak-anak tentang hal ini. Tetapi jika ada yang ingin Anda tanyakan atau Anda sampaikan, Anda bisa menghubungi kami, saya, guru kelas, atau kepala sekolah.”

Bu Guru lantas melihat saya, “Saya tahu Dinara bukan keturunan Afrika, tapi dia sedang berada di sana bersama teman-temannya…”

Saya menarik napas panjang. Dua tahun terakhir, teman dekat Dinara adalah Monah, yang keturunan Afrika. Bapaknya Monah kerja di rumah sakit di bagian kesehatan masyarakat. Ibunya sedang ngambil S2 jurusan yang sama.

Monah dan Ebube satu gereja. Dan entah bagaimana akhirnya Dinara nampaknya lebih dekat dengan gadis-gadis berkulit eksotis ini; Monah, Ebube, Chanice, Jada, dan beberapa lainnya lupa namanya; dibandingkan dengan teman-temannya yang white British.

Apa Dinara memilih karena warna kulit? Saya yakin tidak. Karena sebelum Monah, teman dekatnya adalah Evie-Mae, yang white British. Evie-Mae pindah ke kota lain, mengikuti keluarganya.

Kelihatannya Dinara memilih teman dekat gadis-gadis yang karakternya sama sepertinya; banyak omong, dan secara kemampuan akademik kurang lebih sama seperti dirinya. Ini juga yang membuat Dinara klik dengan Alana yang white British, meski emaknya Alana gak pernah mau melirik, apalagi kasih senyum, sama saya. Saya sih no problem. Gak masalah buat gue.

Di pintu keluar, saya ngomong ke emaknya Ebube, “To be honest, this is not our first time as well… Hampir setiap tahun selalu saja ada yang mengatakan hal-hal semacam itu di kelas anak-anak… Dua tahun lalu di kelas ada yang bilang ke Fahdiy, ‘I don’t want to play with black kid!'”

“The West is changing,” kata emaknya Ebube, “Kamu lihat khan apa yang terjadi di US?”
Ya, media sedang ramai memberitakan kemenangan Donald Trump atas Hillary Clinton.

Dalam perjalanan pulang, saya menginterogasi Dinara, “Mbak, siapa temanmu yang bilang African people are bad?”
“Mark (bukan nama sebenarnya),” kata Si Gadis.
“Dia bilang gimana?”
“All African people are bad! All of them!”
“Whaaaatttttttt….. That’s unacceptable!!! That’s very rude!!! Terus gurumu bilang apa?”
“Mr Turnbull (kepsek) talked to us.”
“Di depan kelas?”
“No, in the staff room.”
“Inget ya, gak boleh bilang gitu… Itu seperti bilang ‘All Indonesian people are bad, all of them. Atau sama juga seperti bilang all muslim are bad, all of them’. Kita ngga boleh bilang begitu. Itu jahat,” kata saya.

Malamnya ketika semua pekerjaan rumahtangga sudah selesai, menjelang tidur saya ngobrol dengan Pak Dosen, “Kalau di university ngga ada ya isu rasisme seperti di sekolah anak-anak?”
“Ah, kata siapa,” kata Doi, “Tapi ya memang bentuknya berbeda. Setiap tahun university selalu membedakan dan membandingkan students white British dengan yang BAME dalam evaluasinya…”
BAME adalah singkatan dari Black, Asian, and other Minority Ethnic.
“Gimana evauasinya?”
“Ya dipisah antara nilai students yang white British dengan yang BAME. Tahun ini agak jadi masalah karena ternyata nilai-nilai students BAME rata-rata di bawah yang white British. Kalau sudah begitu, kampus akan mengecek apakah proses belajar mengajar dan penilaian dilakukan secara adil atau ada unsur rasis di dalamnya…”

Saya cuma bisa tarik napas. Inget sama Indonesia. Juga inget PR besar mendidik anak supaya punya pola pikir dan pola sikap Islam yang benar. Rasisme tidak hanya bertentangan dengan peraturan di UK dan Indonesia, tetapi juga diharamkan di dalam ajaran Islam.

Colchester, Essex, 5 Januari 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s